Controleur H.R. Rookmaaker dan Jam Gadang

Jum'at, 05/06/2026 17:51 WIB

OLEH Suryadi

 

PEKAN ini Bukittinggi ramai dan pasti sibuk. Soalnya sedang ada perayaan 100 tahun Jam Gadang. Berbagai iven digelar, sejak dari seminar internasional sampai pesta kuliner, sejak dari pertemuan sastrawan internasional sampai pemutaran film.

Bersamaan dengan perayaan simbol kota Bukittinggi itu, muncul lagi diskusi tentang kapan persisnya Jam Gadang dibuat, oleh siapa dan untuk apa. Tentang tanggal peresmiannya sudah jelas: 25 Juli 1927, sesuai dengan laporan koran Sumatra Bode yang memberitakannya dua hari kemudian (Sumatra Bode, edisi No. 170, 34ste Jaargang, Woensdag/Rabu, 27 Juli 1927). Kalau kita berangkat dari titik peresmian ini, maka 100 tahun Jam Gadang tentu jatuh pada 25 Juli 2027.

Tapi ternyata, bulan Juni ini usia 100 tahun Jam Gadang dirayakan. Itu berarti bahwa patokan yang diambil oleh Pemkot Bukittinggi bukan tarikh peresmiannya (27 Juli 1927), tapi mungkin tarikh peletakan batu pertama (de eerste steenlegging) pembangunan monumen setinggi 27,5 meter itu. Tapi, kapan tanggal persisinya peletakan batu pertama itu terjadi, ini yang belum diperoleh sumber primer tertulisnya. Walaupun demikian, saya mendapatkan clue untuk menjelaskan ini. Hal ini akan saya kemukakan dalam kesempatan lain.

Fokus saya di sini adalah tentang disebut-sebutnya nama H.R. Rookmaaker terkait dengan pembangunan Jam Gadang ini. Prof. Dr. Gusti Asnan dalam artikel beliau “Jam Gadang, 100 Tahun Berkuasanya Belanda di Bukittingi” menulis bahwa ada tiga pendapat yang paling sering terdengar tentang latar belakang pembangunan Jam Gadang. Salah satunya: “Jam Gadang adalah hadiah Ratu Wilhelmina untuk Controleur Rookma[a]ker sebagai pejabat yang mengepalai unit administratif Onderafdeeling Oud Agam (Agam Tua), di mana Bukittinggi menjadi bagiannya” (https://www.hariansinggalang.co.id/opini/2735/jam-gadang-100-tahun-berkuasanya-belanda-di-bukittinggi; diakses 04-04-2026).

Tulisan ini akan menukuktambahi info tentang H.R. Rookmaaker, sekalian untuk menimbang-nimbang secara rasional-akademik dan reflektif pendapat tersebut.

Untuk ini, saya menelusuri riwayat clan Rookmaaker di Belanda. Gemeente Amsterdam Stadsarchief mencatat ada sekitar 40 keluarga di bawah nama famili ‘Rookmaaker’ yang hidup di Belanda sekarang. Selain itu, saya mausai (membongkar) pula dossiers arsip H.R. Rookmaaker di National Archief, Ministerie van Onderwijs, Cultuur en Wetenschap di Den Haag (Nummer Toegang 2.10.39 & 2.21.200) di mana banyak dokumen yang terkait dengan pendidikan dan pekerjaan Rookmaaker ketiga bertugas di Hindia Belanda (1911-1937) disimpan, tapi miskin tentang Sumatra’s Westkust, dimana ia ditugaskan selama sekitar 3 tahun.

Dari kombinasi data dari kedua sumber primer tersebut, juga data dari media Belanda dan sumber-sumber kedua di Leiden University Library, izinkan saya merekonstruksi kisah hidup mantan Controleur Agam Tua itu. Rujukan akan diberikan seperlunya, agar tulisan di media untuk konsumsi publik ini tidak jadi artikel ilmiah. Walau bagaimanapun ini penting untuk dinyatakan, supaya tidak dikatakan omon-omon pula oleh seorang sejarawan yang tampaknya belum pernah menulis buku sejarah.

Henderik Roelof Rookmaaker–demikian nama lengkapnya; nama depannya sering ditulis ‘Hendrik’ dan nama belakangnya sering pula ditulis: ‘Rookmaker’–lahir di Batavia pada 21 Agustus 1887. Ayahnya, yang juga bernama H.R. Rookmaaker, adalah seorang yang berdarah Indo dan berkarier sebagai pegawai (abmtenaar) Hindia Belanda (Dia pernah menjadi Asisten Residen di Tebing Tinggi dan Tanah Datar tahun 1890-an, meninggal di Den Haag, 11 Agustus 1905 dalam usia 59 tahun).

