m
Simpang Empat, sumbarsatu.com-- Dampak kenaikkan BBM Pertamax, menjadi Rp 17.000, masyarakat di Pasaman Barat mengeluhkanya antrian dan macetnya membeli BBM Subsidi Pertalite.
Artinya, dampak kenaikkan BBM Non Subsidi Pertamax juga berdampak kepada BBM Subsidi Pertalite yang dijual pada SPBU. Diduga ada oknum-oknum pembeli atau pihak SPBU yang memanfaat situasi demi kepentingan pribadi.
Sejumlah SPBU di Pasaman Barat, SPBU Batang Toman, Batang Lingkin, SPBU Sariak macet dipenuhi kendaraan.
Rudi salah seorang warga mengeluhkan, hampir 2-3 jam macet mengeluhkan antrian untuk mendapatkan BBM subsidi Pertalite di SPBU Batang Lingkin Pasaman Barat.
Lain lagi yang dialami, Soni yang sudah antrian 2 jam pada SPBU, tetapi saat gilirannya pertalite habis.
Soni menyayangkan ditengah situasi sulit saat kenaikkan BBM ini, pihak SPBU seolah melegalkan pembelian BBM Pertalite oleh pemilik mobil yang tangkinya dimodifikasi dengan ukuran jumlah besar. Mereka membeli BBM pertalite mencapai Rp1.000.000 sampai Rp 2.000.000.
"Sudah rahasia umum, mobil modifikasi (pedagang) juga mengambil kesempatan saat ada kesempitan, mereka beli minyak Rp1.000.000, ke atas untuk satu tangki sementara kita hanya beli kisaran Rp300.000 sampai Rp400.000/mobil, " kata Soni.
Sementara itu, beberapa waktu lalu tim Polres Pasaman Barat sering melakukan razia dan menangkap pelaku pembeli minyak yang memodifikasi mobilnya, ke SPBU yang diduga menjual minyak pertalite subsidi, kepada pengusaha yang memakai tangki mobil modifikasi. Namun razia dan penegakkan hukum tersebut, seakan tidak membuat jera pelaku maupun pihak SPBU. ssc/nir