Refleksi atas Kepemimpinan Baru ISI Padang Panjang

DI ERA AI, MASIH BAMANTAGI-KAH KAMPUS SENI?

Kamis, 11/06/2026 09:13 WIB
Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam ISI Padang Panjang

Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam ISI Padang Panjang

OLEH Nurkholis-Komposer

 

Dari ASKI ke ISI: Kampus Seni yang Selalu Berubah

PADA tahun 1965, ketika Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Padang Panjang lahir dari embrio Konservatorium Karawitan, Indonesia sedang menempatkan kebudayaan sebagai salah satu fondasi penting pembentukan kesadaran kebangsaan Indonesia. Dalam konteks itu, ASKI hadir bukan sekadar sebagai lembaga pendidikan, melainkan sebagai ruang pelestarian, pengembangan, dan transmisi pengetahuan seni tradisional, khususnya yang berakar pada kebudayaan Minangkabau.

Pada masa awalnya, struktur akademik ASKI berangkat dari Jurusan Seni Minangkabau. Dari fondasi inilah kemudian berkembang berbagai disiplin yang lebih spesifik seperti Karawitan, Tari, dan kemudian Musik. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa sejak awal kampus ini tidak pernah berhenti beradaptasi dengan kebutuhan zaman.

Transformasi berikutnya terjadi pada tahun 1999 ketika ASKI berubah menjadi Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padang Panjang. Perubahan ini bukan hanya soal nomenklatur kelembagaan, tetapi juga perubahan orientasi intelektual. Jika sebelumnya fokus utama berada pada kesenian Minangkabau, maka STSI memperluas cakrawala ke arah Seni Rumpun Melayu. Kampus mulai menempatkan dirinya sebagai pusat pengembangan seni dan budaya yang memiliki jejaring lebih luas di kawasan Asia Tenggara.

Perubahan kembali terjadi pada tahun 2010 ketika STSI bertransformasi menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang. Status institut memungkinkan perluasan disiplin ilmu, pengembangan fakultas, pembukaan program studi baru, dan penguatan fungsi penelitian serta pengabdian kepada masyarakat.

Tulisan ini tidak lahir semata-mata dari pembacaan sejarah institusi, tetapi juga dari pengalaman langsung sebagai bagian dari perjalanan lembaga tersebut. Penulis pertama kali memasuki Jurusan Musik ASKI Padang Panjang pada tahun 1994 dan menyelesaikan pendidikan Diploma III pada tahun 1998.

Kini penulis merupakan dosen tetap Program Studi Seni Musik ISI Padang Panjang. Alasan inilah yang mendorong penulis untuk menuliskan kembali transformasi ASKI menjadi STSI dan kemudian ISI tidak hanya diketahui melalui dokumen kelembagaan semata, tetapi juga dialami secara langsung sebagai mahasiswa, alumni, seniman, dan akademisi.

Pada pertengahan dekade 1990-an, ASKI Padang Panjang merupakan ruang kebudayaan yang sangat hidup. Workshop, seminar, konser musik, pertunjukan tari, karawitan, dan berbagai forum akademik berlangsung secara intensif dengan menghadirkan tokoh-tokoh seni nasional dan internasional.

Salah satu peristiwa yang paling membekas adalah penyelenggaraan konser Simfoni Indonesia Emas 1995 yang disponsori oleh PT Semen Padang yang berlanjut ke pertunjukan Orkestra Simfoni Sumatera Barat di Festival Istiqlal, pertunjukan musik jazz berkelas dunia oleh ensambel Carol Kids  dari USA, serta Contemporary Dance Festival yang menghadirkan maestro Butoh Jepang Kazuo Ono bersama para seniman dari Cina, Hong Kong, Amerika Serikat, dan berbagai negara lainnya.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa sejak masa itu ASKI telah menempatkan dirinya sebagai ruang dialog lintas budaya yang terbuka terhadap perkembangan seni dunia.

Semangat keterbukaan tersebut juga terlihat ketika Jurusan Musik dan Karawitan menjalin kerja sama dengan UiTM Shah Alam Malaysia pada tahun 1996 melalui program pertukaran dosen, pertukaran mahasiswa, dan pertunjukan Titian Muhibah. Jauh sebelum internasionalisasi perguruan tinggi menjadi agenda utama seperti sekarang, ASKI sesungguhnya telah mempraktikkannya dalam bentuk yang nyata.

