Termul

Senin, 27/04/2026 06:27 WIB
Ilustrasi@benane_fashion

Ilustrasi@benane_fashion

 

OLEH Suryadi-Leiden, Belanda

“APAKAH termul?” tanya seorang anggota WhatsApp (WA) group yang saya ikuti yang berisi orang-orang santiang (hebat) Sumatera Barat. 

Pertanyaan ini tentu mudah-mudah sulit untuk dijawab. Jika melihat fakta empiris, yaitu dengan merujuk komentar-komentar warganet di media sosial (medsos), banyak hal yang dikemukakan yang diyakini sebagai ciri termul itu.

“Termul otaknya otak kosong, gonggongannya keras”; ‘Termul dungu”; “Termul tak perlu pinter, yang penting teriakannya kenceng”; “Termul sumbu pendek, beda dengan projo yang sumbu panjang”, dan lain sebagainya.

Tapi, kembali ke pertanyaan di atas, “Apakah Termul?”. Esai reflektif ini mencoba mengabadikan akronim ini dalam catatan, sebelum istilah ini menghilang dari jagat politik dan medsos Indonesia. Banyak istilah seperti ini, yang sangat terkait dengan gonjang-ganjing politik Indonesia sejak 10 tahun terakhir, datang silih berganti layaknya budaya pop. Dulu pernah muncul istilah “Cebong & Kampret” yang, alhamdulilah, sempat dicatat (lihat: https://niadilova.wordpress.com/2018/07/20/renung-75-cebong-kampret/; diakses 24-04-2026). Kemudian muncul pula istilah ‘projo’ (lihat: https://sumbarsatu.com/berita/33723-projo; diakses 24-04-2026).

“Termul” adalah singkatan dari “Ternak Mulyono”. Istilah ini merujuk kepada orang-orang yang dengan mutung dan keblinger (blindly) mendukung Presiden Indonesia Ke-7 yang, menurut pengakuannya sendiri dalam sebuah wawancara, memiliki dua nama: Jokowi (singkatan dari ‘Joko Widodo’) dan Mulyono. Sebagaimana dapat kita lihat, Jokowi alias Mulyono tetap cawe-cawe di medan panas politik Indonesia yang penuh intrik dan onak-duri–sebuah sikap deviant yang tidak pernah diperlihatkan oleh mantan-mantan Presiden Indonesia sebelumnya.

Tapi mengapa tidak muncul istilah ‘terjok’ (ternak Jokowi), misalnya? Kenapa yang justru mucul adalah ‘termul’ (ternak Mulyono)? Tak ada jawaban pasti tentang hal ini. Akronim adalah fenomena linguistik yang muncul tanpa dapat dirumuskan, tapi dengan satu penekanan penting: bahwa ia enak didengar. 

Barangkali saja penekanan pada ‘Mulyono’, alih-alih ‘Jokowi’, juga didorong oleh kandungan leksikal akronim ini yang bersifat mengejek. Dan kita tahu bahwa nama lain Jokowi yang diakuinya sendiri, Mulyono, sering dipakai oleh netizens Indonesia untuk mengejek dan mengkritisi Presiden Indonesia Ke-7 ini, yang sering disebut sebagai tukang ngibul, raja bohong dan perusak tatanan bernegara Indonesia.

Istilah ‘termul’, dengan demikian, berkisian dengan istilah ‘projo’ (pro Jokowi). Akan tetapi ada perbedaan nuansa di antara keduanya. Istilah ‘projo’ terkesan lebih merepresentasikan elitisme. Sebaiknya, istilah ‘termul’ secara konotatif sering diasosiasikan dengan orang-orang bodoh/dungu, meskipun mungki pernah mengecap bangku sekolah, dan mutung. Oleh karena itu, di laman-laman bedsos orang Indonesia, termul sering disimbolkan dengan tiga jenis binatang: monyet, babi dan tikus.

Penyimbolan ini bukanlah bersifat manasuka (arbitrer). Monyet terkenal dengan sifatnya yang agresif dan cepat marah bila diganggu atau dicandain. Mereka akan menyerang secara berkelompok. Banyak orang tentu kenal dengan istilah ‘gertak monyet’. Binatang ini juga terkenal rakus saling berebut kalau melihat makanan,

Babi, yang penampilan jelek dengan hidung pepat yang aneh, mengingatkan kita pada tempat-tempat yang kotor: lumpur, pelimbahan, dan kubangan.  Taringnya akan mencongkel tanah-tanah basah dan lembab untuk menemukan cacing. Tanpa banyak perhitungan, binatang ini akan menyeruduk saja jika bertemu lawan.

Tikus, mirip babi, juga identik dengan tempat-tempat kotor dan gelap. Karena kebiasaan hidupnya di tempat-tempat kotor, lembab, dan gelap ini, binatang pengerat ini dipandang sebagai hama oleh manusia. Dalam konteks politik Indonesia, sudah lama binatang ini diasosiasikan dengan koruptor yang mencuri uang rakyat untuk kepuasan diri, keluarga, dan kroninya.

