"Under the VolcanO" Fotografer Gembong Hardian. Courtesy of Bumi Purnati Indonesia. November 2014
Padang Panjang, sumbarsatu.com— Pada sebuah panggung bersejarah di kawasan Arsenale, Venesia, Italia, delapan tangga kayu akan berubah menjadi gunung, lembah, pasar, kampung, hingga liang kubur. Tubuh-tubuh performer di atas panggung akan berlari, memanjat, jatuh, dan bangkit. Bunyi-bunyian yang lahir dari dialek Minangkabau, napas, dan ritme tubuh menyatu dengan dentuman musik, menghadirkan kembali teror letusan gunung, gempa bumi, dan gelombang tsunami.
La Biennale Venezia Italia 2026, festival internasional seni tari, musik, dan teater yang digelar sepanjang 7 Juni–24 Oktober 2026, Indonesia hadir dalam peristiwa budaya yang prestisius itu.
Indonesia melalui Bumi Purnati Indonesia mendapat kehormatan menampilkan dua karya teater pilihan, yakni Under the Volcano dan Hikayat Perahu/The Tale of Boat. Kehadiran kedua karya ini menempatkan Indonesia sejajar dengan berbagai negara yang turut berpartisipasi dalam festival, seperti Yunani, Albania, Jepang, India, Selandia Baru, Rwanda, Benin, Prancis, dan Italia.
Khusus teater, The 54th International Theatre Festival berlangsung pada 7–21 Juni 2026 dengan direktur festival Willem Dafoe, seorang aktor dan sutradara dunia.
Festival tahun ini menghadirkan sekitar 200 seniman dari berbagai negara dalam 55 program acara yang mencakup 11 produksi dan ko-produksi, 10 pertunjukan perdana dunia (world premiere), dua perdana Eropa, dan empat perdana Italia. Festival ini mengusung tema Alter-Native, yang memaknai "alter" sebagai perubahan sekaligus "yang lain", sementara "native" merujuk pada identitas personal dan akar budaya.
Melalui tema tersebut, festival membuka ruang perjumpaan beragam bahasa, tradisi, dan ekspresi budaya dunia, sekaligus menawarkan kemungkinan-kemungkinan baru dalam memahami realitas melalui seni pertunjukan. Menurut penyelenggara Biennale Venesia, keseluruhan program festival dirancang untuk “menjelajahi dimensi utama pengalaman artistik langsung sebagai medium yang diperlukan untuk memperbarui cara kita memahami dunia.”
Karya teater Under the Volcano garapan sutradara Yusril Katil dari Komunitas Seni Hitam-Putih, Sumatera Barat dipentaskan selama dua hari, Selasa-Rabu, 16-17 Juni 2026 di Teatro alle Tese, Arsenale. Sedangkan pertunjukan Hikayat Perahu/The Tale of Boat yang disutradarai Sri Qadariatin ditampilkan di teater yang sama pada Kamis–Jumat, 18–19 Juni 2026.
Pada Rabu, 17 Juni 2026, dilaksanakan “Bincang Seni” bersama dengan kedua sutradara di Sala delle Colonne, Ca’ Giustinian yang dimoderatori Maddalena Giovannelli. Sesi ini akan membahas proses kreatif kedua sutradara dalam mengembangkan karya serta tantangan menghadirkan karya berbasis tradisi Indonesia kepada audiens internasional.
“Melalui forum ini publik diharapkan memperoleh wawasan baru mengenai perkembangan seni pertunjukan kontemporer Indonesia yang tetap berakar pada tradisi,” kata Restu Imansari Kusumaningrum, Pimpinan Produksi dari Bumi Purnati Indonesia.
Ia menjelaskan, kehadiran karya ini bukan sekadar partisipasi Indonesia dalam festival teater paling bergengsi di dunia, melainkan juga penegasan bahwa pengalaman masyarakat yang hidup di bawah ancaman gunung api di Nusantara memiliki daya resonansi universal bagi publik internasional.
