Adam Bersaudara dan ISI Padang Panjang

Kamis, 18/06/2026 06:57 WIB

OLEH Indra Utama—Alumni ASKI Angkatan 1983

PERJALANAN panjang Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang tidak dapat dipisahkan dari peran empat bersaudara anak seorang ulama Padang Panjang, Adam BB, yakni Boestanoel Arifin Adam, Irsjad Adam, Hoerijah Adam, dan Akhjar Adam. Keempatnya bukan saja menjadi pelaku penting dalam proses pendirian lembaga pendidikan seni di Sumatra Barat, tetapi juga meletakkan fondasi pemikiran tentang bagaimana seni tradisi Minangkabau dapat dipelajari, dikembangkan, dan diwariskan melalui pendidikan formal.

Pada tahun 1965, Boestanoel Arifin Adam dipanggil pulang dari perantauannya di Jakarta oleh Gubernur Sumatra Barat, Harun Zain. Saat itu, Sumatra Barat sedang berusaha bangkit dari keterpurukan akibat konflik Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Harun Zain mengusung semangat Mambangkik Batang Tarandam, sebuah tekad untuk mengembalikan harga diri masyarakat Minangkabau melalui pembangunan di berbagai bidang, termasuk kebudayaan.

Boestanoel sendiri pernah bergabung dengan PRRI. Setelah gerakan tersebut mengalami kekalahan, ia merantau ke Jakarta dan berkarier sebagai seniman musik bersama adiknya, Irsjad Adam, sekaligus bekerja di bidang pengembangan pariwisata. Ketika Harun Zain menjabat sebagai gubernur, Boestanoel dipanggil pulang untuk ikut membangun Sumatra Barat melalui jalur kebudayaan.

Bersama sejumlah seniman dan budayawan, di antaranya M. Rasjid Manggis Datuk Radjo Pangoeloe, disepakati pendirian sebuah lembaga pendidikan seni di Padang Panjang yang diberi nama Konservatori Karawitan (KOKAR). Nama tersebut mengikuti lembaga sejenis yang telah berdiri lebih dahulu di Surakarta, Jawa Tengah.

KOKAR Padang Panjang terdiri atas dua jenjang, yaitu KOKAR A yang setingkat sekolah menengah dan KOKAR B yang setingkat perguruan tinggi. Dalam perkembangannya, KOKAR A berubah menjadi Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI), sedangkan KOKAR B menjadi Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Padang Panjang.

Pada masa awal, ASKI Padang Panjang merupakan filial dari ASKI Surakarta sehingga dikenal dengan nama ASKI Jurusan Minangkabau untuk membedakannya dari ASKI Surakarta yang berfokus pada kesenian Jawa. Para lulusan pertama ASKI Padang Panjang bahkan menerima ijazah atas nama ASKI Surakarta. ASKI Padang Panjang menyelenggarakan pendidikan kesenian sampai peringkat Sarjana Muda dengan pencapaian gelar Bachelor of Art (BA). Setelah mampu berdiri secara mandiri, penyebutan "Jurusan Minangkabau" pun dihapuskan.

Kendati begitu, akar sejarah kesenian di Padang Panjang sebenarnya telah tumbuh jauh sebelumnya. Pada tahun 1942, ketika Indonesia masih berada di bawah pendudukan Jepang, kota ini telah menjadi pusat kegiatan kesenian di Sumatra Barat melalui kelompok Barisan Seni Bangsa (BSB) yang dipimpin oleh Sjofyan Naan, seorang seniman lulusan INS Kayutanam.

Pusat kegiatan Barisan Seni Bangsa berada di Gedung Kebudayaan yang pada tahun 1960-an dikenal dengan nama Panti Budaya. Kini bangunan tersebut bernama Gedung Mohammad Sjafei, sebagai penghormatan kepada M. Sjafei, pendiri INS Kayutanam, yang bersama para alumninya berperan dalam pendirian gedung tersebut.

Keempat anak Adam BB ikut terlibat dalam kegiatan Barisan Seni Bangsa. Pada masa awal, kelompok ini menyelenggarakan pelatihan kesenian bagi para peserta dari berbagai daerah di Sumatra Barat di bawah arahan Mohammad Sjafei. Kegiatan tersebut bertujuan membangun rasa percaya diri dan semangat persatuan melalui seni.

