Nan Jombang Bawa Tambua Tasa Sabariyah Maninjau ke Galeri Indonesia Kaya

TAMPIL PADA SABTU, 26 SEPTEMBER 2026

Kamis, 24/09/2026 14:54 WIB
Sanggar Tambua Tasa Sabariyah dari Maninjau, Kabupaten Agam, untuk tampil di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Sabtu, 26 September 2026. foto dok nan jombang

Sanggar Tambua Tasa Sabariyah dari Maninjau, Kabupaten Agam, untuk tampil di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Sabtu, 26 September 2026. foto dok nan jombang

 

Padang, sumbarsatu.com— Festival Nan Jombang Tanggal 3 kembali membawa kekuatan seni tradisi Minangkabau ke panggung Jakarta. Kali ini, Nan Jombang Dance Company memilih Sanggar Tambua Tasa Sabariyah dari Maninjau, Kabupaten Agam, untuk tampil di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Sabtu, 26 September 2026.

Penampilan Sabariyah menjadi bagian dari kesinambungan program Nan Jombang Dance Company membawa kelompok-kelompok yang sebelumnya tampil di Festival Nan Jombang Tanggal 3 ke panggung ibu kota. Hingga 2026, sudah empat kelompok yang mendapat kesempatan tersebut, yakni Kelompok Musik Mahoni dan Sanggar Parewa Limo Suku pada 2024, Sanggar Seni Cahayo Bundo dengan koreografer Filhamzah pada 2025, serta Sanggar Tambua Tasa Sabariyah pada 2026.

 Keempat kelompok tersebut terlebih dahulu tampil dalam Festival Nan Jombang Tanggal 3 sebelum dibawa untuk mempertunjukkan karyanya di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta. 

Kelompok kesenian Sanggar Tambua Tasa Sabariyah yang telah tumbuh lintas generasi itu akan menghadirkan karya Warih atau waris, sebuah pertunjukan kolaborasi tambua tasa dan tari kontemporer yang berbicara tentang kepergian, jejak yang ditinggalkan, serta bagaimana sebuah tradisi diwariskan dan diterima oleh masyarakat. 

“Sabariyah merupakan sanggar keempat yang kami bawa untuk tampil di Galeri Indonesia Kaya,” kata Angga Mefri, Direktur Festival Nan Jombang, Kamis (24/9/2026).

 Angga menjelaskan, Sanggar Tambua Tasa Sabariyah akan tampil dalam dua sesi, yakni pukul 15.00 WIB dan 19.00 WIB. Pertunjukan Warih mempertemukan energi musikal tambua tasa dengan tubuh tari kontemporer.

 Menurut konsep pertunjukannya, Warih berangkat dari gagasan tentang kepergian yang meninggalkan jejak. Dalam diam sebuah kepergian, terdapat warisan yang harus terus dirawat agar sesuatu yang telah ditinggalkan tidak terputus begitu saja.

Dentuman tambua menjadi salah satu kekuatan utama pertunjukan. Bunyi yang lahir dari tabuhan tidak semata-mata ditempatkan sebagai pengiring tari, tetapi menjadi bagian dari perjalanan gagasan mengenai perjuangan, kemenangan, sekaligus beban yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. 

Riuh dentuman tambua dalam Warih dengan demikian menjadi simbol dari pengalaman kolektif. Di dalamnya terdapat jejak perjuangan yang dirajut menjadi semacam kumpulan benang kemenangan, tetapi pada saat bersamaan kemenangan itu membawa tanggung jawab untuk mempertahankan sesuatu yang telah diwariskan. 

Secara keseluruhan, karya tersebut menggambarkan persoalan pewarisan tradisi dan kebudayaan dalam sebuah komunitas. Pertunjukan juga membaca bagaimana masyarakat menerima, mempertahankan, sekaligus memberi ruang bagi sebuah tradisi untuk bergerak mengikuti perjalanan zaman.

"Pilihan terhadap Sanggar Tambua Tasa Sabariyah memperlihatkan salah satu arah yang selama ini dibangun Festival Nan Jombang Tanggal 3, yakni mempertemukan seni tradisi dengan ruang penciptaan dan presentasi yang lebih luas," urai Angga Mefri.

Festival Nan Jombang Tanggal 3 telah berlangsung sejak 2013. Festival tersebut digagas Ery Mefri sebagai ruang pertunjukan seni tradisi Sumatera Barat dan kemudian berkembang menjadi salah satu ruang pertemuan antara kesenian tradisi dan karya-karya kontemporer.

Sementara itu, Sanggar Tambua Tasa Sabariyah yang berasal dari Maninjau memiliki sejarah panjang dalam mempertahankan kesenian tradisi di tengah masyarakat.

Kelompok tersebut berdiri pada 7 Juli 1994 dan didirikan Abadi Katik Panduko Rajo bersama Ayub Tan Nagari, keduanya putra asli Maninjau.

Dalam perjalanannya, Sabariyah berkembang hingga generasi ke-10. Keberadaan kelompok ini tidak hanya berkaitan dengan pertunjukan tambua tasa, tetapi juga dengan upaya mempertahankan nilai budaya yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat nagari. 

Bagi masyarakat salingkar  Danau Maninjau, keberadaan tambua tasa menjadi bagian dari ekspresi kebudayaan dan identitas komunitas. Karena itu, keberangkatan Sabariyah ke Jakarta melalui Festival Nan Jombang tidak hanya membawa sebuah kelompok pertunjukan, tetapi juga membawa jejak tradisi yang tumbuh dan diwariskan dalam lingkungan masyarakat Maninjau. 

Melalui Warih, tradisi tersebut kemudian dipertemukan dengan bahasa tari kontemporer. Pertemuan itu menjadi ruang untuk membaca kembali bagaimana sebuah warisan budaya tidak hanya dipertahankan dalam bentuk aslinya, tetapi juga dapat ditafsirkan melalui pengalaman generasi yang hidup pada masa kini.

 Pertunjukan di Galeri Indonesia Kaya pada Sabtu (26/9/2026) menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Dari Maninjau ke Jakarta, dentuman tambua tasa Sabariyah membawa cerita tentang warisan, kehilangan, perjuangan dan keberlanjutan tradisi ke ruang pertunjukan yang lebih luas. ssc/mn



BACA JUGA