Simposium Indarung I Rumuskan Masa Depan Pabrik Semen Tertua di Asia Tenggara

MINGGU, 21 JUNI 2026

Sabtu, 20/06/2026 05:59 WIB
-

-

Padang, sumbarsatu.com--Pabrik Indarung I memang hanya beroperasi selama 89 tahun sejak didirikan pada 1910. Namun, kawasan seluas 4,9 hektare ini kini menjadi artefak penting dalam sejarah industri semen di Asia Tenggara.

Sebagai pabrik semen pertama di Indonesia dan salah satu yang tertua di kawasan, Indarung I menyimpan nilai sejarah, teknologi, dan kebudayaan yang sangat penting.

Sayangnya, seiring waktu, bangunan pabrik terus mengalami degradasi fisik. Struktur yang mulai berkarat, ditumbuhi lumut, serta ancaman pencurian dan vandalisme menyebabkan penyusutan nilai material maupun historis situs tersebut. Padahal, signifikansi Indarung I telah mendapat pengakuan nasional dan internasional melalui statusnya sebagai Cagar Budaya serta bagian dari Memory of the World (MoW) tingkat Asia Pasifik yang ditetapkan UNESCO.

Meski demikian, Pabrik Indarung I belum sepenuhnya berkembang menjadi ruang budaya yang hidup dan dinamis bagi masyarakat.

Sejak 2018, Indarung Heritage Society (IHS) atau Masyarakat Budaya Indarung terus berupaya mengaktivasi kawasan ini melalui berbagai kegiatan kebudayaan, seperti lokakarya, diskusi, pameran, hingga festival.

“Sekarang kami berada pada fase kedua pembangunan ekosistem Indarung I. Intinya, kawasan ini sudah semestinya memiliki konsep pengelolaan berkelanjutan dan program yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat,” ujar Ketua IHS, M. Aidil Usman, Jumat (19/6/2026) di Wisma 5 PT Semen Padang.

Menurut Aidil, terdapat kebutuhan mendesak untuk memperkuat kesadaran pelestarian sekaligus menghadirkan interpretasi baru atas warisan industri tersebut agar lebih hidup dan relevan bagi masyarakat kontemporer.

Dengan statusnya sebagai cagar budaya dan kekayaan historis yang dimiliki, Indarung I dinilai sangat potensial berkembang menjadi salah satu ruang budaya penting di Indonesia pada masa mendatang.

Kunjungan Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, pada 12 Maret lalu ke Pabrik Indarung I. (Foto: dok. IHS)

Atas dasar itu, IHS menyelenggarakan Simposium Indarung I sebagai forum untuk merumuskan cetak biru penyelamatan, pelestarian, dan pendayagunaan kawasan tersebut sebagai ruang publik kultural yang berkelanjutan. Kegiatan ini terselenggara berkat dukungan program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah III Sumatera Barat.

Mengusung tema “Masa Depan Cagar Budaya Pabrik Indarung I”, simposium akan menghadirkan empat sesi diskusi yang berlangsung paralel dalam dua waktu pelaksanaan.

Sesi pertama membahas kondisi spasial dan potensi pengembangan kawasan Pabrik Indarung I dengan menghadirkan Dr. Jonny Wongso, S.T., M.T., IAI, dosen Arsitektur Universitas Bung Hatta, serta Dr. Ir. Feri Arlius, M.Sc., Direktur Sarana dan Prasarana Kementerian Kebudayaan RI.

Sesi kedua akan mengulas status kebendaan pabrik, mitigasi kerusakan, serta kebijakan pelindungan secara hukum dan arkeologis. Diskusi ini menghadirkan Dr. Agus Widiatmoko, S.S., M.M., Direktur Warisan Budaya Kementerian Kebudayaan RI, bersama Alfa Noranda, S.S., M.A., dosen Arkeologi Universitas Andalas.

Pada sesi ketiga, M. Aidil Usman akan berdiskusi bersama Abdul Hakim, dosen Filsafat Ilmu Universitas Nahdlatul Ulama Jakarta, dan Dr. Hari Setyawan, S.S., M.T., dari Badan Pengelola Borobudur. Ketiganya akan membahas praktik pengelolaan kawasan cagar budaya skala besar guna merumuskan model manajemen, pendanaan, dan kemitraan yang relevan bagi pengembangan Indarung I.

Sementara itu, sesi keempat menghadirkan S. Metron Masdison, pengurus IHS, dan Donny Eros, M.A., dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, yang akan menelaah pengalaman kolaboratif dalam berbagai aktivitas budaya yang telah berlangsung di kawasan Indarung I selama beberapa tahun terakhir.

Simposium ini juga direncanakan menghadirkan Menteri Kebudayaan RI sebagai keynote speaker. Kehadiran Menteri diharapkan dapat mempertegas visi dan komitmen pemerintah dalam merespons krisis fisik yang mengancam cagar budaya berstatus Memory of the World, khususnya Pabrik Indarung I.

Selain itu, Menteri Kebudayaan diharapkan memberikan arahan strategis mengenai transformasi kawasan tersebut menjadi ruang kebudayaan nasional yang relevan bagi masa depan, sekaligus mendorong terbentuknya ekosistem pelestarian yang kolaboratif antara pemerintah, BUMN, aparat keamanan, pemerintah daerah, komunitas, dan masyarakat.

“Keseluruhan rangkaian simposium akan berlangsung pada Minggu, 21 Juni 2026, di Club House PT Semen Padang,” ujar Manajer Program, Adi Osman.

Peserta kegiatan hadir berdasarkan undangan dan berasal dari berbagai kalangan, mulai dari unsur pemerintah daerah, lembaga kebudayaan, aparat keamanan, tokoh masyarakat, organisasi pemuda, pemerintahan nagari, hingga komunitas seni dan budaya di Sumatera Barat.

“Peserta akan dibagi ke dalam masing-masing sesi diskusi agar pembahasan dapat berlangsung lebih fokus dan produktif,” kata Adi.ssc/rel



BACA JUGA