Willem Dafoe, direktur festival, mengatakan La Biennale Venesia tahun ini mengusung tema Alter-Native. Tema tersebut mengajak para seniman dunia untuk menafsirkan hubungan antara perubahan dan identitas, antara yang lain dan akar budaya.
“Dalam konteks itu, Under the Volcano hadir sebagai representasi kuat dari bagaimana sebuah pengalaman lokal dapat menjelma menjadi refleksi global tentang kemanusiaan,” kata Willem Dafoe.
Ia menambahkan, karya Yusril Katil membawa cerita yang lahir dari tanah vulkanik Sumatera dari pengalaman hidup masyarakat yang setiap hari berhadapan dengan kemungkinan bencana, tetapi tetap menjaga harapan, solidaritas, dan keberlanjutan hidup.
Ingatan dari Lereng Gunung
Bagi Yusril Katil, Under the Volcano bukanlah karya tentang bencana semata. Ia merupakan perjalanan pulang menuju akar ingatan.
Sumber utama penciptaan karya ini adalah Syair Lampung Karam karya Muhammad Saleh, teks sastra penting yang ditulis setelah letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883. Syair tersebut merupakan salah satu catatan paling awal tentang salah satu bencana terbesar dalam sejarah dunia modern.
Namun Yusril Katil tidak berhenti pada peristiwa Krakatau. Ia membawa pengalaman itu ke ruang hidupnya sendiri sebagai anak Minangkabau yang tumbuh di bawah bayang-bayang Gunung Marapi dan Gunung Singgalang.
Dalam kehidupan masyarakat Minangkabau (Sumatera Barat), gunung bukan sekadar lanskap geografis. Ia adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Gunung menjadi sumber air, sumber kesuburan tanah, sekaligus ancaman yang sewaktu-waktu dapat meletus.
“Hubungan masyarakat dengan gunung selalu berada dalam dua kutub: rasa syukur dan kewaspadaan. Gunung bukan latar statis, melainkan detak jantung dan kecemasan yang konstan,” kata YusrilKatil dalam pernyataan artistiknya.
Dari pengalaman itulah lahir gagasan untuk menafsirkan kembali Syair Lampung Karam melalui bahasa teater tubuh yang selama ini menjadi ciri khas Komunitas Seni Hitam-Putih.
Ketika Tubuh Menjadi Bahasa
Didirikan pada 31 Oktober 1997, Komunitas Seni Hitam-Putih dikenal sebagai kelompok yang konsisten mengembangkan teater tubuh. Dalam berbagai karya, kelompok ini mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru bahasa panggung dengan menjadikan tubuh sebagai medium utama ruang ekspresif-penceritaan.
Dalam Under the Volcano, pendekatan tersebut mencapai salah satu bentuk paling matang. Tidak ada dialog panjang yang menjelaskan kronologi bencana. Tidak ada narasi verbal yang mendominasi. Yang berbicara adalah tubuh para performer.
Gerakan-gerakan mereka bersumber dari silat Minangkabau yang kemudian didistorsi menjadi bahasa tubuh kontemporer. Tubuh bergerak dalam pola vertikal dan horizontal. Kadang menyerupai warga yang sedang bekerja di ladang. Kadang berubah menjadi manusia yang panik ketika bumi berguncang. Kadang menjelma menjadi korban yang kehilangan keluarga dan rumah.
Dalam proses kreatifnya, Yusril Katil memperlakukan bahasa bukan hanya sebagai kata-kata yang memiliki makna semantik. Dialek lokal, rima, intonasi, dan bunyi-bunyian tradisional diolah menjadi material artistik yang hidup.
“Kata-kata tidak lagi berfungsi sebagai alat komunikasi biasa. Ia menjadi ritme, energi, dan memori kolektif yang menghidupkan kembali pengalaman masyarakat yang pernah berhadapan dengan bencana,” papar sosok yang juga aktof film ini.