Pada masa yang sama, berdiri Gedung Pertunjukan Hurijah Adam yang pada masanya menjadi salah satu fasilitas pertunjukan paling representatif yang dimiliki perguruan tinggi seni di Indonesia, bahkan mungkin di Asia Tenggara. Dari aspek tata akustik, tata panggung, dan tata cahaya, gedung tersebut menjadi rujukan banyak institusi seni. Namun yang membuatnya istimewa bukan hanya kualitas infrastrukturnya.

Tampil di Gedung Pertunjukan Hurijah Adam merupakan sebuah kehormatan karena tidak semua karya dapat dipentaskan begitu saja. Ada proses evaluasi dan kurasi yang ketat sehingga gedung tersebut menjadi simbol pencapaian artistik yang dihormati oleh sivitas akademika.

Dalam bidang musik, Orkestra Simfoni ASKI Padang Panjang pernah tampil dalam berbagai forum yang sama dengan kelompok musik dari ISI Yogyakarta dan IKJ Jakarta. Memang harus diakui bahwa dalam sejumlah aspek teknis dan sumber daya, posisi kami saat itu belum sekuat institusi seni yang lebih dahulu berkembang di Pulau Jawa. Namun justru dalam wilayah gagasan kekaryaan, ASKI menawarkan sesuatu yang berbeda.

Berbagai upaya dilakukan untuk mengasimilasikan nilai-nilai musikal tradisional ke dalam estetika orkestrasi modern. Dengan cara itu, orkestrasi tidak dipahami semata-mata sebagai reproduksi tradisi musik Barat, melainkan sebagai ruang eksperimentasi yang memungkinkan lahirnya bahasa musikal baru yang berakar pada pengalaman budaya sendiri.

ASKI juga menjadi bagian dari ekosistem yang melahirkan tokoh-tokoh penting seni Indonesia. Hurijah Adam merupakan salah satu figur yang memiliki andil besar dalam cikal bakal berdirinya institusi ini. Gusmiati Suib, pendiri Gumarang Sakti Dance Company yang legendaris, juga memiliki hubungan historis yang kuat dengan lingkungan pendidikan seni di Padang Panjang.

Demikian pula Mursal Esten yang tidak hanya dikenal sebagai Direktur ASKI dan Ketua STSI, tetapi juga sebagai pemikir kebudayaan yang memperoleh pengakuan nasional dan internasional.

Sejarah ini menunjukkan satu hal penting: kampus seni tidak pernah statis. Ia selalu berubah ketika lingkungan sosial, budaya, dan teknologi di sekelilingnya berubah. Karena itu, kemunculan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) seharusnya tidak dipahami sebagai ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya, melainkan sebagai tantangan baru dalam rangkaian panjang proses transformasi institusi.

Ketika Akala Imitasi (AI) Mengubah Cara Manusia Berkesenian

Dalam tradisi Minangkabau dikenal konsep bamantagi, yakni berbagi keberanian dalam membuka diri serta mendistribusikan sesuatu agar manfaatnya tidak berhenti pada diri sendiri. Dalam banyak hal, sejarah ASKI, STSI, hingga ISI Padang Panjang sesungguhnya dapat dibaca sebagai sejarah bamantagi pengetahuan, pengalaman artistik, dan jejaring kebudayaan kepada masyarakat yang lebih luas.

Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah mengubah cara manusia mencipta, belajar, dan mendistribusikan karya seni. Hari ini, sebuah sistem AI mampu menghasilkan gambar, musik, video, puisi, naskah pertunjukan, bahkan simulasi suara dan gerak yang sebelumnya hanya dapat dilakukan manusia. Apa yang dahulu membutuhkan waktu berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, kini dapat dihasilkan dalam hitungan menit melalui bantuan algoritma.

Pengetahuan artistik yang dahulu tersimpan di ruang studio, perpustakaan, dan ruang kelas kini tersedia secara terbuka melalui platform digital. Tutorial, arsip daring, perangkat lunak kreatif, media sosial, dan teknologi AI memungkinkan seseorang mempelajari berbagai keterampilan seni tanpa harus berada di institusi pendidikan formal. Seorang calon komponis dapat mempelajari orkestrasi melalui internet. Seorang perupa dapat mengakses koleksi museum dunia hanya melalui layar komputer. Seorang penata tari dapat mempelajari berbagai teknik gerak dari berbagai belahan dunia tanpa harus meninggalkan rumahnya.

