-
Jakarta, sumbarsatu.com — Mundurnya Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) memunculkan spekulasi mengenai sosok yang akan memimpin bank sentral ke depan. Sejumlah ekonom menilai, pengganti Perry tidak hanya harus memiliki pengalaman dan kapasitas teknis, tetapi juga mampu menjaga independensi BI di tengah dinamika ekonomi dan politik.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi sebelumnya mengungkapkan bahwa sosok Gubernur BI yang diharapkan pemerintah adalah figur yang memiliki semangat "merah putih". Namun, ia tidak menjelaskan lebih lanjut makna dari kriteria tersebut maupun siapa kandidat yang tengah dipertimbangkan.
Ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli, mengatakan Gubernur BI idealnya merupakan sosok yang berpengalaman, berani, dan jujur dalam menyampaikan kondisi perekonomian kepada publik.
Menurut Dipo, gubernur bank sentral harus mampu berbicara apa adanya, termasuk ketika nilai tukar rupiah berada di bawah tekanan. Ia menegaskan bahwa penguatan rupiah tidak dapat dibebankan kepada BI semata, melainkan memerlukan sinergi kebijakan pemerintah, otoritas fiskal, dan pelaku ekonomi.
Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafni, menilai sosok Gubernur BI harus memiliki kredibilitas tinggi dan memperoleh kepercayaan pasar. Menurutnya, kepercayaan investor merupakan modal penting dalam menjaga stabilitas sektor keuangan.
Rahma menyebut sejumlah nama yang dinilai memiliki kapasitas memimpin BI, yakni Destry Damayanti, Muliaman D. Hadad, dan Aida S. Budiman.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menekankan pentingnya independensi bank sentral. Menurutnya, pengganti Perry harus bebas dari afiliasi politik dan mampu mengambil kebijakan moneter tanpa intervensi.
"Yang dibutuhkan adalah figur yang tegas menjaga independensi BI, kuat menghadapi tekanan politik, sehingga kebijakan moneternya benar-benar diarahkan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah," ujarnya.
Bhima menambahkan, kandidat dari kalangan internal BI dinilai memiliki keunggulan karena telah memahami mekanisme kerja, arah kebijakan, dan tantangan yang dihadapi bank sentral.
BI Tegaskan Tetap Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Di tengah proses pergantian kepemimpinan, Pejabat Gubernur Sementara BI, Destry Damayanti, menepis anggapan bahwa bank sentral hanya berfokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi.
Menurut Destry, BI tetap memberikan perhatian besar terhadap pertumbuhan ekonomi melalui berbagai instrumen kebijakan yang dimiliki.
Ia menjelaskan, selain kebijakan moneter, BI juga memiliki instrumen makroprudensial dan sistem pembayaran yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong aktivitas ekonomi meski suku bunga berada pada level relatif tinggi.
Salah satu kebijakan yang terus dioptimalkan adalah kebijakan makroprudensial untuk meningkatkan fungsi intermediasi perbankan sehingga penyaluran kredit kepada sektor riil dapat terus tumbuh.
Pernyataan tersebut muncul setelah BI mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) pada level 5,75 persen dalam rapat dewan gubernur terakhir. Sebelumnya, BI telah menaikkan BI Rate secara bertahap sejak Mei 2026 sebagai respons terhadap tekanan eksternal dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai keputusan mempertahankan BI Rate merupakan langkah yang tepat untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas rupiah dan pertumbuhan ekonomi.
Ia memperkirakan BI Rate akan bertahan di level 5,75 persen hingga akhir 2026. Namun, apabila tekanan global meningkat secara signifikan, suku bunga acuan berpotensi kembali dinaikkan hingga sekitar 6,50 persen.
Senada dengan itu, Ekonom Makro Bank BTN, Myrdal Gunarto, mengatakan keputusan BI mempertahankan suku bunga sesuai dengan ekspektasi pasar.
Menurutnya, kepastian arah kebijakan moneter memberikan sentimen positif bagi perekonomian nasional dan membuka ruang bagi sektor riil untuk kembali meningkatkan aktivitas investasi maupun ekspansi usaha.
Pergantian kepemimpinan Bank Indonesia kini menjadi perhatian pelaku pasar. Selain menunggu keputusan pemerintah mengenai calon gubernur baru, investor juga mencermati arah kebijakan moneter yang akan ditempuh BI dalam menghadapi tantangan ekonomi global serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi.ssc/mn