Sastrawan Darman Moenir (kiri) bersama dengan Buya Masoed Abidin
Padang, sumbarsatu.com—Berita duka datang dari Padang. Sastrawan nasional Darman Moenir meninggal dunia Selasa 30 Juli 2019 pukul 14.40 di Rumah Sakit Umum M Djamil Padang dalam usia 67 tahun.
Menurut Tahtiha Darman Moenir, anak dari penulis novel Bako ini, orang tuanya berpulang ke Rahmatullah Selasa 30 Juli 2019 pukul 14.40 di RSUP M Djamil Padang.
“Kami sekeluarga mohon dan mintaa dimaafkan atas semua kesalahan ayahanda kami selama hidupnya. Ayahanda selama ini banyak berakivitas sosial di tengah masyarakat,” kata Tahtiha, Selasa 30 Juli 2019.
Tahtiha menyebutkan, ayahandanya telah menjalani perawatan intensif di RSUP M Djamil Padang sejak sebulan yang lalu.
Selama hidupnya, Darman Moenir banyak terlibat dalam kerja-kerja kebudayaan dan kesenian baik di Sumatera Barat maupun di nasional. Dalam organisasi kesenian, Darman Moenir pernah menjadi Ketua Dewan Kesenian Padang di era tahun 2000-an dan juga Ketua Komite Sastra di Dewan Kesenian Sumatera Barat.
Darman Moenir dilahirkan di Sawah Tangah, Pariangan, Tanah Datar, Sumatra Barat, 27 Juli 1952.
Dalam menempuh pendidikan, Darman Moenir pernah belajar di Sekolah Seni Rupa Indonesia, tetapi tidak tamat. Lalu, ia pernah kuliah di Sekolah Tinggi Bahasa Asing Prayoga, Jurusan Bahasa Inggris dan ia lanjutkan sejak 1981 di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Bung Hatta, Padang.
Mulai menulis di usia 18 tahun. Karya-karyanya dimuat pada majalah Horison, Titian, Panji Masyarakat, Pertiwi, Kartini, Ulumul Qur’an, Kalam, Kompas, Pelita, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Suara Karya, Media Indonesia, Indonesia Raya, Republika, Berita Minggu (Singapura) dan surat kabar terbitan Padang seperti Haluan, Singgalang, Semangat, Padang Ekspres, Bukittinggi Pos dan lainnya.
Padang 1980 pernah mengikuti Hari Sastra di Ipoh, Malaysia, Asian Writers Conference di Manila, Filipina (1981) dan pertemuan dunia Melayu ’82 di Malaysia (1982), International Writing Program di Iowa City, dan International Visitor Program di Amerika Serikat (10988). Selain bekerja di Museum Negeri Provinsi Sumatra Barat (Pensiun Agustus 2008), Padang, ia juga menjadi seorang Pengasuh dan Pemimpin Produksi di Bumi Teater.
Beberapa sajaknya dimuat di dalam Tonggak 4 (1987), Antologi Puisi Indonesia Modern, Dari Negeri Poci 2(1994), Dari Negeri Poci 3. Cerpen-cerpennya dimuat dalam sebuah antologi Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (1991). Novel Bako memenangkan Hadiah Utama Sayembara Mengarang Roman DKJ 1980.
Kumpulan sajaknya Kenapa Hari Panas Sekali (1975), Tanpa Makna (1977), Novel Gumam (1976), Bako (1983, Pemenang Hadiah Utama Sayembara Roman DKJ 1980), Dendang (1988), Aku, Keluargaku, dan Tetanggaku (1993), Negeri Hujan (1999, Novel Terjemahan "Monsoon Country," Pira Sudham, Thailand), Krit & Sena (2010), Andika Cahaya (2012), dan banyak lagi novel anak-anak yang ditulisnya.Penghargaan
Darman Moenir telah memenangkan beberapa penghargaan, di antaranya Hadiah Utama Sayembara Mengarang Roman DKJ (1980), Pemenang Kedua Sayembara Novel Majalah Kartini (1987), Hadiah Sastra dari Pemerintah Republik Indonesia (1992). SSC/MN