Perubahan ini menimbulkan pertanyaan yang tidak sederhana: jika teknik dapat dipelajari dari internet dan karya dapat dihasilkan oleh mesin, lalu untuk apa kampus seni?

Pertanyaan tersebut semakin relevan bagi perguruan tinggi seni seperti ISI Padang Panjang yang selama puluhan tahun berfungsi sebagai pusat pendidikan, penciptaan, dan pengembangan kebudayaan. Jika dahulu kampus menjadi salah satu sumber utama akses terhadap pengetahuan artistik, kini posisi itu mulai berubah. Informasi dan keterampilan tidak lagi dimonopoli oleh institusi pendidikan. Pengetahuan bergerak semakin terbuka, semakin cepat, dan semakin mudah diakses.

Namun menurut penulis, jawaban atas pertanyaan tersebut tidak terletak pada perlombaan antara manusia dan teknologi. Kampus seni tidak mungkin memenangkan kompetisi melawan kecepatan mesin. AI mampu menghasilkan ribuan variasi gambar dalam waktu singkat, menciptakan simulasi musik dalam berbagai gaya, bahkan menulis teks yang menyerupai karya manusia. Tetapi kemampuan tersebut tidak serta-merta menjadikan AI sebagai pengganti pengalaman artistik manusia.

AI mungkin dapat menghasilkan karya, tetapi belum tentu menghasilkan kebudayaan. AI dapat meniru bentuk, tetapi tidak mengalami pengalaman hidup yang melahirkan makna. AI dapat mengolah data, tetapi tidak hidup di dalam sejarah, konflik sosial, ingatan kolektif, pengalaman tubuh, maupun pergulatan eksistensial yang selama ini menjadi sumber utama penciptaan seni.

Sebuah ratok tidak lahir semata-mata dari susunan nada anhemitonik, tidak pula sekadar dari gariniak, garitiak, dan sruti. Ia lahir dari pengalaman kehilangan, retakan vokal, hambatan napas, dan kerapuhan tubuh yang menghidupi bunyi tersebut.

Sebagaimana legaran dalam tradisi Minangkabau bukan hanya arena pertunjukan, melainkan ruang perjumpaan sosial tempat makna dirundingkan secara kolektif, demikian pula goreh randai bukan sekadar pengaba atas perubahan pola gerak yang dapat disalin atau direkam, melainkan jejak tubuh yang menyimpan sejarah latihan, disiplin, pengalaman, dan nilai-nilai budaya yang hidup.

Sebuah tari tidak hanya terdiri atas rangkaian gerak, tetapi juga mengandung ingatan tubuh. Sebuah karya musik tidak hanya tersusun dari struktur bunyi, tetapi juga dari pergulatan estetik, sosial, dan kemanusiaan yang membentuknya. Algoritma mungkin mampu meniru bentuk ratok, menggambar ulang goreh randai, atau mensimulasikan suasana legaran, tetapi ia tidak pernah mengalami kehilangan yang melahirkan ratok, tidak pernah hidup dalam pergaulan sosial yang membentuk legaran, dan tidak pernah menempuh proses tubuh yang mengukir goreh randai. Pada titik inilah perbedaan paling mendasar antara produksi artistik manusia dan produksi algoritmik menjadi tampak.

Karena itu, tantangan terbesar kampus seni bukanlah bersaing dengan AI, melainkan menemukan kembali peran-peran yang tidak dapat digantikan oleh AI. Kampus seni harus menjadi ruang tempat pengalaman, refleksi, pengetahuan, dan kebudayaan diproduksi secara kritis. Ia tidak cukup hanya mengajarkan teknik, sebab teknik semakin mudah dipelajari di luar kampus. Ia harus mampu mengembangkan kemampuan berpikir, kemampuan membaca konteks, kemampuan menafsirkan realitas, dan kemampuan menciptakan makna.

Bagi ISI Padang Panjang, tantangan ini memiliki dimensi yang lebih luas. Sebagai institusi yang lahir dari tradisi Seni Minangkabau dan kemudian berkembang melalui gagasan Seni Rumpun Melayu, kampus ini sesungguhnya memiliki modal kebudayaan yang tidak dimiliki oleh teknologi. Tradisi, pengetahuan lokal, pengalaman kolektif masyarakat, serta berbagai bentuk ekspresi budaya yang hidup di tengah masyarakat merupakan sumber daya intelektual yang tidak dapat direduksi menjadi sekadar data.

