OLEH Ka'bati--Jurnalis dan Pemerhati Masalah Politik
JO SAL yang baik, apa kabar hari ini?
Ajo mungkin tidak mengenal saya, tetapi percayalah, saya sangat familiar dengan Ajo. Foto-foto Ajo banyak bertebaran, bahkan sampai ke balik pintu kamar mandi rumah amak saya. Bagaimana saya tidak mengenal Jo Sal, kan? Sebenarnya, saya bukan orang lain, adik Jo Sal juga ini. Berlancik-lanciak-an rumah urang gaek kita, kok.
Begini, Jo Sal. Kok kabarnya sudah terdengar bahwa Ajo mundur dari jabatan sebagai Ketua DPW PAN Sumbar. Posisi Ajo pun sudah diisi oleh orang lama. Tak perlulah rasanya saya mempertanyakan lagi mengapa Ajo mundur atau mengapa Indra Dt. Rajo Lelo dilantik menggantikan Ajo. Tak perlu, karena semuanya sudah terang benderang bak suluh matahari.
Alasan Ajo jelas dan tegas: usulan Ajo mengenai struktur kepengurusan di DPD-DPD tidak disetujui oleh DPP.
"Kami punya kader banyak," demikian dikatakan Asnawi Bahar—senior Ajo—di media. Menurut beliau, mundurnya Ajo tidak membawa pengaruh apa pun. Buktinya, pelantikan pengurus baru PAN pasca-Ajo mundur tetap berlangsung meriah.
"Ribuan kader hadir, kok," kata Pak U.
Walaupun, saat saya lewat di lokasi pelantikan tempo hari, saya tidak melihat ribuan kader hadir. Tapi, oklah, tak masalah. Orang politik memang harus begitu bicaranya. Buih di gelas teh telur itu kalau bisa memang harus lebih dari setengah gelas. Dan gagahnya teh telur memang terletak pada buihnya yang melimpah itu, kan, Ajo tahu sejak dulu.
Ditambah lagi lagu dari senior Ajo yang lain. Kata Guspardi Gaus, mundurnya Ajo dari pimpinan DPW justru membuat kader semakin solid.
Ajo mengajukan talak—mengundurkan diri—pada 9 Juni 2026. Hanya berselang lima hari, tepatnya pada 14 Juni 2026, PAN telah melantik ketua DPW yang baru. Betapa cepatnya proses itu. Sedemikian harmonisnya internal partai.
Saya tidak tahu apa yang terasa di kerongkongan Ajo saat mendengar kabar ini; bisa pahit, bisa manis, bukan?
Gadang di amba, tinggi di ambuang, begitu kata mamak kita, Jo. Di politik, kepercayaan bahwa bertangga naik berjenjang turun itu masih sangat kuat, tampak dek saya. Tak masuk akal kalau kita naik ke atas dulang lalu mengangkatnya pula sendiri. Macam mana pula itu? Mau menjulang seorang saja? Penjual rakik di tepi pasia juga paham itu.
Ajo Sal, ini ibaratnya saya saja, ya. Bak menyewa di rumah gadang orang. Ajo hanya menyewa satu kamar, tetapi seolah-olah bertanggung jawab atas kamar-kamar lain di rumah itu. Ajo suruh pula istri dan anak bujang Ajo menyapu dan membersihkan kamar sewa orang lain.
Walaupun niat Ajo mungkin baik, yang sedang Ajo bersihkan itu bukan kamar kosong. Walaupun tampak kosong dan berantakan, kamar itu ada penyewanya, Jo. Terlongsong kalau Ajo bersih-bersih dan menata pula kamar orang. Kecuali Ajo membeli seluruh rumah itu.
Kan uang Ajo ada tuh. Terpantau di LHKPN sebesar Rp44,55 miliar. Tidak banyak benar, tetapi mungkin cukuplah untuk membeli rumah usang di tengah kota.
Ajo kan tahu, membesarkan partai itu tidak mudah. Politik itu bisnis tua, Jo. Tidak hanya uang yang dibutuhkan, tetapi juga kesabaran. Dinamika yang disebut-sebut orang itu saya pahami sebagai berayun selentur-lenturnya di tali yang tegang dan meregang setegang-tegangnya di buaian yang kendor.
Jangan cepat tersinggung, Jo, kecuali memang Ajo sudah nampak pula yang baru. Mau berumah baru, maksud saya.
Satu lagi, Jo. Di politik itu sama pula dengan rumah tangga. Mendua-mendua itu tidak baik akibatnya. Kalau memang sudah ada timudo yang baru, berjelas-jelas sajalah dengan yang lama daripada merasai Ajo nanti. Banyak laki-laki di Minang ini, Jo, yang marasai karena ulahnya sendiri.
Bagaimanapun, Jo, karena Ajo sudah memilih ladang politik sebagai rumah pengabdian, Ajo sudah menjadi wakil kami di daerah. Punya kuasa di parlemen. Bisa mengatur penganggaran pembangunan. Bisa mengawasi dan mengevaluasi pemerintah. Itu semua sudah hebat luar biasa.
Bangga kita se-Pariaman, bahkan se-Sumatera Barat.
Bayangkan, Jo, ketika ada ambulans lewat, kami semua dengan cepat teringat nama Arisal Aziz. Walaupun, tentu saja, tidak semua ambulans yang lewat itu Ajo yang belikan.
Ajo sudah hebat, tetapi belum hebat benar.
Kalau di bisnis, floating loss atau floating gain itu tergantung Ajo dan bank sentral saja. Kalau saya lihat, di atas kertas posisi Ajo hari ini memang berada pada kemungkinan rugi (floating loss), tetapi belum benar-benar jatuh. Masih ada peluang untung.
Tidak lagi menjadi Ketua DPW, tetapi masih kader. Mana tahu DPP menarik Ajo ke pusat, kan? Mungkin aset Ajo sebagai pengurus wilayah sudah melebihi kapasitas sehingga Ajo akan diangkat ke DPP untuk membesarkan partai di pusat, bersejajar dengan para artis papan atas seperti Eko Patrio, Primus, Uya Kuya, Pasha Ungu, Verrell Bramasta, dan Desy Ratnasari.
Seperti saya katakan di atas, Jo, panggung politik ini sama pula dengan pergerakan pasar saham. Ia membutuhkan waktu dan kesabaran. Kita tidak akan benar-benar untung dan tidak akan benar-benar rugi selama kita tidak mengambil keuntungan terlalu cepat atau memutuskan menerima kerugian dalam waktu singkat.
Banyak sekali kemungkinannya. Dinamis, kata orang. Entah saat ini Ajo sedang memegang senapan atau justru menjadi umpan peluru. Kami tunggu saja kabar Ajo selanjutnya.
Sehat selalu, Jo. Kalau ada waktu lapang, main-mainlah ke kampung kami juga.*