Padang, sumbarsatu.com--Bagi anak-anak yang tumbuh di kota, nasi, sayur, dan buah lebih sering hadir dalam bentuk makanan yang siap disantap. Mereka mengenal rasa dan bentuknya, tetapi belum tentu mengetahui perjalanan panjang di balik makanan tersebut: bagaimana tanaman tumbuh, siapa yang merawatnya, berapa lama prosesnya, dan bagaimana hasil pertanian akhirnya sampai ke meja makan.
Jarak antara anak-anak dan sumber pangan itu semakin terasa di kawasan perkotaan seperti Depok. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan luas sawah yang tercatat di Kota Depok sekitar 135 hektare pada 2021. Tiga tahun kemudian, luas tersebut tersisa 61 hektare pada 2024 atau menyusut sekitar 54,8 persen.
Pada skala nasional, Indonesia memiliki sekitar 7,38 juta hektare Lahan Baku Sawah pada 2024. Jawa Barat sendiri tercatat memiliki sekitar 916.798 hektare.
Angka-angka tersebut memang menggambarkan luas lahan pertanian. Namun, ada persoalan lain yang menyertainya. Ketika ruang pertanian semakin jauh dari kehidupan sehari-hari anak-anak perkotaan, kesempatan mereka untuk mengenal dari mana pangan berasal dan bagaimana pangan dihasilkan juga semakin terbatas.
Persoalan itulah yang coba didekatkan kembali melalui kebun sekolah di TK Siti Maryam, Kelurahan Curug, Kecamatan Bojongsari, Depok. Pada peringatan Hari Tani Nasional 2026, Kamis (24/9/2026), kebun sekolah berubah menjadi ruang belajar bagi anak-anak untuk mengenal tanaman, tanah, proses menanam, sekaligus kerja petani.
Dari Lahan ke Anak
Pagi itu, anak-anak tidak hanya diajak menyebut nama tanaman. Mereka mengamati bentuk dan bagian tanaman, membandingkan bagian yang tumbuh di atas permukaan tanah dengan bagian yang tersembunyi di dalam tanah.
Cabai, singkong, pisang, mangga, pepaya, dan kacang menjadi bagian dari ruang belajar tersebut. Tanaman yang biasanya hanya dikenal melalui gambar atau buku kini berada di hadapan mereka, dapat diamati dan disentuh secara langsung.
Pertanyaan kemudian berkembang. Bukan lagi sekadar, "Ini tanaman apa?" tetapi juga, apa yang harus dilakukan agar tanaman dapat hidup dan menghasilkan?
Anak-anak menanam singkong dan kacang. Bibit dimasukkan ke dalam tanah untuk kemudian dirawat bersama hingga waktunya dipanen.
Kepala TK Siti Maryam, H. Sigit Subiyanto, SE, mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu cara sederhana untuk memperkenalkan kerja petani melalui pengalaman langsung.
"Anak-anak perlu mengenal bahwa di balik pangan yang mereka konsumsi ada petani yang menanam, merawat, dan bekerja keras hingga hasilnya bisa dinikmati. Karena itu, Hari Tani Nasional kami manfaatkan untuk menanamkan rasa syukur sekaligus penghargaan kepada petani Indonesia," ungkapnya.
Belajar dari Kebun
Kegiatan menanam bukan sesuatu yang baru bagi anak-anak di TK Siti Maryam. Kebun sekolah telah menjadi bagian dari pembelajaran yang terhubung dengan konsep pertanian terpadu.
Selain tanaman, anak-anak diperkenalkan dengan pemeliharaan ikan lele, ayam, dan maggot. Hasil dari kegiatan tersebut pada kesempatan tertentu digunakan dalam pembelajaran cooking class, ketika anak-anak belajar memasak bersama.
Aktivitas berkebun biasanya dilakukan pada pagi hari sebelum anak mengikuti pembelajaran di kelas dan sarapan. Dengan pola tersebut, tanaman tidak hadir hanya sebagai materi dalam satu kegiatan khusus, tetapi menjadi bagian dari pengalaman keseharian anak di sekolah.