Berkat aktivitas itu, Padang Panjang kemudian dikenal sebagai pusat kegiatan kesenian di Sumatra Barat. Atas dasar inilah lembaga pendidikan seni kemudian didirikan di kota tersebut.

Dalam bukunya Tari Indonesia di Tengah Perubahan (2025:238), Sal Murgiyanto menyebut bahwa pada masa itu Barisan Seni Bangsa menawarkan bentuk-bentuk kesenian baru, terutama tari dan musik yang diadaptasi dari kesenian Melayu. Seni tradisi Minangkabau ketika itu belum menjadi arus utama. Kesenian Melayu inilah yang kemudian diajarkan pada masa awal berdirinya KOKAR dan ASKI.

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga pengajar, Boestanoel mengajak saudara-saudaranya bergabung. Irsjad Adam mengajar musik Barat, terutama biola. Hoerijah Adam mengajarkan tari-tarian Melayu yang diciptakannya sendiri. Sementara itu, Akhjar Adam mengajarkan musik Minangkabau, khususnya permainan akordeon, bansi, dan ensambel talempong.

Keterlibatan Adam Bersaudara menjadi kekuatan utama bagi Boestanoel dalam membangun ASKI Padang Panjang.

Kontribusi mereka tidak berhenti pada pendirian lembaga. Adam Bersaudara juga mewariskan sebuah gagasan besar mengenai pengembangan seni tradisi Minangkabau. Boestanoel pernah menyatakan bahwa kesenian tradisi yang tersebar di berbagai nagari dapat dipelajari dan dikembangkan secara akademis tanpa kehilangan ruh budayanya. Sumber penciptaan tetap berasal dari tradisi, sedangkan pengembangannya memanfaatkan pendekatan ilmu pengetahuan dan metodologi modern.

Gagasan inilah yang kemudian menjadi fondasi kemajuan ASKI Padang Panjang hingga berkembang menjadi Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) dan akhirnya bertransformasi menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang dengan cakupan keilmuan yang semakin luas, tidak hanya pada seni pertunjukan Minangkabau, tetapi juga seni rupa dan berbagai bidang kreatif lainnya.

Pada masa awal berdirinya, ASKI menggunakan Gedung Kebudayaan yang dahulu dipakai oleh Barisan Seni Bangsa. Lembaga ini mengemban tiga tugas utama, yakni menggali, membina, dan mengembangkan kesenian Minangkabau.

Ketika itu, ASKI hanya memiliki satu jurusan, yaitu Jurusan Kesenian Minangkabau. Mahasiswa mempelajari berbagai bentuk seni pertunjukan Minangkabau, baik tari maupun musik. Setelah kampus berpindah ke kawasan Kampung Jambak dan jumlah mahasiswa terus bertambah, jurusan tersebut kemudian dibagi menjadi dua bidang studi, yakni Tari dan Karawitan.

Beberapa tahun kemudian dibuka pula Jurusan Musik Barat. Meskipun demikian, orientasi pendidikannya tetap diarahkan pada pengembangan kesenian Minangkabau. Pada masa inilah mulai muncul berbagai karya seni pertunjukan modern melalui proses hibriditas antara tradisi lokal dan teknik penciptaan Barat.

Perjalanan ASKI pada masa awal tidaklah mudah. Mencari mahasiswa sangat sulit. Demikian pula dengan tenaga pengajar yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi seni. Saat itu, hanya Boestanoel Arifin Adam dan Irsjad Adam yang memiliki pendidikan formal seni, yakni lulusan Conservatoire Royal de Musique di Gent, Belgia, tempat mereka belajar selama enam tahun, dari 1950 hingga 1956.

Untuk mengatasi kekurangan mahasiswa, Boestanoel bekerja sama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang Panjang dengan mengikutsertakan guru-guru sekolah dasar dan sekolah menengah belajar di ASKI. Perkuliahan dilaksanakan pada siang hingga sore hari agar tidak mengganggu tugas mereka sebagai pengajar.

