-
Padang, sumbarsatu.com—Kelompok Teater Salapan Padang memanggungkan karya teater berjudul Giransani dalam Festival Nan Jombang Tanggal 3, Rabu (3/6/2026), di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang, Balai Baru, Kota Padang. Naskah Giransani ditulis oleh Widya Husin yang sekaligus bertindak sebagai sutradara pementasan.
Festival Nan Jombang Tanggal 3 yang didukung penuh dari Bakti Budaya Djarum Foundation telah memasuki tahun ke-13 penyelenggaraan. Festival ini merupakan agenda bulanan unggulan Nan Jombang Dance Company selain KABA Festival yang digelar setiap tahun. Nan Jombang sendiri didirikan oleh maestro tari Ery Mefri pada 1983.
Menurut Widya Husin, Giransani lahir dari pembacaan ulang terhadap cerita rakyat Minangkabau Bujang Sambilan yang selama ini lebih dikenal sebagai kisah konflik keluarga yang berujung tragedi.
“Saya tertarik melihat sisi lain dari cerita ini, terutama nasib orang-orang yang berada di tengah konflik dan harus menanggung akibat dari dendam serta keputusan yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. Dari sana muncul pertanyaan, bagaimana nasib cinta dan masa depan generasi muda ketika mereka harus memikul beban yang bukan mereka ciptakan sendiri,” kata Widya Husin.
Ia menjelaskan, Giransani tidak menghadirkan legenda Bujang Sambilan secara utuh sebagaimana versi tradisionalnya. Cerita tersebut dijadikan sumber inspirasi untuk membaca kembali persoalan adat, kekuasaan, dan kemanusiaan dari perspektif yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat masa kini.
“Fokus cerita kami alihkan dari konflik fisik menuju konflik batin para tokohnya. Karena itu, Giransani bukan sekadar kisah percintaan, tetapi juga refleksi tentang bagaimana seseorang harus berhadapan dengan aturan, tradisi, dan keputusan sosial yang sering kali membatasi kebebasan menentukan jalan hidupnya sendiri,” ujarnya.
Widya menambahkan, pertentangan antara hukum adat dan nilai kemanusiaan menjadi gagasan utama yang dikembangkan dalam pertunjukan tersebut. Melalui tokoh Datuak Limbatang, ia menghadirkan dilema seorang pemimpin yang harus memilih antara menegakkan aturan atau melindungi orang-orang yang dicintainya.
“Pada akhirnya, karya ini mengajak penonton merenungkan apakah sebuah aturan harus selalu ditegakkan ketika aturan itu justru melukai manusia yang ada di dalamnya,” katanya.
Secara artistik, Giransani dirancang sebagai teater dramatik kontemporer yang memadukan kekuatan dialog dengan ekspresi tubuh para aktor. Legenda Bujang Sambilan didekonstruksi menjadi fragmen-fragmen ingatan yang muncul melalui sudut pandang masing-masing tokoh.
“Kami mencoba membaca ulang cerita rakyat ini dengan pendekatan yang lebih personal. Peristiwa-peristiwa dalam cerita tidak bergerak secara kronologis, tetapi hadir sebagai potongan-potongan ingatan yang membentuk pengalaman batin para tokohnya,” ujar Widya yang juga seorang pendidik.
Panggung Giransani dibangun sebagai ruang yang relatif kosong sehingga memungkinkan berbagai tafsir ruang dan peristiwa berkembang melalui dialog dan pergerakan aktor. Dalam pertunjukan ini, tubuh pemain tidak hanya berfungsi sebagai pendukung dialog, tetapi juga menjadi medium utama untuk menegaskan emosi, konflik, dan relasi antartokoh.
“Tubuh aktor menjadi bagian penting dari penceritaan. Kami ingin menghadirkan pengalaman yang tidak hanya didengar melalui kata-kata, tetapi juga dirasakan melalui gestur, gerak, dan kehadiran tubuh di atas panggung,” katanya.
Ia juga mengungkapkan penggunaan kain putih sebagai elemen visual utama pertunjukan. Kain tersebut tidak sekadar berfungsi sebagai kostum atau properti artistik, tetapi menjadi metafora tentang kesucian dan kemanusiaan yang masih tersisa dalam diri setiap tokoh, meskipun terus dihimpit oleh dendam dan konflik.
Lebih jauh, Widya Husin menegaskan bahwa Giransani merupakan upaya menghadirkan kembali warisan cerita rakyat Minangkabau melalui pembacaan yang lebih kritis dan humanis.
“Karya ini tidak bermaksud mempertentangkan adat dengan kemanusiaan. Justru kami ingin membuka ruang dialog tentang bagaimana keduanya dapat berjalan berdampingan di tengah perubahan zaman. Melalui kisah Giran, Sani, Malintang, dan Datuak Limbatang, kami mengajak penonton merenungkan bahwa keadilan tidak selalu hadir dalam bentuk hukuman, dan terkadang keberanian terbesar adalah mendengarkan suara hati nurani,” ujarnya.
Teater Salapan Padang merupakan komunitas teater ekstrakurikuler SMAN 8 Padang yang dibina oleh Widya Husin. Kelompok ini aktif memproduksi dan mementaskan berbagai karya teater serta menjadi salah satu wadah pembinaan seni pertunjukan bagi pelajar di Sumatera Barat.
Pada Festival Teater Sumatera Barat 2024 atau Alek Teater yang diselenggarakan UPTD Taman Budaya Provinsi Sumatera Barat, Teater Salapan berhasil meraih predikat Kelompok Terbaik melalui pementasan Robohnya Surau Kami. Penghargaan tersebut menjadi bukti konsistensi kelompok ini dalam mengembangkan kreativitas, kualitas artistik, dan kerja kolektif dalam dunia seni pertunjukan.
“Seperti penyelenggaraan sebelumnya, setelah pementasan akan digelar Bincang Karya bersama sutradara yang dimoderatori Hendra Makmur. Festival Nan Jombang Tanggal 3 terbuka untuk publik. Mari menjadi saksi setiap peristiwa budaya,” ujar Direktur Festival, Angga Mefri.ssc/mn