-
PADANG, sumbarsatu.com — Kesepian dan ingatan menjadi landasan penciptaan Sepi dalam Tari, karya koreografer Singapura Norisham Osman bersama The Kaizen M.D. (Multidisciplinary) Collective yang tampil dalam KABA Festival XII 2026, Minggu (1/11/2026). Karya ini terinspirasi oleh perjalanan dan pemikiran maestro tari Minangkabau, Ery Mefri, yang turut membentuk perjalanan artistik Norisham.
KABA Festival XII 2026 mengusung tema Tribute untuk Sang Maestro Ery Mefri dan berlangsung pada 1–2 November 2026 di Ladang Tari Nan Jombang, Balai Baru, Padang, Sumatera Barat. Festival yang mendapat dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation ini menghadirkan empat pertunjukan koreografi dari seniman Indonesia dan Singapura, pemutaran film dokumentar serta sesi Bincang Sang Maestro Ery Mefri untuk membicarakan perjalanan dan pemikiran artistik sang maestro.
Hubungan Norisham dengan Ery Mefri terbangun melalui sejumlah kunjungan ke Ladang Tari Nan Jombang untuk mendalami praktik koreografi bersama sang maestro. Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan pandangan Ery Mefri tentang tubuh, tradisi, dan kehidupan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari penciptaan tari.
"Ery Mefri menjadi salah satu sosok yang mendorong Norisham mendirikan The Kaizen M.D. Collective di Singapura," kata Norisham Osman.

Norisham Osman
Melalui Sepi dalam Tari, Norisham mengolah tubuh, gerak, dan keheningan sebagai medium untuk menyampaikan pengalaman yang sulit diungkapkan melalui kata-kata. Langkah, hentakan, dan jeda menjadi bagian dari pencarian makna di antara sesuatu yang masih hadir dan sesuatu yang telah berlalu.
Dalam karya ini, kesepian tidak sekadar dimaknai sebagai ketiadaan atau keterasingan. Kesepian menjadi ruang untuk mendengarkan pengalaman yang kerap terabaikan di tengah riuhnya kehidupan.
Tubuh tidak hanya menyampaikan gagasan kepada penonton, tetapi juga menyimpan pengalaman dan merawat ingatan. Gerak dan diam kemudian membentuk bahasa yang menghadirkan kembali jejak perjumpaan serta pengalaman hidup.
Kehadiran Norisham dalam festival ini memiliki arti personal sekaligus artistik. Ia membawa karya yang tumbuh dari perjalanan kreatifnya sendiri, sekaligus memperlihatkan bagaimana pengetahuan yang diperoleh melalui perjumpaan dengan seorang maestro dapat berkembang dalam lingkungan budaya yang berbeda.
"Pengalaman di Ladang Tari Nan Jombang tidak berhenti sebagai proses belajar, tetapi menemukan penafsiran baru dalam praktik artistiknya di Singapura," tambahnya.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa hubungan antarseniman dapat melampaui batas geografis. Pengetahuan yang dibagikan melalui perjumpaan dan proses pembelajaran dapat terus hidup, menginspirasi penciptaan karya baru, serta mendorong lahirnya ruang-ruang kreatif di tempat lain.
Dalam penghormatan kepada Ery Mefri, Sepi dalam Tari menghadirkan pemahaman bahwa warisan seorang maestro tidak hanya tersimpan dalam koreografi atau pertunjukan yang pernah diciptakannya. Warisan itu juga hidup dalam gagasan yang diteruskan dan keberanian seniman lain untuk menemukan bahasa artistiknya sendiri.
Melalui karya ini, Norisham mengajak penonton menyimak ingatan dan pengalaman yang tetap bergerak dalam tubuh manusia. Kesepian bukan semata-mata keadaan ketika seseorang merasa sendiri, melainkan ruang tempat kenangan, pengetahuan, dan warisan artistik menemukan makna baru. ssc/mn