Suluh Suluk-foto nurkholis

Atas kompleksitas tersebut, pertanyaan yang sesungguhnya bukan lagi sebatas apakah AI akan menggantikan pendidikan seni. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana pendidikan seni mendefinisikan ulang dirinya di tengah perubahan teknologi yang begitu cepat, dan bahkan pertanyaan satir ini

"Ketika mesin mampu menghasilkan ribuan karya dalam hitungan detik, apakah kampus seni masih mampu menghasilkan satu gagasan baru dalam satu tahun?”

Jika kampus seni tetap bertahan hanya sebagai tempat transfer keterampilan, maka posisinya akan semakin terdesak. Tetapi jika kampus seni mampu menjadi ruang produksi pengetahuan, ruang refleksi budaya, dan ruang penciptaan makna, maka keberadaannya justru akan semakin penting di era AI.

Dalam konteks itulah, masa depan ISI Padang Panjang tidak ditentukan oleh kemampuannya menolak teknologi, melainkan oleh kemampuannya memanfaatkan teknologi secara kritis sambil tetap menjaga fungsi-fungsi kemanusiaan yang tidak dapat digantikan oleh mesin.

Untuk Apa Kampus Seni di Abad ke-21?

Jika pada abad ke-20 kampus seni berfungsi terutama sebagai tempat transmisi keterampilan dan pelestarian tradisi, maka pada abad ke-21 fungsi tersebut tidak lagi memadai. Dunia telah berubah. Pengetahuan semakin terbuka, teknologi semakin mudah diakses, dan batas-batas geografis yang dahulu membatasi pertukaran gagasan kini semakin kabur.

Dalam situasi seperti itu, kampus seni tidak cukup hanya menjadi tempat belajar teknik, memperoleh ijazah, atau sekadar menjaga warisan budaya. Ia harus menjadi pusat produksi pengetahuan.

Di sinilah pentingnya riset artistik. Kampus seni perlu menjadi ruang lahirnya teori, metode, dan cara pandang baru terhadap seni dan kebudayaan. Penciptaan karya tidak lagi dipahami hanya sebagai aktivitas ekspresif, tetapi juga sebagai proses produksi pengetahuan yang mampu menjelaskan dunia dari perspektif artistik. Seni tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga menghasilkan pemahaman baru tentang manusia, masyarakat, dan kebudayaan.

Selain itu, kampus seni harus menjadi pusat penciptaan. Tugasnya bukan hanya mengajarkan karya yang telah ada, melainkan mendorong lahirnya karya-karya baru yang merespons persoalan zaman, mulai dari perubahan teknologi, krisis lingkungan, dinamika sosial, hingga transformasi budaya yang berlangsung secara global. Dalam konteks ini, penciptaan seni bukanlah aktivitas pelengkap, melainkan jantung kehidupan akademik itu sendiri.

Pengalaman penulis pada era STSI menunjukkan bahwa arah semacam ini sesungguhnya pernah mulai tumbuh dengan cukup kuat. Pada awal tahun 2000-an, program hibah Due-Like yang berlangsung selama beberapa tahun mendorong berkembangnya aktivitas penelitian dan penciptaan seni dengan berbagai pendekatan yang lebih terbuka. Program tersebut tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga membangun iklim akademik yang mempertemukan praktik artistik dengan pengembangan pengetahuan.

Salah satu contoh yang menarik adalah penyelenggaraan Musik Tekno yang menghadirkan komponis dari Indonesia dan berbagai negara Asia Tenggara. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang presentasi karya berbasis komputer dan media elektronik, tetapi juga mewajibkan setiap peserta menjelaskan konsep, proses, dan metodologi penciptaannya.

Penulis sendiri terlibat sebagai salah satu komponis dalam forum tersebut. Yang menarik, karya tidak berhenti sebagai produk artistik semata, melainkan menjadi titik berangkat untuk mendiskusikan gagasan, metode, dan kemungkinan-kemungkinan baru dalam praktik penciptaan musik.

Dalam bahasa yang lebih mutakhir, forum semacam itu sesungguhnya telah mengarah pada praktik riset yang dipimpin oleh penciptaan (practice-led research), meskipun istilah tersebut belum banyak digunakan pada masa itu.

