OLEH Indra Utama--Pemerhati Budaya
PADA tahun 1970-an, pernah muncul sebuah tulisan di surat kabar Haluan dengan judul Antara Tema dan Variasi. Kebetulan penulisnya adalah ayah saya. Tulisan tersebut berangkat dari dunia musik, tetapi sesungguhnya menyimpan gagasan yang jauh lebih luas tentang kehidupan.
Dalam sebuah permainan musik, tema dan variasi tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Tema memberikan arah dan menjadi dasar permainan, sementara variasi memberikan warna, dinamika, dan kehidupan. Tema yang dimainkan terlalu kuat tanpa variasi akan membuat musik terdengar kaku dan monoton.
Sebaliknya, variasi yang terlalu bebas tanpa hubungan dengan tema akan membuat musik kehilangan arah. Keduanya perlu ditempatkan dalam hubungan yang seimbang agar lahir harmoni.
Gagasan yang sederhana itu sebenarnya dapat digunakan untuk melihat pembangunan. Setiap zaman mempunyai tema pembangunannya sendiri. Ada masa ketika pemulihan ekonomi menjadi kebutuhan yang paling mendesak.
Ada masa ketika pembangunan infrastruktur menjadi prioritas. Ada pula masa ketika teknologi, investasi, pariwisata, atau pembangunan kawasan menjadi perhatian utama. Tidak ada yang salah dengan menentukan prioritas. Sebuah pemerintahan memang harus menentukan apa yang perlu didahulukan sesuai dengan keadaan masyarakat dan tantangan zamannya.
Persoalan mulai muncul ketika sebuah tema pembangunan dimainkan terlalu keras sehingga suara-suara lain hampir tidak terdengar. Ekonomi menjadi ukuran utama keberhasilan, pembangunan fisik menjadi wajah kemajuan, sementara pendidikan, kebudayaan, olahraga, kesehatan, lingkungan, etika sosial, dan pembangunan karakter seolah-olah cukup ditempatkan sebagai variasi yang boleh ada, tetapi tidak terlalu penting untuk diperhatikan.
Padahal manusia tidak pernah hidup hanya dalam satu dimensi. Masyarakat memang membutuhkan penghasilan yang layak, tetapi juga membutuhkan lingkungan yang sehat. Masyarakat membutuhkan jalan yang baik, tetapi juga membutuhkan ruang untuk berkumpul.
Anak-anak membutuhkan sekolah yang bagus, tetapi juga membutuhkan lapangan untuk bermain dan berolahraga. Kota membutuhkan pusat perdagangan dan kawasan ekonomi, tetapi juga membutuhkan taman, ruang publik, perpustakaan, museum, ruang kesenian, dan tempat-tempat yang memungkinkan manusia bertemu bukan hanya sebagai konsumen, tetapi sebagai warga.
Di sinilah pembangunan sering menghadapi persoalan yang tidak selalu terlihat dalam angka-angka. Pembangunan fisik relatif mudah dikenali. Jalan yang baru dapat dilihat. Jembatan yang selesai dapat difoto. Gedung yang tinggi dapat menjadi kebanggaan. Kawasan baru dapat ditunjukkan sebagai tanda bahwa sebuah daerah sedang bergerak maju. Semua itu penting dan memang dibutuhkan.
Tetapi bagaimana membangun kehidupan masyarakat yang semakin memiliki etika? Bagaimana mengukur bertambahnya rasa saling menghargai? Bagaimana menghitung tumbuhnya kecintaan generasi muda terhadap kebudayaannya? Bagaimana menilai sebuah kota yang semakin nyaman karena warganya memiliki ruang untuk berolahraga, berkesenian, membaca, berdiskusi, dan berinteraksi? Hal-hal semacam ini tidak mudah dipasang dalam angka, padahal justru di situlah kualitas kehidupan manusia sering kali ditentukan.
Kebudayaan, misalnya, sering berada dalam posisi yang aneh. Ketika sebuah daerah hendak memperkenalkan identitasnya, kebudayaan segera dipanggil. Tari ditampilkan, musik dimainkan, pakaian adat dikenakan, kuliner dipromosikan, tradisi disebut-sebut sebagai kekayaan daerah. Kebudayaan menjadi wajah yang indah untuk dipertontonkan kepada orang luar. Namun ketika berbicara tentang pembangunan jangka panjang, fasilitas kebudayaan sering tidak memperoleh perhatian yang sebanding.
