Jum'at, 14/08/2026 09:22 WIB

Stamina Menurun Jangan Selalu Salahkan Usia, Bisa Jadi Sinyal Kekurangan Testosteron hingga Diabetes

Jakarta, sumbarsatu.com – Mudah lelah, stamina menurun, berat badan bertambah, hingga perubahan fungsi seksual kerap dianggap sebagai konsekuensi bertambahnya usia. Padahal, sejumlah perubahan tersebut dapat menjadi sinyal adanya gangguan hormon maupun metabolisme yang perlu diperiksa lebih lanjut.

Hal itu menjadi salah satu pembahasan dalam Seminar Primaya Metabolic Endocrine 2026 bertema “Translating Evidence into Impact: Practical Endocrinology for Real-World Care” yang digelar Primaya Hospital pada Juli 2026.

Seminar tersebut menghadirkan sejumlah dokter spesialis penyakit dalam, di antaranya dr. Marshell Tendean, Sp.PD-KEMD, FINASIM dan dr. Khomimah, Sp.PD-KEMD, FINASIM, yang membahas berbagai persoalan hormon dan metabolisme yang kerap tidak disadari masyarakat.

Pada pria, misalnya, penurunan kadar testosteron memang dapat terjadi seiring bertambahnya usia. Data European Male Ageing Study (EMAS) menunjukkan penurunan kadar testosteron dan free testosterone semakin nyata setelah usia 50 tahun.

Namun, menurut dr. Marshell, perubahan tersebut tidak selalu dapat dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan, terutama apabila berlangsung menetap dan mulai mengganggu kualitas hidup.

“Bertambahnya usia memang membawa berbagai perubahan pada tubuh, termasuk hormon. Namun, ketika perubahan seperti mudah lelah, penurunan stamina, atau gangguan fungsi seksual mulai menetap dan memengaruhi kualitas hidup, kondisi tersebut perlu dilihat lebih jauh,” ujarnya.

Ia menjelaskan, salah satu kondisi yang perlu diperhatikan adalah late-onset hypogonadism (LOH), yakni kondisi kekurangan testosteron pada pria yang muncul pada usia dewasa.

Berdasarkan data yang dipaparkan dalam seminar, LOH diperkirakan dialami sekitar 2,1 persen populasi pria secara umum. Prevalensinya meningkat dari sekitar 0,1 persen pada pria berusia 40–49 tahun menjadi 5,1 persen pada kelompok usia 70–79 tahun.

Risikonya juga dapat meningkat pada pria yang mengalami obesitas atau metabolic syndrome.

Menurut dr. Marshell, kekurangan testosteron tidak semata-mata berkaitan dengan fungsi seksual. Kondisi tersebut dapat berhubungan dengan berbagai aspek kesehatan sehingga membutuhkan evaluasi medis secara tepat.

“Penting untuk melakukan evaluasi medis secara tepat dan tidak sekadar menganggapnya sebagai proses penuaan,” katanya.

Diabetes Sering Datang Tanpa Disadari

Selain gangguan hormon, persoalan metabolisme seperti diabetes juga menjadi perhatian. Penyakit ini dapat berkembang tanpa menimbulkan gejala yang jelas sehingga seseorang baru mengetahui kondisinya ketika telah terjadi komplikasi.

Materi yang dipaparkan dalam Primaya Metabolic Endocrine 2026 menyebutkan lebih dari 250 juta orang dewasa di dunia belum menyadari bahwa mereka mengalami gangguan metabolisme.

Sementara itu, berdasarkan IDF Diabetes Atlas 2025 yang dikutip dalam materi seminar, Indonesia berada di peringkat kelima dunia untuk prevalensi diabetes pada kelompok usia 20–79 tahun dan peringkat ketiga untuk jumlah kasus diabetes yang belum terdiagnosis.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrinologi, Metabolik dan Diabetes, dr. Khomimah, Sp.PD-KEMD, FINASIM, mengatakan diabetes tidak seharusnya hanya dilihat sebagai persoalan kadar gula darah.

“Diabetes bukan hanya persoalan gula darah. Prosesnya melibatkan berbagai mekanisme dan organ tubuh, sehingga pengelolaannya juga perlu melihat risiko pasien secara menyeluruh,” jelasnya.

Menurutnya, diabetes tipe 2 melibatkan berbagai organ dan sistem tubuh, mulai dari pankreas, hati, jaringan lemak, otot, ginjal, otak, saluran pencernaan hingga sistem imun.

Karena itu, keberhasilan pengelolaan diabetes tidak cukup hanya diukur melalui satu angka hasil pemeriksaan laboratorium. Yang tidak kalah penting adalah mencegah komplikasi dan mempertahankan fungsi organ dalam jangka panjang.

Pengobatan Bergeser dari Reaktif ke Proaktif

Pendekatan terhadap diabetes juga mengalami perubahan. Pengelolaan tidak lagi semata-mata dilakukan setelah kadar gula meningkat atau komplikasi muncul, tetapi diarahkan lebih proaktif dengan mempertimbangkan kondisi pasien secara menyeluruh.

Faktor yang perlu diperhatikan antara lain kondisi jantung dan ginjal, berat badan, risiko komplikasi, penyakit penyerta, serta kebutuhan dan preferensi pasien.

“Pengelolaan diabetes perlu bergeser dari pendekatan yang reaktif menjadi lebih proaktif, termasuk menjaga kesehatan jantung dan ginjal sejak lebih awal,” kata dr. Khomimah.

Pendekatan serupa juga berlaku dalam mengenali gangguan hormon. Perubahan stamina, mudah lelah, perubahan berat badan maupun gangguan fungsi seksual yang menetap sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai konsekuensi usia.

Pemeriksaan dan konsultasi dengan tenaga medis diperlukan untuk mengetahui apakah perubahan tersebut berkaitan dengan proses penuaan normal atau justru menjadi tanda kondisi kesehatan tertentu.

Melalui edukasi mengenai kesehatan metabolik dan hormonal, Primaya Hospital mendorong masyarakat untuk lebih memperhatikan perubahan tubuh.

Sinyal tubuh bukan sesuatu yang harus diabaikan. Deteksi lebih dini dapat membuka peluang untuk mendapatkan penanganan yang sesuai, mencegah komplikasi, dan mempertahankan kualitas hidup dalam jangka panjang.ssc/rel

BACA JUGA