Hal yang sama juga dapat ditemukan pada kegiatan Pekan Apreasiasi Teater (PAT) yang secara berkala diselenggarakan oleh Program Studi Teater. PAT berhasil mempertemukan kelompok teater mahasiswa dan profesional dari berbagai daerah. Lebih dari sekadar festival, Pertemuan Teater menjadi ruang pertukaran gagasan, metode kerja, dan praktik artistik yang memperkaya kehidupan akademik kampus.

Kampus seni juga harus berfungsi sebagai simpul jejaring. Dalam dunia yang semakin terhubung, kualitas sebuah institusi tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di dalam kampus, tetapi juga oleh kemampuannya membangun hubungan dengan komunitas, industri kreatif, lembaga penelitian, pemerintah, dan jaringan internasional. Kampus yang terisolasi dari ekosistem seni dan kebudayaan yang lebih luas akan sulit berkembang menjadi pusat produksi pengetahuan.

Dalam konteks ini, pengalaman STSI Padang Panjang pada tahun 2009 memberikan pelajaran yang penting. Ketika kelompok Chamber STSI Padang Panjang dipercaya oleh TVRI Pusat Jakarta dan Wakil Presiden Republik Indonesia untuk menjadi musik pengiring Minang Talenta Song Contest dan tahun 2011 Lomba Lagu Melayu Nasional RRI Pusat Jakarta di Pontianak, sesungguhnya yang sedang diuji bukan hanya kemampuan individu-individu yang terlibat, tetapi kapasitas institusi secara keseluruhan.

Dalam kedua kegiatan tersebut, penulis dipercaya sebagai Music Director. Kepercayaan yang diberikan oleh TVRI Pusat dan RRI Pusat menunjukkan bahwa sumber daya artistik yang dimiliki STSI Padang Panjang pada masa itu memperoleh pengakuan dalam ruang kebudayaan nasional.

Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa kampus seni dapat memainkan peran yang jauh lebih besar daripada sekadar lembaga pendidikan. Ia dapat menjadi produsen karya, mitra strategis lembaga kebudayaan, sekaligus ruang yang menghasilkan sumber daya manusia profesional yang mampu bekerja dalam konteks nasional maupun internasional.

Pada akhir dekade 2000-an, berdirinya Program Pascasarjana dengan konsentrasi Penciptaan dan Pengkajian Seni menjadi tonggak penting lainnya. Kehadiran program magister, yang kemudian berkembang hingga jenjang doktoral, memperluas peluang bagi kampus untuk berkembang sebagai pusat produksi pengetahuan seni yang lebih serius. Langkah ini menunjukkan bahwa ISI Padang Panjang tidak lagi hanya berorientasi pada pendidikan sarjana, tetapi mulai membangun fondasi sebagai institusi yang menghasilkan pengetahuan melalui penelitian dan penciptaan.

Namun demikian, masih ada pekerjaan rumah yang menurut penulis belum sepenuhnya terjawab hingga hari ini. Sejauh mana program S1, S2, dan S3 di lingkungan ISI Padang Panjang telah membuka diri terhadap perkembangan metodologi penelitian dan penciptaan termutakhir seperti Artistic Research, Practice-Based Research, dan Practice-Led Research?

Pertanyaan ini penting karena masa depan pendidikan seni tidak cukup hanya menghasilkan karya atau laporan penelitian. Yang dibutuhkan adalah kemampuan menjadikan praktik artistik sebagai metode penelitian yang menghasilkan pengetahuan baru.

Tanpa pembaruan metodologis yang serius, penelitian seni berisiko terjebak dalam pengulangan konsep-konsep yang tidak lagi relevan dengan perkembangan mutakhir. Demikian pula penciptaan seni dapat terjebak pada pola post factum, yakni ketika konsep, teori, dan metodologi baru dicari setelah karya selesai diciptakan. Bagi penulis, keadaan semacam itu justru membalik logika penelitian dan penciptaan yang seharusnya berjalan secara reflektif sejak awal proses kreatif.

Pada titik inilah masa depan kampus seni dipertaruhkan. Kampus seni abad ke-21 tidak cukup menjadi lembaga pengajaran. Ia harus menjadi laboratorium kebudayaan tempat penciptaan, penelitian, pendidikan, dan jejaring bertemu dalam satu ekosistem yang saling memperkuat.

 Dengan warisan Seni Minangkabau dan Seni Rumpun Melayu yang dimilikinya, ISI Padang Panjang memiliki peluang besar untuk menjadi pusat produksi pengetahuan seni yang tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga relevan dalam percakapan kebudayaan di tingkat regional dan global.