 Sebagaimana biasa dilakukan oleh para pegawai tinggi Hindia Belanda pada zaman kolonial, Rookmaaker kecil dikirim ke Belanda oleh ayahnya, Rookmaaker senior, agar mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Arsip di Nationaal Archief Den Haag menyimpan ijazah-ijazah Rookmaaker dan berbagai sertifikat yang pernah diterimanya. Rupanya setamat sekolah menengah, di meneruskan pelajarannya di Rijksuniversiteit Leiden di mana ia belajar untuk menjadi calon pegawai kolonial yang akan dikirim ke Hindia Belanda.

Pada 1908, Rookmaaker sudah lulus ujian di Leiden. Di universitas yang tertua di Belanda itu (berdiri 1775), dia antara lain belajar bahasa Melayu dan Jawa, juga menulis dalam aksara Jawi (Dia mendapat diploma di bidang ini, yang juga ditulis dalam aksara serapan dari aksara Arab tersebut).

Tampaknya, tak berapa lama setelah menyelesaikan studinya di Leiden, Rookmaker muda diterima sebagai pegawai di Hindia Belanda (Indisch Ambtenaar). Sebelum berlayar ke Batavia, dia menikahi seorang dara cantik bernama Theodora Catherina Heitink (dipanggil: Dora Heitink; lahir di Den Haag 17 Maret 1890) di Den Haag pada 25 Agustus 1911 (Het vaderland, 28-08-1911; De Nederlander, 05-08-1911). Kelak mereka dikaruniai 3 orang anak: Theodora Catharina (mengikut nama depan ibunya, lahir 1912), Henrietta Christina (lahir 1914), dan Henderik ‘Hans’ Roelof Rookmaaker (seperti nama ayahnya, lahir 1922) yang kemudian menjadi profesor sejarah seni terkenal (Gemeente Amsterdam Stadsarchief; KITLV Leiden).

Sebulan setelah menikah pasangan muda yang ingin meniti karier di negeri jajahan itu kemudian berlayar ke Batavia. Pada awal Oktober 1911, H.R. Rookmaaker sudah diangkat sebagai salah seorang controleur yang akan ditempatkan di luar Pulau Jawa dan Madura (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 06-10-1911). Rupanya dia ditempatkan di Bone Sulawesi Selatan (Nationaal Archief). Ambtenaar muda ini segera menunjukkan bakal administrasi dan intelektualnya. Sebagai contoh, tahun 1913, saat masih bertugas di Bone (Boni-ri-attang), ia mengirimkan contoh-contoh kulit, telur, dan sarang burung-burung endemik Sulawesi ke Rijks Museum van Natuurlijke Historie di Leiden (De nieuwe courant, 22-12-1913).

H.R. Rookmaaker (c.1928). (Sumber: KITLV Leiden)

 Mutasi pegawai adalah suatu keniscayaan di zaman kolonial. Dari Bone, Rookmaaker dipindahtugaskan ke Sumatra’s Westkust. Saat sampai di Padang pada 11 Januari 1924, dia tidak sempat bertemu dengan Residen Sumatra’s Westkust A.C. Whitlau yang sedang verlof. Sekretaris Residen, J.A. Berhitoe, menerimanya di Gubernuran. Saat resmi dilantik, Rookmaaker membubuhkan tanda tangannya pada surat dan berita acara pelantikan seraya menyerukan sumpah: “ZOO WARLIJK HELPE MIJ GOD ALMACHTIG”, ‘Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa membantu saya’ (Nationaal Archief).

Dengan surat pengangkatan dari Kepala Department Binnenlandsch Bestuur 3 Januari 1924 No. C. 6/1/4, Rookmaaker memulai tugasnya di Minangkabau. Sebagaimana sudah sama kita ketahui, rupanya dia ditempatkan di Onderafdeeling Oud Agam sebagai Tuan Kontrolir. Ia menggantikan posisi C. Boterhoven de Haan yang ditarik ke Jawa (kemudian pergi verlof ke Belanda pada bulan Juli 1926).

