Teater Sakata Pentaskan Kisah Trauma Kekerasan Seksual di Festival Nan Jombang Tanggal 3

Sabtu, 01/08/2026 23:51 WIB
-

-

Padang, sumbarsatu.com — Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi setiap anak. Namun, bagaimana jika justru di sanalah luka pertama tercipta? Pertanyaan itulah yang menjadi titik tolak pertunjukan "Yang Tumbuh dan Yang Tak Pernah Lahir" yang akan dipentaskan Teater Sakata Padang Panjang dengan sutradara Tya Setiawati dalam Festival Nan Jombang Tanggal 3, Senin (3/8/2026) pukul 20.00 WIB di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang, Balai Baru, Padang.

“Pertunjukan ini tidak sekadar menghadirkan sebuah kisah dramatik, tetapi mengajak penonton memasuki ruang refleksi mengenai trauma kekerasan seksual terhadap anak yang kerap tersembunyi di balik kehidupan keluarga yang tampak baik-baik saja,” kata Tya Setiawati, Minggu (2/8/2026).

Karya teater ini  merupakan adaptasi dari cerpen "Seorang Anak Sebaiknya Lahir di Rumah yang Hangat" karya Yetti A.KA. Menurut Tya Setiawati, dalam kerja pertunjukan, proses adaptasi dilakukan bukan sekadar memindahkan teks sastra ke atas panggung, melainkan menerjemahkannya menjadi bahasa teater melalui ruang, waktu, tubuh, dan aksi dramatik sehingga melahirkan sebuah karya baru dengan tafsir yang berbeda.

Tokoh utama dalam pertunjukan ini adalah Minami, seorang perempuan yang hidup dengan trauma akibat kekerasan seksual yang dialaminya sejak masa kanak-kanak. Ketakutannya mewariskan luka yang sama kepada generasi berikutnya membuat ia dihadapkan pada pilihan hidup yang tidak sederhana.

“Pergulatan batin Minami menjadi gambaran bagaimana trauma dapat membentuk kehidupan seseorang sekaligus menjadi upaya untuk memutus mata rantai kekerasan,” terangnya.

Kekuatan pertunjukan ini bertumpu pada realitas yang terjadi di masyarakat. Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI-PPA) hingga Juli 2025, tercatat 15.615 kasus kekerasan, dengan 6.999 kasus di antaranya merupakan kekerasan seksual, menjadikannya bentuk kekerasan yang paling banyak terjadi.

Mayoritas korban merupakan anak berusia 13–17 tahun, sedangkan lokasi kejadian terbanyak justru berada di lingkungan rumah tangga, yakni 9.956 kasus, tempat yang seharusnya menjadi ruang paling aman bagi anak-anak.

Catatan tersebut juga menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku merupakan orang-orang yang dekat dengan korban, mulai dari anggota keluarga, kerabat, tetangga, hingga oknum pendidik. Fenomena itu disebut sebagai gunung es, karena jumlah kasus yang terungkap diyakini masih jauh lebih kecil dibandingkan kenyataan yang terjadi.

Trauma akibat kekerasan seksual terhadap anak tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga berdampak panjang terhadap perkembangan psikologis, cara pandang terhadap diri sendiri, hingga kemampuan membangun kepercayaan kepada orang lain.

Pertunjukan ini digarap oleh tim kreatif Teater Sakata dengan Enrico Alamo sebagai Manajer Program sekaligus Penata Skenografi, Tya Setiawati sebagai sutradara, dibantu Ghea Nabila Athifa sebagai asisten sutradara. Tata musik dipercayakan kepada Julyani Mai Rifa'i, dengan iringan musik oleh Jenny Pinta Amanda Hulu. Tata rias dikerjakan Zahwa Alya Pitri, kostum oleh Beby Anastasya Putri Efendi, tata cahaya oleh Oky Herliawan, sementara dokumentasi ditangani Dimas Rahardian.

Di atas panggung, pertunjukan diperankan oleh Ghea Nabila Athifa, Yudhistino Ardafi, Zahwa Alya Pitri, Ragil Muad'zin, Beby Anastasya Putri Efendi, dan Gadis Safiya Namora. Melalui permainan para aktor, Teater Sakata berupaya menghadirkan pengalaman emosional yang tidak hanya menyentuh, tetapi juga menggugah kesadaran bahwa kekerasan seksual terhadap anak bukan sekadar persoalan individu, melainkan persoalan sosial yang menuntut keberanian untuk dibicarakan.

Usai pertunjukan, penonton akan diajak mengikuti Bincang Karya yang dimoderatori Fauzul El Nurca. Diskusi tersebut menjadi ruang untuk membedah proses kreatif sekaligus memperluas percakapan mengenai isu kekerasan seksual terhadap anak dan pentingnya menghadirkan ruang aman bagi korban.

Menurut Angga Mefri, Kurator dan  Direktur Festival. melalui pementasan teater "Yang Tumbuh dan Yang Tak Pernah Lahir", Teater Sakata Padang Panjang menunjukkan bahwa seni pertunjukan tidak hanya berfungsi sebagai medium estetika, tetapi juga sebagai ruang advokasi, refleksi, dan pendidikan publik.

“Di tengah masih tingginya angka kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia, pertunjukan ini menjadi pengingat bahwa luka yang tersembunyi di balik dinding rumah tidak boleh terus dibiarkan menjadi sunyi,” kata Angga Mefri.

Pertunjukan ini merupakan bagian dari Festival Nan Jombang Tanggal 3, agenda seni pertunjukan bulanan yang secara konsisten diselenggarakan Nan Jombang Dance Company setiap tanggal 3 sejak lebih dari satu dekade lalu.

Festival ini telah berkembang menjadi salah satu ruang apresiasi seni pertunjukan yang penting di Sumatera Barat, menghadirkan karya-karya tari, teater, musik, hingga pertunjukan lintas disiplin dari seniman lokal maupun nasional.

Melalui program ini, Nan Jombang Dance Company berupaya memperluas akses masyarakat terhadap seni sekaligus membangun ruang dialog antara seniman dan publik melalui sesi diskusi seusai pertunjukan.

Seluruh rangkaian Festival Nan Jombang Tanggal 3 didukung penuh oleh Bakti Budaya Djarum Foundation sebagai bagian dari komitmen mendukung keberlanjutan ekosistem seni pertunjukan di Indonesia. Sejalan dengan semangat tersebut, pertunjukan  dapat disaksikan secara gratis dan terbuka untuk umum, sehingga masyarakat dapat menikmati karya-karya berkualitas tanpa dipungut biaya. ssc/mn



BACA JUGA