Masa depan kampus seni terletak pada kemampuannya menjadi laboratorium kebudayaan yang menghasilkan pengetahuan dan inovasi, bukan sekadar lembaga yang mengajarkan keterampilan.

Agenda Kepemimpinan Baru ISI Padang Panjang

Momentum pemilihan rektor tahun 2026 menjadi kesempatan penting untuk memikirkan kembali arah strategis ISI Padang Panjang. Persoalannya bukan semata-mata siapa yang akan memimpin, melainkan visi apa yang akan dibawa untuk menghadapi masa depan.

Dalam situasi ketika dunia pendidikan, kebudayaan, dan teknologi mengalami perubahan yang sangat cepat, kepemimpinan kampus seni tidak lagi cukup hanya berorientasi pada pengelolaan administrasi dan birokrasi. Yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang mampu membaca perubahan zaman sekaligus merumuskan posisi institusi di tengah perubahan tersebut.

Agenda pertama adalah memperluas jejaring global. Sesungguhnya tradisi ini bukan sesuatu yang baru bagi ISI Padang Panjang. Sejak masa ASKI, kampus ini telah membangun hubungan dengan berbagai institusi dan komunitas seni internasional.

Kehadiran seniman-seniman dunia dalam berbagai festival, kerja sama dengan UiTM Malaysia, hingga keterlibatan dalam berbagai forum regional menunjukkan bahwa keterbukaan terhadap dunia luar pernah menjadi bagian dari tradisi intelektual kampus ini.

Tantangan kepemimpinan baru adalah menghidupkan kembali semangat tersebut dalam bentuk yang lebih sistematis dan berkelanjutan. ISI Padang Panjang harus mampu memosisikan dirinya sebagai pusat studi dan penciptaan seni yang diperhitungkan di kawasan Asia Tenggara.

Agenda kedua adalah integrasi AI ke dalam kurikulum dan praktik akademik secara kritis. Kampus tidak perlu memusuhi teknologi, tetapi juga tidak boleh menerimanya secara naif. Mahasiswa perlu memahami AI bukan hanya sebagai alat produksi, melainkan sebagai fenomena budaya yang mengandung persoalan etis, estetis, filosofis, dan sosial. Tantangan pendidikan seni masa depan bukanlah bagaimana menghindari AI, tetapi bagaimana menggunakan AI tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis, kepekaan artistik, dan kesadaran budaya.

Agenda ketiga adalah penguatan riset artistik sebagai tradisi intelektual utama institusi. Jika ISI Padang Panjang ingin menjadi perguruan tinggi seni yang relevan pada abad ke-21, maka penelitian dan penciptaan seni harus ditempatkan sebagai pusat kehidupan akademik. Pengembangan Artistic Research, Practice-Based Research, dan Practice-Led Research tidak boleh lagi dipandang sebagai wacana tambahan, melainkan harus menjadi bagian dari strategi kelembagaan.

Reputasi kampus seni masa depan tidak hanya ditentukan oleh jumlah pertunjukan, pameran, atau publikasi yang dihasilkan, tetapi oleh kontribusinya terhadap perkembangan pengetahuan seni itu sendiri.

Agenda keempat adalah revitalisasi ruang-ruang simbolik kampus. Dalam konteks ini, kondisi Gedung Pertunjukan Hurijah Adam perlu menjadi perhatian serius. Bagi generasi yang mengalami masa ASKI dan STSI, gedung ini bukan sekadar bangunan. Ia adalah simbol pencapaian artistik, ruang yang dihormati, dan tempat yang menyimpan begitu banyak memori kolektif institusi.

Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir fungsi simbolik tersebut semakin memudar. Ketika sebuah gedung pertunjukan lebih sering dipahami sebagai fasilitas umum daripada ruang kebudayaan, maka yang hilang bukan hanya fungsi bangunannya, tetapi juga martabat artistik yang pernah menyertainya. Revitalisasi Gedung Pertunjukan Hurijah Adam bukan semata-mata soal renovasi fisik, melainkan upaya mengembalikan kehormatan sebuah ruang yang pernah menjadi ikon pendidikan seni Indonesia.