Memasuki tahun ketiga masa tugas Rookmaaker di Onderafdeeling Agam Tuo, kota Fort de Kock, yang menjadi pusat administrasi onderafdeling ini, merayakan hari ulang tahunnya yang ke-100 pada minggu pertama Juni 1926, tepatnya tanggal 2-9 Juni. Bukan sekali ini saja ulang tahun kota Fort de Kock dirayakan, kota yang–meminjam kata-kata seorang penakluk benteng Bonjol, Mayor C.P.A. de Salis, yang beristirahat beberapa hari di kota ini sebelum meneruskan misi penaklukannya ke Lembah Alahan Panjang pada pertengahan Maret 1837: “mengambil karakter yang khas, yang sia-sia dicari di tempat lain”, dengan “ngarai-ngarai curam dengan mulut vertikal setinggi 3 hingga 4 ratus kaki, terdiri hanya dari pasir mergel dan membentang dari puncak gunung Singgalang hingga jauh ke timur laut dan utara Matoea. Hanya dengan rasa takjub orang dapat melihat jurang-jurang terbuka di bumi ini, […, yang] memiliki kekuatan yang mengagumkan dan menggerakkan pikiran kepada renungan-renungan yang bersifat muram. Hanya kekuatan yang tak terbayangkanlah yang telah membelah bumi di sini, atau beberapa abad telah dihabiskan air, untuk membentuk parit-parit ini” (G. Teitler, Het einde van de Padrie-oorlog, 1994: 69; terjemahan Suryadi).

Tahun 1906, misalnya, ulang tahun Fort de Kock yang ke-80 juga dirayakan secara besar-besaran, di bawah komando L.C. Westenenk yang saat itu menjadi Controleur Oud Agam. Saat itulah Pakan Malam Pertama (Tentoonstelling) diadakan. Semua yang terkait dengan perayaan itu dilaporkan Tuan Siteneng, lengkap tertulis dan ada gambar pula, dalam Verslaag van de eerste jaarmarkt-tentoonstelling te Fort de Kock yang diterbitkan Landsdrukkerij di di Batavia tahun 1907. Pakan Malam Pertama itu berlaba cukup gedang, yang antara lain digunakan untuk membiayai perjalanan beberapa orang kepala adat di Agam melakukan studi banding (‘meluaskan pemandangan’) ke Jawa guna mempelajari sistem pertanian penduduk di pulau tempat pusat administrasi kolonial Belanda berada itu.

Sejak bulan Maret 1926, koran-koran sudah memberitakan rencana perayaan 100 tahun usia kota Fort de Kock itu. “Sebagaimana kita soeda perna wartaken behoea dari tanggal 3 (sic) sampei 9 Juni dihadep di Fort de Kock aken diadaken kerameian boeat merahjaken berdirinja kota Fort de Kock tjoekoep 100 taon, dan berhoeboeng dengan itoe djoega diadaken Pasar malam”, tulis koran Sinar-Sumatra edisi Selasa, 6 April 1926. Koran ini kemudian menambahkan bahwa selain pasar malam, juga akan diadakan lomba pacu kuda yang memperebutkan berbagai hadiah uang dan piala, tak terkecuali “loterij winkansen” yang batunya akan dikuncang di Societeit Beveldere, dilanjutkan dengan acara “bal costume et masque” yang menyediakan hadiah-hadiah menarik (Sinar-Sumatra, 03-06-1926).

Masyarakat yang mau jualan atau memamerkan hasil-hasil pertanian dan kerajinan tangan mereka, diminta segera menghubungi panitia (bestuur) perayaan dan memesan tempat dengan membayar biaya. Dalam edisinya tanggal 19 Mei 1926, Sinar-Sumatra kembali memasang pengumuman dalam iklan bernomor 2659:

FORT DE KOCK

Pada 2 sampai 3 Juni 1926

  1. Mintak toean-toean jang akan mempertoendjoekkan atau mendjoeal barangnja segira mintak tempat, sebab sampai sekarang soedah banjak soerat-soerat pemintaan itoe, kalau terlambat boleh djadi kehabisan, sewa tempat dalam Loods minimum f 0,50 satoe M2 ontoek 7 hari itoe.
  2. Dimintak orang jang mempermainkan opera atau lain-lain permainan, segira mintak tempat, dengan menjatakan berapa dia sanggoep membajar oentoek satoe Loods jang besar, akan diberikan kepada siapa jang lebih tinggi menawar.
  3. Dimintak kepada club-club Voetbal jang soeka datang bertanding, akan masoekkan permintaan di moeka 20 Mei 1926. Tentonstelling teranak dengan prijs-prijs djoembla f 500 – pada 4 dan 5 Juni 1926.
  4. Berpatjoe koeda tetap pada 6 dan 7 Juni 1926, dan Berpatjoe Djawi pada 4 Juni 1926.

