Saat Diam Menjadi Siksaan: Tafsir Rabab dalam Tubuh Tari di Panggung Nan Jombang Tanggal 3

MINGGU, 3 MEI 2026

Sabtu, 02/05/2026 06:29 WIB
-

-

 

Padang, sumbarsatu.com—Nan Jombang Dance Company didukung Bakti Budaya Djarum Foundation kembali menggelar Festival Nan Jombang Tanggal 3 dengan menghadirkan koreografi “Diam Adalah Siksa #3” karya Alsafitro dari Komunitas Cinangkiak Saiyo, Sumani, Kabupaten Solok, Minggu, 3 Mei 2026 di Ladang Tari Nan Jombang, Balai Baru, Padang.

Menurut Angga Mefri, Direktur Festival Nan Jombang, Komunitas Cinangkiak Saiyo selama ini menaruh perhatian kepada seni tradisi Minangkabau yang dalam kerja kreatifnya dijadikan inspirasi dan basis penciptaan seni kontemporer.

“Salah satunya adalah tari “Diam Adalah Siksa #3” karya Alsafitro yang berangkat dari filosofi seni  dendang rabab di Minangkabau.  Metafora “bialah rabab nan manyampaian”, kerap kita dengar dan ini jadi gagasan awal garapan koreografi Alsafitro. Sebelumnya, Cinangkiak juga tampil dalam KABA Festival X 2025,” kata Angga Mefri, yang juga kurator, Sabtu (2/5/2026).

Angga Mefri menambahkan, setelah pertunjukan dibuka sesi “Bincang Karya” bersama koreografer yang dimoderatori Kurnaidi Ilham,

Sementara itu,  Alsafitro menjelaskan,  koreografi berjudul “Diam Adalah Siksa #3” mencoba menghadirkan tafsir baru tentang diam sebagai bentuk penderitaan batin yang tak terucapkan.

Dalam tradisi rabab Minangkabau sering disampaikan, “bialah rabab nan manyampaian”, yang dimaknai sebagai medium untuk menyampaikan perasaan yang tidak mampu diungkapkan secara langsung.

“Dari wawancara saya dengan Kawat, seniman rabab asal Kabupaten Solok, menjelaskan bahwa rabab bukan sekadar alat musik, tetapi media emosional untuk menyuarakan isi hati yang terpendam,” ujar Alsafitro.

Menurutnya, rabab kerap menjadi saluran bagi seseorang untuk meluapkan rasa rindu, luka, hingga kekecewaan—meski hanya sesaat—sebelum kembali tenggelam dalam diam.

Alsafitro melihat fenomena tersebut relevan dengan kondisi sosial saat ini. Banyak individu memilih menahan perasaan karena tekanan sosial, relasi kuasa, hingga ketimpangan posisi.

Dalam situasi tertentu, seseorang kerap memilih diam saat berhadapan dengan pihak yang lebih dominan, seperti atasan atau tokoh berpengaruh, demi menghindari risiko dikucilkan atau tidak dipercaya.

“Diam dalam konteks ini bukan ketenangan, melainkan bentuk penindasan emosional yang perlahan menjadi beban psikologis,” demikian tafsir yang diangkat dalam karya tersebut.

Tubuh sebagai “Rabab Baru”

Melalui koreografi ini, Alsafitro menerjemahkan pengalaman batin itu ke dalam bahasa tubuh. “Jika rabab menjadi medium suara dalam tradisi, maka tubuh dalam karya ini hadir sebagai rabab baru,” jelasnya.

Gerak tari ditampilkan tidak selalu mengalir, melainkan kerap terputus, tertahan, dan penuh tekanan. Hal ini menggambarkan konflik antara keinginan untuk menyampaikan perasaan dan dorongan untuk tetap diam.

Tubuh penari menjadi medium yang mengekspresikan kegelisahan, luka batin, hingga ketegangan psikologis yang terpendam.

Karya “Diam Adalah Siksa #3” tidak sekadar menampilkan tubuh yang bergerak, tetapi juga tubuh yang menahan. Tubuh yang tidak mampu bersuara, namun justru berbicara melalui ketegangan dan gestur.

Melalui pendekatan tersebut, Alsafitro menghadirkan tubuh sebagai ruang ekspresi baru—di mana diam menjadi bahasa yang menyuarakan penderitaan.

Karya ini sekaligus menjadi refleksi bahwa di balik keheningan, terdapat beban emosional yang terus hidup dan mencari jalan untuk disampaikan.

Mari saksikan semua itu pada Minggu, 3 Mei 2026 di Ladang Tari Nan Jombang, Balai Baru, Padang, pukul 20.00 dan tentu saja gratis. ssc/mn



BACA JUGA