Gedung kesenian terlihat terbengkalai. Pembangunannya tidak diselesaikan atau di sebagian kota malah tidak ada. Ruang kreatif tidak tersedia. Sanggar berjalan dengan kemampuan sendiri. Komunitas budaya bertahan karena kegigihan para pelakunya. Taman budaya yang semestinya menjadi ruang hidup kesenian dan kebudayaan bahkan berada dalam keadaan yang tidak jelas nasibnya.
Keadaan seperti ini menimbulkan pertanyaan sederhana: kalau kebudayaan dianggap sebagai identitas penting sebuah daerah, mengapa rumah bagi kebudayaan itu sendiri sering tidak menjadi prioritas pembangunan?
Tentu tidak berarti pembangunan ekonomi harus dikurangi demi membangun gedung kesenian. Bukan pula berarti jalan, jembatan, pasar, kawasan industri, atau berbagai fasilitas fisik tidak penting. Persoalannya bukan memilih antara ekonomi atau kebudayaan, antara infrastruktur atau kesenian, antara pembangunan fisik atau pembangunan manusia. Persoalannya adalah bagaimana semuanya ditempatkan dalam sebuah komposisi pembangunan yang seimbang dan masuk akal.
Kebudayaan bukan sekadar pertunjukan. Ia membentuk cara manusia memandang kehidupan. Di dalam kebudayaan terdapat nilai, etika, ingatan, identitas, rasa keindahan, cara berhubungan dengan orang lain, dan cara sebuah masyarakat memahami dirinya sendiri.
Masyarakat yang ekonominya tumbuh tetapi kehilangan kepekaan sosial tentu menghadapi persoalan yang berbeda dengan masyarakat yang pertumbuhan ekonominya berjalan bersamaan dengan penguatan pendidikan, kebudayaan, kesehatan, olahraga, dan kehidupan sosial.
Begitu pula olahraga. Olahraga sering kali baru mendapat perhatian ketika akan dilaksanakan Pekan Olahraga. Ketika itu baru akan dibicarakan hal prestasi. Medali dihitung, kejuaraan dibicarakan, atlet diberi penghargaan. Padahal pembangunan olahraga jauh lebih luas daripada mengejar prestasi. Anak-anak membutuhkan tempat bermain. Remaja membutuhkan ruang untuk menyalurkan energi.
Masyarakat membutuhkan fasilitas untuk menjaga kesehatan. Di lapangan olahraga, seseorang belajar tentang disiplin, aturan, kerja sama, ketekunan, sportivitas, kemenangan, dan kekalahan. Semua itu adalah bagian dari pembangunan manusia.
Sebuah lapangan yang sederhana mungkin tidak sebesar gedung bertingkat, tetapi manfaat sosialnya bisa sangat besar. Di sana anak-anak dapat tumbuh tanpa harus mencari tempat bermain di jalan raya. Di sana para remaja dapat bertemu dalam kegiatan yang sehat. Di sana masyarakat dapat membangun kebersamaan. Karena itu, olahraga bukan sekadar variasi yang mengisi waktu setelah pembangunan ekonomi selesai. Ia merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang ikut menentukan kualitas manusia.
Pendidikan juga tidak selesai dengan membangun sekolah dan menambah ruang kelas. Gedung hanyalah wadah. Pendidikan yang sesungguhnya terjadi melalui proses membentuk manusia yang mampu berpikir, bertanya, memahami perbedaan, bekerja sama, menghargai orang lain, dan mempunyai tanggung jawab terhadap kehidupannya. Jika pendidikan hanya dihitung dari jumlah bangunan yang berdiri, maka yang diukur baru wadahnya, belum tentu isinya.
Demikian pula lingkungan. Sebuah daerah dapat membangun kawasan baru dengan sangat cepat, atau merenovasi yang sudah ada agar terlihat indah. Tetapi pada saat yang sama seperti kehilangan kenyamanan. Di atas kertas pembangunan mungkin terlihat berhasil, tetapi kehidupan masyarakat perlahan membayar harga yang lain. Alam seperti variasi dalam sebuah komposisi musik: sering tidak menjadi pusat perhatian, tetapi ketika ia hilang, seluruh komposisi akhirnya terganggu.