Menurutnya, pendekatan semacam ini membuat Under the Volcano mampu melampaui batas bahasa. Penonton yang tidak memahami bahasa Indonesia tetap dapat menangkap emosi yang dibangun melalui tubuh, suara, dan ruang.
Delapan Tangga yang Menjadi Dunia
Salah satu kekuatan utama karya ini terletak pada kesederhanaan artistiknya. Di atas panggung hanya terdapat delapan tangga kayu. Namun dari properti sederhana itulah tercipta lanskap yang terus berubah. Tangga-tangga itu menjadi lereng gunung. Menjadi jalan pelarian. Menjadi rumah-rumah warga. Menjadi pasar. Menjadi pemakaman.
Direktur artistik Restu Imansari Kusumaningrum melihat tangga-tangga tersebut sebagai simbol perjuangan manusia menghadapi bencana. Ketika para performer memanjat dan turun dari tangga, penonton menyaksikan bukan hanya aktivitas fisik, melainkan metafora tentang usaha manusia untuk bertahan hidup.
“Anak tangga itu bukan sekadar properti, tetapi perlambang dari upaya penyelamatan manusia dan bagaimana solidaritas di antara mereka terbangun demi mencapai kehidupan yang lebih baik,” kata Restu.
Dramaturg Under The Volcano, Rhoda Grauer, menilai kemampuan Yusril Katil mengubah delapan tangga kayu menjadi beragam lanskap kehidupan sebagai salah satu kekuatan terbesar pertunjukan tersebut.
“Dengan bantuan layar besar yang menampilkan citra letusan gunung, aliran lava, batu pijar, dan tsunami, pengalaman visual pertunjukan menjadi semakin kuat. Penonton tidak hanya menyaksikan kisah bencana, tetapi juga ikut merasakan panas, ketakutan, dan kepanikan yang melingkupi para korban,” ujar Rhoda Grauer.
Menurutnya, kesederhanaan properti panggung yang ditransformasikan secara kreatif menjadi berbagai ruang dan situasi kehidupan menunjukkan kecakapan artistik Yusril Katil dalam membangun metafora visual yang kuat, sekaligus menghadirkan pengalaman emosional yang mendalam bagi penonton.
Dari Lereng Gunung Marapi ke Pangguung Dunia
Perjalanan Under the Volcano menuju Venesia sesungguhnya telah berlangsung lebih dari satu dekade. Karya ini pertama kali diproduksi melalui kolaborasi Komunitas Seni Hitam-Putih dan Bumi Purnati Indonesia untuk Olimpiade Teater ke-6 di Beijing pada 2014.
Saat itu, Yusril Katil menjadi salah satu sutradara Indonesia yang tampil dalam forum seni pertunjukan internasional paling prestisius. Pementasan di Dayin Theatre, Beijing, mendapat perhatian karena berhasil memadukan estetika kontemporer dengan akar budaya Minangkabau.
Selepas Beijing, karya ini melanjutkan perjalanannya ke Singapura pada 2016, tampil dalam Borobudur Writers and Cultural Festival pada 2018, kemudian dipentaskan kembali di Gedung Ciputra Jakarta pada 2022.
Kini, setelah melewati proses pematangan artistik selama bertahun-tahun, Under the Volcano hadir di Venesia sebagai karya yang telah teruji oleh berbagai panggung dan audiens internasional.
Perjalanan itu menunjukkan bahwa karya berbasis tradisi lokal tidak harus terjebak menjadi artefak budaya. Sebaliknya, ia dapat berkembang menjadi bahasa artistik yang relevan bagi publik global.
Empat performer yang terlibat sejak awal proses penciptaan Under the Volcano pada 2014 hingga pementasannya di Venesia pada 2026 adalah Dedi Darmadi, Hadi Yusra, Deri Sukaik, dan Leoni Intan Sari. Menurut Yusril Katil, keempatnya merupakan bagian penting dari perjalanan kreatif pertunjukan tersebut.
