Jum'at, 19/06/2026 20:56 WIB

Setengah Pria Usia 50 Tahun ke Atas Alami Pembesaran Prostat

Foto_2

Foto_2

Jakarta, sumbarsatu.com – Kebiasaan terbangun berulang kali pada malam hari untuk buang air kecil sering dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan. Padahal, kondisi tersebut dapat menjadi tanda pembesaran prostat jinak atau Benign Prostatic Hyperplasia (BPH), gangguan yang umum dialami pria lanjut usia dan berpotensi menurunkan kualitas hidup jika tidak ditangani sejak dini.

Data menunjukkan sekitar 50 persen pria berusia di atas 50 tahun mengalami pembesaran prostat. Angka tersebut meningkat hingga 80–90 persen pada pria berusia 80 tahun ke atas.

Karena gejalanya berkembang secara perlahan, banyak penderita tidak menyadari kondisi yang dialaminya. Akibatnya, pemeriksaan medis sering kali dilakukan setelah muncul gangguan yang lebih serius, seperti infeksi saluran kemih, batu kandung kemih, hingga penurunan fungsi ginjal.

Dokter Spesialis Urologi Primaya Hospital Kelapa Gading, dr. Elita Wibisono, Sp.U, mengatakan pembesaran prostat merupakan salah satu masalah kesehatan pria yang paling sering ditemukan, namun masih kerap dianggap sebagai konsekuensi normal dari bertambahnya usia.

“Banyak pasien menganggap pancaran urine yang melemah atau sering terbangun pada malam hari untuk buang air kecil sebagai hal yang wajar karena faktor usia. Akibatnya, mereka baru datang ke dokter ketika sudah mengalami komplikasi, bahkan hingga tidak bisa buang air kecil sama sekali,” ujar dr. Elita.

Pembesaran prostat terjadi ketika kelenjar prostat membesar dan menekan saluran kemih. Kondisi ini dapat menyebabkan berbagai keluhan, seperti pancaran urine melemah, rasa tidak tuntas setelah berkemih, hingga urine yang menetes setelah buang air kecil.

Salah satu gejala yang paling sering dialami adalah nokturia, yaitu kondisi seseorang harus terbangun pada malam hari untuk berkemih. Menurut dr. Elita, keluhan ini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berdampak pada kualitas tidur dan kesehatan secara keseluruhan.

“Bayangkan jika seseorang harus bangun tiga hingga lima kali setiap malam untuk ke toilet. Kualitas tidurnya terganggu, tubuh menjadi mudah lelah, konsentrasi menurun, dan produktivitas sehari-hari ikut terdampak,” katanya.

Lebih jauh, dampak pembesaran prostat tidak hanya dirasakan secara fisik. Gangguan berkemih yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi kondisi psikologis, rasa percaya diri, serta hubungan dengan pasangan.

Gangguan tidur kronis akibat sering buang air kecil pada malam hari tidak hanya dirasakan pasien, tetapi juga pasangan yang tidur bersamanya. Selain itu, rasa frustrasi akibat gangguan berkemih dapat memengaruhi suasana hati dan kualitas hubungan interpersonal, termasuk kehidupan seksual.

“Kesehatan prostat erat kaitannya dengan kualitas hidup dan kebahagiaan pasangan. Ketika gejala terus mengganggu aktivitas sehari-hari, rasa percaya diri pria dapat menurun dan berdampak pada hubungan interpersonal maupun kehidupan seksual,” jelas dr. Elita.

Meski faktor usia tidak dapat dihindari, perkembangan penyakit dapat diperlambat melalui penerapan gaya hidup sehat. Menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, memperbanyak konsumsi sayuran hijau dan tomat yang kaya likopen, serta membatasi konsumsi daging merah olahan dapat membantu menjaga kesehatan prostat dalam jangka panjang.

Di sisi lain, kemajuan teknologi medis membuat penanganan pembesaran prostat kini semakin nyaman. Berbagai prosedur minimal invasif seperti TURP (Transurethral Resection of the Prostate) dan Rezum memungkinkan tindakan dilakukan tanpa sayatan pada perut, dengan masa pemulihan yang lebih cepat dibandingkan metode konvensional.

Dokter juga mengimbau masyarakat untuk segera berkonsultasi apabila mulai mengalami perubahan pada pancaran urine, merasa tidak tuntas saat buang air kecil, terbangun lebih dari dua kali setiap malam untuk berkemih, atau muncul nyeri maupun darah saat buang air kecil.

“Jangan menunggu hingga tidak bisa buang air kecil atau muncul komplikasi pada ginjal. Gangguan prostat bukan bagian yang harus diterima begitu saja saat menua. Dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, pria tetap dapat menjaga kualitas hidup, produktivitas, dan keharmonisan bersama pasangan,” tutup dr. Elita.ssc

BACA JUGA