Karena itu, pembangunan tidak semestinya dipahami sebagai perlombaan untuk membuat sebuah daerah tampak semakin besar, semakin ramai, dan semakin modern. Pembangunan seharusnya membuat kehidupan masyarakat menjadi semakin baik. Ukurannya bukan hanya apa yang tampak dari luar, tetapi juga apa yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari.
Apakah masyarakat semakin sehat? Apakah anak-anak mempunyai ruang bermain? Apakah generasi muda mempunyai tempat untuk berkarya? Apakah seniman mempunyai ruang untuk mencipta? Apakah masyarakat mempunyai ruang publik untuk bertemu? Apakah lingkungan tetap terjaga? Apakah pendidikan menghasilkan manusia yang lebih mampu berpikir dan bertanggung jawab? Apakah pertumbuhan ekonomi berjalan bersama dengan meningkatnya kualitas kehidupan sosial?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin tidak selalu menarik untuk dipamerkan dalam sebuah seremoni peresmian. Tetapi justru pertanyaan semacam itulah yang menentukan apakah pembangunan benar-benar menyentuh kehidupan manusia.
Dalam musik, tidak semua instrumen harus menjadi melodi utama. Ada instrumen yang memainkan tema, ada yang mengisi harmoni, ada yang memberi ritme, dan ada yang sesekali tampil untuk memberi kejutan. Tidak ada yang merasa rendah karena tidak menjadi suara utama. Masing-masing mempunyai fungsi dalam keseluruhan komposisi. Ketika semuanya memahami tempat dan perannya, musik menjadi hidup.
Pembangunan masyarakat pun demikian. Ekonomi mempunyai perannya. Infrastruktur mempunyai perannya. Pendidikan, kebudayaan, olahraga, kesehatan, lingkungan, dan kehidupan sosial juga mempunyai perannya. Tidak semuanya harus menjadi tema utama dalam setiap keadaan, tetapi tidak pula boleh ada yang terus-menerus dianggap tidak penting. Yang dibutuhkan bukan pembangunan yang seragam, melainkan pembangunan yang harmonis.
Mungkin persoalan pembangunan hari ini bukan karena terlalu sedikit yang dibangun. Justru di banyak tempat pembangunan berlangsung dengan sangat giat. Persoalannya adalah apakah pembangunan tersebut telah memberikan ruang yang cukup bagi seluruh unsur kehidupan manusia untuk tumbuh bersama.
Jangan sampai jalan semakin lebar, gedung semakin tinggi, pusat ekonomi semakin ramai, tetapi ruang kebudayaan semakin sempit; jangan sampai fasilitas semakin banyak, tetapi kualitas hubungan antarmanusia semakin renggang; jangan sampai masyarakat semakin mampu membeli banyak hal, tetapi semakin kehilangan kemampuan menikmati kehidupan.
Gagasan Antara Tema dan Variasi yang pernah muncul puluhan tahun lalu menjadi menarik untuk direnungkan kembali bukan karena zaman harus kembali ke masa lalu, tetapi karena persoalan keseimbangan dalam kehidupan ternyata tidak pernah benar-benar selesai.
Setiap zaman mungkin mempunyai tema yang berbeda, tetapi kebutuhan terhadap harmoni tetap sama. Sebab pembangunan yang hanya membesarkan satu tema pada akhirnya akan membuat kehidupan kehilangan warna.
Ekonomi penting, tetapi manusia bukan angka pertumbuhan ekonomi. Infrastruktur penting, tetapi manusia bukan pengguna jalan semata. Pendidikan penting, tetapi manusia bukan sekadar pemegang ijazah. Olahraga penting, bukan hanya karena medali. Kebudayaan penting, bukan hanya karena pertunjukan. Lingkungan penting, bukan hanya ketika bencana datang.
Semua itu adalah bagian dari kehidupan. Dan barangkali di situlah makna pembangunan yang sesungguhnya: bukan membuat satu suara terdengar paling keras, melainkan membuat berbagai suara kehidupan dapat tumbuh bersama dalam sebuah harmoni. Sebab ketika tema mengalahkan variasi, pembangunan mungkin tetap terdengar megah, tetapi kehidupan belum tentu menjadi indah.*
Bukittinggi, 23 September 2026