“Mereka, empat performer itu, sudah 12 tahun ikut dalam proses. Kami mulai menggarap Under the Volcano sejak tahun 2014,” ujar Yusril Katil, yang juga dosen di ISI Padang Panjang.
Konsistensi para performer dalam mengikuti proses penciptaan selama lebih dari satu dekade menunjukkan kedalaman riset artistik dan ikatan kolektif yang menjadi kekuatan utama pertunjukan ini. Pengalaman panjang tersebut turut membentuk kematangan artistik Under the Volcano hingga akhirnya mendapat kesempatan tampil di panggung internasional Biennale Venesia 2026.
Meskipun berbicara tentang letusan gunung dan tsunami, inti terdalam Under the Volcano bukanlah kehancuran. Yang ingin ditampilkan Yusril Katil justru adalah kemampuan manusia untuk bangkit.
Ia menceritakan, setelah letusan mereda, masyarakat masih harus menghadapi trauma dan kemiskinan. Kehidupan tidak langsung kembali normal. Ada luka yang harus disembuhkan. Ada rumah yang harus dibangun ulang. Ada kehilangan yang harus diterima. Namun dari puing-puing itulah muncul solidaritas. Orang-orang saling membantu. Mereka bekerja bersama. Mereka membangun kembali kampung yang hancur.
“Pesan inilah yang membuat karya tersebut terasa sangat relevan di berbagai belahan dunia. Hampir setiap bangsa memiliki pengalaman tentang bencana, perang, pandemi, atau krisis sosial. Dalam setiap tragedi, selalu ada dua kemungkinan: tenggelam dalam keputusasaan atau bangkit melalui kebersamaan,” tambah Restu Imansari Kusumaningrum.
Musik, yang menjadi bagian inheren dan elemen penting dalam pertunjukan Under The Volcano, ditata oleh komposer senior Elizar Koto. Melalui komposisinya, Elizar menghadirkan lanskap bunyi yang memperkuat atmosfer bencana, kepanikan, duka, hingga semangat kebangkitan masyarakat pascabencana yang menjadi ruh pertunjukan tersebut.
Membawa Minangkabau ke Panggung Dunia
Bagi Sumatera Barat, kehadiran Under the Volcano di Biennale Venesia memiliki makna simbolik yang besar. Selama ini Minangkabau dikenal luas melalui sastra, musik, dan tradisi merantau. Namun dalam dua dekade terakhir, seni pertunjukan kontemporer dari Sumatera Barat juga menunjukkan perkembangan yang signifikan.
Yusril Katil termasuk tokoh penting dalam perkembangan tersebut. Berangkat dari pengalaman sebagai aktor Bumi Teater pimpinan Wisran Hadi, ia kemudian mendirikan Komunitas Seni Hitam-Putih dan mengembangkan pendekatan teater tubuh yang khas.
Melalui Under the Volcano, identitas Minangkabau tidak ditampilkan sebagai folklor atau eksotisme budaya. Ia hadir sebagai sumber energi kreatif yang terus bergerak dan bertransformasi.

Silat Minangkabau menjadi bahasa tubuh kontemporer. Dialek lokal menjadi material musikal. Pengalaman hidup masyarakat di lereng gunung menjadi refleksi universal tentang ketahanan manusia.Pementasan dua karya Indonesia dalam The 54th International Theatre Festival – La Biennale di Venezia 2026 terlaksana berkat dukungan berbagai lembaga dan mitra, yakni Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Istituto Italiano di Cultura Jakarta, Yayasan Bali Purnati, Tulisan dan Melissa Sunjaya, Studio Alam KSJP, iForte, serta Music Yes.
“Kolaborasi ini menjadi bukti kuatnya sinergi berbagai pihak dalam mendukung kehadiran seni pertunjukan Indonesia di panggung internasional dan memperkuat diplomasi budaya Indonesia di kancah dunia,” ujar Restu. ssc/mn