Aprilianti Putri Hermawan, guru Kelompok Bermain sekaligus koordinator kegiatan Hari Tani Nasional, mengatakan pembelajaran tersebut tidak berhenti pada pengenalan nama dan jenis tanaman.
"Yang ingin kami tanamkan bukan hanya pengetahuan tentang tanaman. Anak-anak belajar bahwa untuk menghasilkan sesuatu dibutuhkan proses dan perawatan. Dari sana mereka belajar menghargai makanan, alam, dan orang-orang yang bekerja menghasilkan pangan," ujarnya.
Pengalaman di kebun kemudian berhubungan dengan kebiasaan makan bersama. Saat sarapan, guru mengajak anak-anak bersyukur atas makanan yang tersedia sekaligus mengenalkan bahwa makanan yang tersaji di hadapan mereka memiliki proses panjang sebelum sampai ke meja makan.
Dengan cara sederhana itu, hubungan antara tanaman, pangan, dan kerja petani mulai diperkenalkan sejak usia dini.
Dari Sekolah ke Rumah
Rangkaian kegiatan Hari Tani Nasional tidak hanya berlangsung di kebun sekolah. Sebelumnya, anak-anak mendapat tugas bersama orang tua membuat topi petani dari karton atau kardus bekas. Topi tersebut kemudian dihias secara kreatif dan dikenakan saat kegiatan peringatan.
Kegiatan itu membuka ruang bagi orang tua untuk melanjutkan pengalaman belajar anak di rumah.
Nur Kholisoh Labibah, wali murid M. Nu'man Abdullah, siswa TK A, mengapresiasi kegiatan yang secara konsisten mengenalkan kecintaan terhadap lingkungan melalui aktivitas menanam dan merawat tanaman.
"Saya sangat mengapresiasi kegiatan yang mengenalkan kecintaan terhadap lingkungan sejak dini melalui menanam dan merawat tanaman. Saya melihat anak saya menjadi lebih bersemangat berkebun di rumah. Dari kegiatan seperti ini, anak juga belajar menghargai alam dan mengenal jasa petani," ujarnya.
Ia berharap kegiatan semacam itu tidak berhenti sebagai pengalaman sesaat, tetapi berkembang menjadi kebiasaan dan cara pandang anak terhadap lingkungan serta makanan yang mereka konsumsi sehari-hari.
"Semoga anak-anak semakin mengenal alam, memahami pentingnya menjaga lingkungan, dan tumbuh dengan kesadaran bahwa apa yang ada di sekitar kita perlu dirawat bersama," katanya.
Menanam Syukur
Bagi anak-anak, memahami perjalanan pangan tidak harus dimulai dari angka produksi atau luas lahan. Mereka dapat memulainya dari sesuatu yang dekat: tanaman yang dilihat, tanah yang disentuh, dan makanan yang disantap.
Di balik sepiring nasi terdapat rangkaian kerja yang panjang. Padi ditanam dan dirawat petani, kemudian dipanen dan diolah sebelum hasilnya melalui berbagai tahapan hingga menjadi beras dan akhirnya tersaji sebagai nasi di meja makan.
Sebagian besar proses itu tidak terlihat oleh anak-anak yang tumbuh di perkotaan. Mereka mengenal pangan ketika sudah berada pada tahap akhir, sementara proses yang membuat pangan tersebut tersedia berlangsung jauh dari pandangan mereka.
Kebun sekolah menghadirkan kembali sebagian kecil proses tersebut dalam jarak yang dekat. Anak-anak dapat melihat tanaman tumbuh, belajar merawatnya, sekaligus memahami bahwa hasil tidak datang secara instan.
Bibit singkong yang ditanam pada Hari Tani Nasional itu belum menghasilkan apa-apa. Anak-anak masih harus kembali melihatnya, menyiram dan merawatnya, menunggu pertumbuhannya, hingga kelak menyaksikan hasilnya.
Di situlah penghargaan terhadap petani mulai diperkenalkan. Bukan semata melalui hafalan tentang Hari Tani Nasional, melainkan melalui pengalaman sederhana: menanam, merawat, menunggu, dan memahami bahwa pangan yang hadir di meja makan merupakan hasil kerja banyak tangan. ssc/rel