Agenda kelima adalah pembangunan infrastruktur kebudayaan baru yang mampu merepresentasikan masa depan institusi. Jika seni pertunjukan memiliki Gedung Pertunjukan Hurijah Adam sebagai simbol sejarahnya, maka seni rupa membutuhkan simbol yang setara.

Sampai hari ini, ISI Padang Panjang belum memiliki galeri seni rupa bertaraf internasional yang dapat berfungsi sebagai pusat pameran, laboratorium kuratorial, arsip visual, pusat riset seni rupa, sekaligus ruang diplomasi budaya. Padahal institusi sekelas ISI Yogyakarta telah memiliki Galeri Katamsi yang menjadi salah satu simpul penting dalam ekosistem seni rupa Indonesia.

Sudah saatnya pembangunan galeri seni rupa masuk ke dalam agenda strategis kampus. Galeri tersebut tidak boleh dipahami sekadar sebagai ruang pamer karya mahasiswa, melainkan sebagai pusat produksi pengetahuan visual yang mempertemukan seniman, kurator, peneliti, komunitas, dan publik. 

Jika suatu saat gagasan ini diwujudkan, penamaan Galeri Wakidi layak dipertimbangkan sebagai penghormatan terhadap salah satu tokoh penting seni rupa Sumatera Barat yang memiliki kontribusi signifikan dalam sejarah seni rupa Indonesia.

Agenda keenam adalah memperkuat posisi ISI Padang Panjang sebagai pusat produksi pengetahuan kebudayaan Minangkabau melalui pembentukan Pusat Studi Pasambahan dan Tradisi Lisan Minangkabau atau Center for Minangkabau Oral Tradition Studies.

 Concerto Tudung Periuk-foto nurkholis

Selama ini perhatian institusi lebih banyak diarahkan pada pengembangan program studi dan praktik penciptaan seni. Namun kekayaan tradisi lisan Minangkabau yang meliputi pasambahan, pidato adat, kaba, dendang, ratok, saluang, indang, rabab, pantun, sijobang, tupai janjang, dan berbagai bentuk oralitas lainnya sesungguhnya belum memperoleh wadah kelembagaan yang memadai.

Padahal tradisi-tradisi tersebut bukan sekadar warisan budaya yang perlu didokumentasikan, melainkan sistem pengetahuan yang mengandung cara berpikir, cara berkomunikasi, cara bernegosiasi, cara membangun relasi sosial, bahkan cara memproduksi makna. Di era AI, keberadaan pusat studi semacam ini menjadi semakin penting. Yang dipertaruhkan bukan hanya pelestarian tradisi, tetapi juga bagaimana tradisi tersebut ditransformasikan menjadi sumber teori, metodologi, dan penciptaan baru yang dapat berkontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan dunia.

Agenda ketujuh adalah memperluas cakrawala pendidikan seni ke wilayah gastronomi sebagai bagian dari kebudayaan. Dalam konteks Minangkabau, sulit memahami kebudayaan tanpa memahami randang. Namun hingga hari ini, salah satu warisan budaya Minangkabau yang paling dikenal di dunia tersebut belum memperoleh perhatian akademik yang sepadan dalam struktur pendidikan tinggi seni di Sumatera Barat.

Randang bukan sekadar makanan. Di dalamnya terkandung pengetahuan tentang rasa, teknik memasak, pengelolaan bahan lokal, relasi sosial, pembagian kerja, ekonomi rumah tangga, ritual budaya, hingga filosofi kehidupan masyarakat Minangkabau.

Dengan kata lain, randang adalah sebuah sistem pengetahuan yang kompleks. Karena itu, sudah saatnya ISI Padang Panjang mulai memikirkan pengembangan bidang gastronomi dan seni kuliner Minangkabau sebagai bagian dari agenda jangka panjang institusi, baik melalui pusat studi, laboratorium, konsentrasi keilmuan, maupun kemungkinan pembentukan program akademik di masa depan.

Pada titik ini, Seni Minangkabau dan Seni Rumpun Melayu tidak lagi dapat dipahami hanya dalam bentuk tari, musik, teater, dan seni rupa. Tradisi lisan dan gastronomi juga merupakan bagian penting dari ekosistem kebudayaan yang menyimpan kekayaan pengetahuan yang luar biasa. Tradisi tidak boleh ditempatkan sebagai museum yang membekukan masa lalu. Tradisi harus dipahami sebagai sumber daya intelektual yang mampu melahirkan teori, metode, karya, dan cara pandang baru terhadap dunia.