Segala permintaan kepada DEMANG Boekit Tinggi atau kepada Toean Controleur H. R. ROOKMAAKER.”

Dari laporan media semasa kita mendapat kesan bahwa perayaan “berdirinja kota Fort de Kock tjoekoep 100 taon” itu sungguh sangat meriah. Acara pacu kuda misalnya, yang diadakan selama dua hari (Minggu dan Senin, 4 7 5 Juni) dihadiri oleh bukan saja penonton dari Fort de Kock dan sekitarnya, tapi juga dari Padang dan daerah-daerah lainnya di benedenlanden. “Berhoeboeng dengan besok dan hari Senen dihadep aken diadaken patjoean koeda di Fort de Kock, maka sebentar soreh banjak toean-toean dan njonja-njonja [dari Padang] jang aken pergi ke Fort de Kock. Selainnja itoe, djoega bebrapa orang jang ingin saksiken patjoean koeda dan kerameian Pasar Malam, tadi pagi telah berangkat ke Fort de Kock”, tulis Sinar-Sumatra edisi Sabtu 3 Juni.

Dapat dibayangkan, sang Controleur, Tuan Rookmaaker, tentu sibuknya minta ampun! Maklum, sebagai representatif tertinggi Pemerintah Kolonial Hindia Belanda di Agam Tuo, dia tentu bertanggung jawab penuh dan harus menyukseskan acara itu.

H.R. Rookmaaker yang paling kanan yang memegang cangkir (Sumber: KITLV Leiden)

Namun, yang namanya orang banyak, apalagi orang Minang yang konon kareh arang, tak akan puas kalau tak membuat gaduh. Maka terjadilah cakak banyak dalam pertandingan sepakbola pada hari Minggu 6 Juni di Rookmaakerplein–taman yang memakai nama sang Controleur. Rupanya pemain tamu, tim sepakbola (eftal) dari Padang, yang menang  dalam pertandingan, dikasari oleh tim tuan rumah, kemudian menjalar ke kalangan bonek-bonek pendukung kedua tim. “Kaloe sadja voetbalsport dilakoekan setjara begitoe, maka pastilah di lain kali club club dari Padang tida aken dateng meramaiken sesoeatoe kerameian di Tanah Darat, begitoe poela club club dari Tanah Darat tida aken berboeat demikian”, ulas  Sinar-Sumatra edisi Selasa 8 Juni1926.

Acara pacu kuda tak kalah meriah, tapi juga meninggalkan kisah tragis. Pada hari pertama (Minggu, 6 Juni) hujan deras sudah turun sejak jam 7 pagi, membuat jalur pacuan (race-terrein) jadi licin dan penuh lumpur. Jadinya acara dimulai sedikit molor. Hari pertama memperebutkan “Ambtenaren Prijs”. Banyak joki dan kuda yang jatuh. Malang, kuda “Don” milik Sidi Maradjo tergelimpang hingga patah kakinya. Dokter hewan datang memeriksa, tak ada harapan akan sembuh. Diputuskan: “Don” kesayangan Sidi terpaksa ditembak mati dengan 2 pelor gedang. Sidi sendiri sedang tidak di arena pacuan. “Don” ditembak, menggelepar sebentar lalu diam, disaksikan sanak saudara Sidi Maradjo dalam rarau dan isak tangis bercampur air hujan.

Ambtenaren prijs” akhirnya dimenangkan oleh kuda “Sinar Taman” milik Dt. Madjo Oerang dengan tempo waktu 1 menit 4 detik, tempat kedua diraih kuda “Stoom” milik Datoek Jang Besar, dan tempat ketiga diraih kuda “Poerin” kepunyaan Radjo Mudo.

Di hari pertama 9 hadiah (prijs) diperebutkan, dan di hari kedua (hujan sudah tidak turun lagi) ada 10 hadiah & piala yang diperebutkan. “Kesoedahan dari patjoean itoe[…],ada mengoendjoeken behoea tiap tiap loehak ada mendapat prijs, boekanlah seperti pada taon taon jang laloe, dimana ampir semoea prijs prijs didapetken oleh koeda koeda Agam dan Pajakoemboeh”, ulas Sinar-Sumatra edisi Selasa  8 Juni 1926.

