KEPENG
Jakarta, sumbarsatu.com — Lembaga pemeringkat Fitch Ratings menegaskan peringkat kredit empat bank besar Indonesia—Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, Bank Rakyat Indonesia, dan Bank Central Asia—di level investment grade ‘BBB’ dengan outlook negatif.
Penegasan serupa juga diberikan kepada Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia. Langkah ini menyusul revisi outlook kedaulatan Indonesia menjadi negatif sejak Maret 2026, yang dipicu ketidakpastian kebijakan fiskal dan meningkatnya risiko eksternal terhadap stabilitas ekonomi global.
Untuk bank BUMN seperti Mandiri, BNI, dan BRI, Fitch menilai peringkat tersebut sangat dipengaruhi oleh ekspektasi dukungan pemerintah. Ketiganya memiliki peran sistemik penting, dengan Mandiri menguasai sekitar 22 persen pangsa kredit dan 21 persen dana pihak ketiga. Sementara BRI dominan di segmen mikro, dan BNI menjadi salah satu bank terbesar nasional.
Meski outlook negatif membayangi, Fitch menilai fundamental perbankan nasional masih tergolong solid.
Kejar Pajak di Tengah Sorotan Rasio Utang
Di sisi lain, sorotan datang dari Standard & Poor's terkait tingginya rasio bunga utang terhadap penerimaan negara.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan Purbaya menegaskan pemerintah tidak perlu khawatir dan akan menggenjot penerimaan pajak hingga tumbuh 30 persen sampai akhir tahun.
Realisasi penerimaan pajak hingga 31 Maret 2026 tercatat Rp394,8 triliun atau tumbuh 20,7 persen secara tahunan (year-on-year), meski melambat dibanding Januari dan Februari yang masing-masing tumbuh di atas 30 persen. Perlambatan tersebut, menurutnya, dipengaruhi adanya libur panjang pada Maret.
Dalam APBN 2026, pembayaran bunga utang ditargetkan mencapai Rp599,5 triliun, sementara pendapatan negara dipatok Rp3.153,9 triliun, sehingga rasio bunga terhadap pendapatan sekitar 19 persen. Adapun utang jatuh tempo mencapai sekitar Rp800 triliun.
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi dan pelemahan rupiah turut meningkatkan rasio pembayaran utang (debt service ratio/DSR) dari 49 persen menjadi 51 persen.
BI Tahan Suku Bunga
Sementara itu, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur April 2026.
Suku bunga deposit facility tetap di 3,75 persen dan lending facility di 5,5 persen.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global akibat konflik Timur Tengah. Ia juga menilai ruang penurunan suku bunga ke depan semakin terbatas.
Selama periode konflik, arus modal asing sempat keluar sebesar 1,7 miliar dolar AS pada akhir Februari hingga Maret. Namun pada April, aliran modal kembali masuk sebesar 1,9 miliar dolar AS.
Per 21 April 2026, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.140 per dolar AS, melemah tipis 0,87 persen dibanding akhir Maret. BI meyakini rupiah akan tetap stabil dan berpotensi menguat.
Menkeu Rombak Pejabat Eselon I
Di internal pemerintah, Menteri Keuangan Purbaya melakukan perombakan dengan memberhentikan Febrio Nathan Kacaribu dari jabatan Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal serta Luky Alfirman dari jabatan Direktur Jenderal Anggaran.
Untuk sementara, kedua posisi tersebut diisi oleh pelaksana harian. Purbaya menyebut pihaknya masih mengkaji penempatan baru yang sesuai dengan kompetensi keduanya.
Selain itu, jabatan Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan juga masih kosong setelah ditinggalkan Masyita Crystallin. Kementerian Keuangan tengah menyeleksi kandidat terbaik untuk mengisi tiga posisi strategis tersebut.
Febrio diketahui bergabung di Kemenkeu sejak 2020 dan menjabat Dirjen SEF sejak Mei 2025. Sementara Luky telah berkarier di Kemenkeu sejak 1995.ssc/mn