Dalam memenuhi kebutuhan tenaga dosen, Boestanoel juga mengundang para seniman tradisi dari berbagai nagari di Minangkabau. Mereka diangkat sebagai Dosen Luar Biasa dan diberi honorarium untuk mengajar praktik silat, tari tradisi, talempong pacik, saluang, dendang, rabab, randai, adat Minangkabau, pasambahan, dan berbagai pengetahuan budaya lainnya.

Untuk mata kuliah umum, tenaga pengajar didatangkan dari guru-guru SPG dan SMA di Padang Panjang, sementara dosen dari IKIP Padang dan sejumlah budayawan dari Kota Padang juga kerap diundang untuk mengajar.

ASKI bahkan sering membawa mahasiswa dan dosennya berkeliling ke berbagai nagari untuk mengadakan pertunjukan sekaligus belajar langsung dari masyarakat pemilik tradisi. Model pembelajaran seperti ini menjadikan ASKI sebagai laboratorium hidup bagi pengembangan kebudayaan Minangkabau.

Kini, lembaga tersebut telah berkembang menjadi ISI Padang Panjang, sebuah institusi pendidikan seni yang memiliki berbagai program studi, mencakup seni tradisi, seni kontemporer, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Melalui penelitian, dokumentasi, penciptaan karya, dan pertunjukan seni, ISI Padang Panjang telah menjadi ruang pertemuan antara tradisi dan modernitas. Berbagai bentuk kesenian tradisional berhasil didokumentasikan dengan baik melalui kerja akademik para dosen, peneliti, dan mahasiswa.

ISI Padang Panjang juga telah melahirkan ribuan alumni yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Mereka berkiprah sebagai seniman, guru, dosen, koreografer, komposer, sutradara, pemusik, kurator, peneliti, pengelola lembaga kebudayaan, hingga pelaku industri kreatif yang turut memperkuat ekosistem kebudayaan nasional.

Memasuki abad ke-21, dunia seni dan kebudayaan menghadapi perubahan yang sangat cepat. Revolusi digital, kemajuan teknologi komunikasi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta perubahan pola konsumsi budaya menghadirkan tantangan baru yang tidak sederhana.

Di satu sisi, perkembangan ini membuka peluang besar untuk memperkenalkan kesenian Minangkabau kepada dunia. Namun, di sisi lain, terdapat risiko tergerusnya nilai-nilai budaya lokal apabila perubahan tersebut tidak disikapi secara bijaksana.

Karena itu, ISI Padang Panjang dituntut untuk mampu mengintegrasikan seni tradisi dengan inovasi dan teknologi, baik dalam proses pembelajaran maupun penciptaan karya. Tantangan ISI bukan lagi sekadar mempertahankan eksistensi, melainkan memperkuat perannya sebagai pusat unggulan seni dan kebudayaan Indonesia yang berdaya saing global, pusat rujukan seni budaya Melayu Nusantara, pusat dokumentasi dan arsip kebudayaan digital, laboratorium seni berbasis teknologi, serta kampus yang melahirkan seniman berjiwa kewirausahaan dan bertaraf internasional.

Apabila pada masa lalu ASKI didirikan untuk menggali, membina, dan mengembangkan seni tradisional Minangkabau, maka pada abad ke-21 ini ISI Padang Panjang harus menjadi ruang lahirnya masa depan kebudayaan Indonesia; tempat bertumbuhnya seniman, ilmuwan, pemikir budaya, inovator, dan para pemimpin masyarakat kreatif.

ISI Padang Panjang memikul tanggung jawab historis untuk menjaga akar tradisi yang telah dipelopori oleh Adam Bersaudara. Sejarah lembaga ini sesungguhnya adalah sejarah ketekunan dalam merawat kebudayaan. Dari gagasan para pendiri dan tokoh-tokoh pelopor, ISI Padang Panjang telah tumbuh menjadi institusi yang tidak hanya melahirkan seniman, tetapi juga membentuk para penjaga nilai budaya bangsa.

Di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat, ISI Padang Panjang dituntut untuk tetap berpijak pada akar tradisi sekaligus berani menatap masa depan dengan optimisme. Dengan demikian, kampus ini akan terus menjadi ruang lahirnya kreativitas, pusat pemikiran kebudayaan, dan mercusuar seni Indonesia di tingkat nasional maupun global.*

Bukittinggi, 18 Juni 2026

 



BACA JUGA