Panjang jadinya kalau acara pacu kuda 2 hari itu diriwayatulangkan di sini. Kini, elok kaba dialiah ke Tuan Rookmaaker.

Pada Minggu pagi 7 Juni 1926, saat rangkaian perhelatan ulang tahun ke-100 kota tempat ia ditugaskan sedang basansam, Controleur H.C. Rookmaaker pergi meninggalkan Sumatra’s Westkust. “Tadi pagi dengan menumpang kapal van Heemskerk jang berangkat ke Java ada menoempang controleur Rookmaaker jang dipindahken sebagi assistant-resident ka Flores.”, tulis Sinar-Sumatra edisi Senin, 7 Juni 1926.

Ini menimbulkan tanda tanya besar: Apa yang terjadi? Mengapa tetiba sang Controleur meninggalkan Fort de Kock, meluncur ke Emmahaven, lalu say “goodbye” kepada Sumatra’s Westkust? Sang Controleur meninggalkan alek (perayaan 100 tahun usia Fort de Kock) dua hari sebelum alek itu selesai. Alek sedang sesak, kuda-kuda sedang berpacu, beliau membilucus pergi. What happened? What was wrong with him?

Apa yang sesungguhnya terjadi? Ada konflik? Ada gadiguah? Dossiers H.R. Rookmaaker di Nationaal Archief di Den Haag tak meninggalkan catatan apapun.Aneh! Jadi, ka sia kito ka batanyo kini (2026), setelah 100 tahun kemudian?

Tentu tafsir (yang tidak arbitrer) bisa dikemukakan: “Kalau tak ada berada, masakan tempua bersarang rendah?”. Kalau helat (alek) yang diadakan di Fort de Kock 100 tahun nan lalu itu, pada saat mana wacana pembangunan Jam Gadang sebenarnya sudah berjalan setahun (‘Comite Djam Gadang’ sudah terbentuk pada pertengahan 1925; lihat Tjaja Sumatra, 03-06-1925), yang konon merupakan hadiah untuk sang Controleur, tapi kemudian beliau sendiri bergegas pergi meninggalkan alek yang sedang sasak dan meriah, tentu ada basabab bakarano.

Kepada pembaca saya minta pendapat, analisa, dan pandangan. Kepada yang lebih banyak tahu, saya mohon cerita ini dilengkapi.

Cerita saya cukupkan sampai di sini.

Tentang life journey H.R. Rookmaaker setelah pergi dari Ranah Minang, di lain kesempatan akan saya kabakan. Kiranya cukup saya catatkan di sini: Henderik Roelof Rookmaaker, penerima anugerah “Ridder in de Orde van den Nederlandsche Leeuw, Ridder in de Orde van Oranje Nassau, dan Officier in de Leopolds-Orde” dari Pemerintah Kerajaan Belanda, meninggal di Den Haag pada 31 Januari 1945 dalam usia 57 tahun di rumahnya di Laan van Meerdervoort 125, Den Haag (Het vaderland: staat- en letterkundig nieuwsblad, Donderdag/Kamis, 01-02-1945). Ia meninggal dalam usia yang tidak terlalu tua, sama seperti ayahnya.

Ajal sampai bilangan sudah, tidak dapat bertangguh lagi.

Jenazah pria yang mengakhiri kariernya sebagai Residen Lampung (17 Mei 1833–28 Juni 1937) itu dimakamkan di Bergraafplaats (kompleks pemakaman umum) Oud Eik en Duinen, Den Haag, pada hari Senin 12 Februari 1945 mulai pukul 12 siang (De residentiebode, Zaterdag/Sabtu, 10-02-1945).

H.R. Rookmaaker dan Djam Gedang Fort de Kock (Boekit Tinggi) tentu akan terus disebut-sebut orang, walau masih ada missing link dan wilayah pembuktian yang masih abu-abu secara akademik, yang tentunya menantang bagi sejarawan, khususnya sejarawan Sumatera Barat.

Lain dari itu, maka…bila ada kesempatan bagi Walikota dan pejabat teras Gemeente Bukittinggi berpelesiran ke Belanda, singgahlah ke kota Den Haag untuk mengunjungi bekas rumah Tuan Kontolir Agam Tuo itu dan/atau menabur bunga di pusaranya. Saya bersedia menemani tuan-tuan jika dibelikan tiket kereta api.*

Selamat merayakan ‘berdirinja kota Fort de Kock tjoekoep 100 taon’!

 

Leiden, Kamis, 4 Juni 2026



BACA JUGA