Dalam konteks inilah kekayaan budaya yang dimiliki ISI Padang Panjang seharusnya menjadi keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki oleh banyak perguruan tinggi seni lainnya.

Jika kampus seni di abad ke-20 berperan sebagai penjaga tradisi, maka kampus seni di abad ke-21 harus melangkah lebih jauh: mengubah tradisi menjadi pengetahuan, mengubah pengetahuan menjadi inovasi, dan mengubah inovasi menjadi masa depan.

Jika ada satu konsep Minangkabau yang layak menjadi etos kepemimpinan ISI Padang Panjang pada masa depan, mungkin konsep itu adalah bamantagi. Bukan hanya bamantagi sumber daya, tetapi bamantagi pengetahuan, bamantagi kesempatan, bamantagi jejaring, dan bamantagi masa depan. Sebab kampus seni yang besar bukanlah kampus yang menumpuk pengetahuan di dalam tembok-temboknya sendiri, melainkan kampus yang mampu mendistribusikan pengetahuan, memperluas manfaatnya, dan menghubungkannya kembali dengan masyarakat yang menjadi sumber lahirnya kebudayaan itu sendiri.

Pada akhirnya, tantangan terbesar kepemimpinan baru ISI Padang Panjang bukan sekadar mengelola organisasi, menyusun anggaran, menjalankan birokrasi, atau memenuhi berbagai indikator administratif yang terus bertambah dari tahun ke tahun. Tantangan sesungguhnya adalah merumuskan kembali alasan keberadaan kampus seni di tengah dunia yang sedang berubah secara radikal.

Sebab sejarah menunjukkan bahwa ASKI tidak didirikan hanya untuk menghasilkan lulusan. STSI tidak dibangun hanya untuk memperbanyak program studi. Dan ISI tidak dibesarkan hanya untuk mengejar angka-angka akreditasi, peringkat kelembagaan, atau laporan kinerja tahunan. Institusi ini lahir karena ada keyakinan bahwa seni adalah cara manusia memahami dirinya, memahami masyarakatnya, dan membayangkan masa depannya.

Jika kepemimpinan baru hanya sibuk mengurus administrasi tanpa keberanian membangun visi kebudayaan, maka ISI Padang Panjang perlahan akan berubah menjadi kampus yang sekadar mengelola rutinitas. Gedung-gedung akan tetap berdiri. Program studi akan tetap berjalan. Wisuda akan tetap dilaksanakan setiap tahun. Tetapi perlahan institusi akan kehilangan daya hidupnya sebagai pusat gagasan dan pusat penciptaan.

Di era AI, ancaman terbesar bagi kampus seni sesungguhnya bukanlah mesin yang mampu menciptakan gambar, musik, atau teks. Ancaman terbesar justru datang ketika kampus seni berhenti melahirkan gagasan baru, berhenti mengambil risiko intelektual, berhenti menciptakan masa depan, dan akhirnya puas menjadi penonton dari perubahan yang sedang berlangsung.

Ketika hari itu datang, yang hilang bukan hanya relevansi sebuah perguruan tinggi seni. Yang hilang adalah alasan mengapa institusi itu didirikan sejak awal.

Dan jika kampus seni tidak lagi mampu menghasilkan pengetahuan, imajinasi, keberanian, serta visi kebudayaan yang melampaui zamannya, maka pertanyaan yang harus diajukan bukan lagi "Di era AI, untuk apa kampus seni?" melainkan:

"Jika kampus seni tidak lagi menjadi tempat lahirnya gagasan-gagasan yang mengubah dunia, lalu untuk apa kampus seni itu ada?"

 

Yogyakarta, 10 Juni 2026

 

Nurkholis adalah dosen Komposisi Musik di Program Studi Seni Musik Institut Seni Indonesia Padang Panjang dan pendiri Minangapentagong. Praktik artistiknya berfokus pada perjumpaan ekstramusikal dan intramusikal dalam kerangka glokalisasi sonik, serta dialognya dengan budaya, psikologi, dan filsafat melalui pendekatan Artistic Research dan kerja multidisiplin. Sebagai komposer dan konduktor, ia telah menghasilkan berbagai komposisi neoklasikal, jazz, elektronik, dan opera yang mengeksplorasi ornamentasi musikal Minangkabau ke wilayah postonal dan new music, serta ditampilkan dalam berbagai forum musik nasional dan internasional.

 



BACA JUGA