Monyet, babi dan tikus, dalam pandangan banyak orang Indonesia, sangat mereprentasikan sifat-sifat termul. Hal ini dapat dilihat ketika mereka berdebat di acara taklshow yang ditayangkan stasiun-stasiun TV, juga dalam postingan-postingan mereka di media sosial.

Banyak orang berpendapat para termul ini semula dipelihara oleh Jokowi. Namun, sebagaimana sifat monyet, babi, dan tikus, mereka menjadi kian agresif dan kemudian justru malah ‘menggerogoti’ (mengeksploitasi) Jokowi, tuan mereka sendiri. Jokowi yang konon memiliki harta kekayaan yang  luar biasa dijadikan lahan basah dan sumber mata pencaharian oleh para termul itu.

Namun, di jagat medsos, pengertian ‘termul’ kemudian meluas pada siapa saja yang mendukung Jokowi dengan membabi buta. Mereka bisa saja orang per orang, tapi sangat mungkin juga buzzers bayaran yang targetnya adalah terus-menerus mengglorifikasikan sosok Jokowi di ranah politik Indonesia. Mereka muncul dalam akun-akun pseudnym di mana mereka memuja-muji Jokowi. Bahkan ada di antara mereka yang mengatakan Jokowi sudah layak jadi nabi. 

Berbeda dengan ‘projo’ yang semula dimaksukan untuk mempromosikan Jokowi agar dapat memperpanjang kekuasaannya sebagai presiden menjelang akhir 2024, kemunculan ‘termul’ terkait erat dengan timbulnya kasus ijazah palsu Jokowi yang diapungkan oleh Roy Suryo, dr. Tifa, Rismon L. Sianipar dan beberapa orang lainnya. Belakangan, Rismon akhirnya menyerah dan minta maaf kepada Jokowi, lalu dicap pula oleh warganet sebagai ‘termul’.

Banyak orang berpendapat bahwa termul tak bisa dilawan dengan logika. Warganet mengatakan bahwa jika termul diajak berdebat, mereka cenderung mengandalkan suara keras (kuat mengonggong) dan urat leher panjang. Tingkat ke-ngeyelan-nya sangat luar biasa. Mereka tak kuat melawan logika dan silogisme dalam berdebat dengan mengalihkannya ke isu-isu yang bersifat menyerang pribadi.

Kemunculan termul di Indonesia menandai satu titik balik dalam masyarakat Indonesia: dunia logika dan rasionalitas ditumpulkan dan dibunuh. Akal sehat terdegradasi dan masyarakat terjun bebas ke dalam sebuah simulacrum yang, jika tidak diantipasi oleh orang-orang yang masih mencintai negeri ini, bisa membawa kebodohan dan pembodohan masal.

Jadi orang jangan terlalu bego, nanti dikira termul,” tulis sebuah naratif medsos dalam bentuk baju kaos dipakai seorang lelaki. “PERHATIAN. Hindari konplik (sic) dengan termul supaya terhindar dari kebodohan”, tulis yang lain.

Tampaknya termul datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan juga ada segelintir ‘termul Minang’ yang berasal dari Sumatera Barat, daerah yang dalam sejarah keberadaan nation-state ini telah melahirkan para intelektual yang antifeodalisme, nepotisme, dan kronisme kekuasaan, sebagaimana dipraktikkan oleh Jokowi dalam politik Indonesia.

Sejauh yang dapat diketahui, belum ada penelitian mengenai afiliasi etnisitas dan religiositas para termul ini. Namun, yang jelas mereka pada umumnya memiliki koneksi dan afiliasi dengan aktivitas dan manuver-manuver politik Jokowi dan familinya sejak pria juragan mebel dari Solo itu memutuskan terus cawe-cawe di panggung politik Indonesia setelah masa kepresidenannya berakhir (2024).

Bagaimanapun kenceng-nya fenomena termul ini sekarang, mungkin pada suatu saat ia akan surut dan kemudian menghilang, sebagaimana yang sudah terjadi pada istilah ‘cebong’ dan ‘kampret’. Dalam konteks ini, titik akhir polemik ijazah Jokowi, yang telah menyeret banyak orang, termasuk para politisi senior Indonesia yang dihormati tapi di-bully oleh para termul, tampaknya akan sangat menentukan.

Kapan titik akhir kasus sepele yang dibuat rumit dan telah menimbulkan kegaduhan dalam masyarakat Indonesia ini akan berakhir?

Kunci pertama ada di Jokowi sendiri. Kunci kedua: ketika rakyat Indonesia sudah memutuskan untuk turun ke jalan.

 

 

Vlissingen, Minggu 26 April 2026

 

 



BACA JUGA