“The Next”: Estafet, Rantau Tubuh, dan Harapan Baru bagi Nan Jombang Dance Company

Kamis, 06/11/2025 21:59 WIB
-Pementasan koreografi karya Rio Mefri berjudul The Next dipentaskan di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang, dalam KABA Festival 2025. Sabtu, 11 November 2025. foto KZ

-Pementasan koreografi karya Rio Mefri berjudul The Next dipentaskan di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang, dalam KABA Festival 2025. Sabtu, 11 November 2025. foto KZ

OLEH Kurniasih Zaitun-Tintunkoe 

GEDUNG Manti Menuik di Ladang Tari Nan Jombang, Kuranji, Padang, dua malam berturut-turut—Sabtu dan Minggu, 1–2 November 2025—penuh sesak. Penonton membludak. Tempat duduk terisi seluruhnya, sebagian bahkan duduk berselo di depan panggung, sementara sisi kanan dan kiri gedung dipadati penonton yang berdiri.

KABA Festival, peristiwa budaya tahunan yang menandai kekayaan seni di ranah Minangkabau, kini memasuki usia ke-12. Festival ini telah menjadi jenama Nan Jombang Dance Company dan pada tahun 2025 kembali mendapat dukungan penuh dari Bakti Budaya Djarum Foundation. Tahun ini, KABA Festival digelar dua kali: rangkaian awal dimulai sejak Januari dengan puncak pada Juni 2025, termasuk dalam program strategis Kementerian Kebudayaan.

Malam pertama menampilkan tiga karya tari: The Next karya Rio Mefri, Waroeng Oemoek karya Dedy Satya Amijaya, dan Frau Troffea karya Muslimin Bagus Pranowo. Sementara pada Minggu, 2 November, panggung diisi pertunjukan teater Pagi Bening garapan Syuhendri dari Komunitas Seni Sastra Noktah (KSST) Padang.

Festival dibuka oleh Angga Mefri, Direktur Festival, dengan sapaan sederhana namun puitis. Di Ladang Tari Nan Jombang, kesederhanaan justru menjadi cahaya yang menyala pelan. Keheningan ruang berubah menjadi kehangatan—sapaan, tawa, dan langkah-langkah yang kembali pulang. Gedung Manti Menuik pun bergembira.

Setelah sambutan, panggung perlahan diselimuti sunyi. Cahaya padam, seperti napas yang ditahan sebelum gerak pertama. Lalu, dari balik kegelapan, cahaya temaram menembus ruang. Di bawah sorotan lampu, berdiri tegak sosok mungil—seorang anak perempuan berbaju putih. Langkahnya mantap, tanpa ragu. Musik mengalun, dan dari kejauhan terdengar suara vokal Angga Mefri, meluruhkan nada ke dalam tubuh yang bergerak.

Anak itu bernama Sang Hawa Mefri. Baru lima tahun usianya, namun tatapannya memikul sesuatu yang lebih jauh dari umur. Ia melangkah hingga ke tengah panggung, lalu berputar—sekali, dua kali, tiga kali, hingga lima kali. Gerak sederhana itu menggema seperti mantra: pernyataan kelahiran simbolik di hadapan penonton yang tertegun dalam diam.

Pada momen itu, tubuh Hawa bukan sekadar tubuh anak yang menari. Ia menjelma arsip—wadah ingatan, pengetahuan, dan pengalaman yang kelak menyimpan perjalanan panjang Nan Jombang Dance Company.

Di gedung yang dinamai dari kakek buyutnya, Manti Menuik, Hawa memulai kisahnya sendiri: kisah tubuh kecil yang kelak menjadi narator tradisi. Barangkali sepuluh tahun mendatang, tubuh itu akan kembali ke panggung yang sama, membawa kisah baru, namun berakar pada malam ketika cahaya pertama jatuh padanya.

Dari sisi kiri panggung, muncul seorang pria. Langkahnya tenang, matanya tertuju pada sosok kecil di tengah terang. Lampu mengikuti geraknya, membingkai tubuh yang telah akrab dengan panggung sejak masa kanak-kanaknya: Rio Mefri—penari sekaligus koreografer The Next.

Ia menjemput Hawa dengan kelembutan yang tak perlu dijelaskan; gestur yang menyiratkan kontinuitas dan kepercayaan. Di tengah panggung, tangan ayah menyambut jemari anaknya—sentuhan sederhana namun sarat makna. Pada momen itu, estafet diteruskan—bukan sekadar dari tubuh ke tubuh, melainkan dari ingatan ke masa depan.

Hawa Mefri bukan hanya penari mungil yang tampil penuh keyakinan. Ia adalah putri Rio Mefri, cucu maestro Ery Mefri—tiga generasi yang dipertemukan oleh panggung, gerak, dan napas tradisi Minangkabau yang terus berevolusi. Jika tubuh Hawa adalah arsip masa depan, maka kehadiran Rio di sisinya adalah pengingat bahwa arsip itu tumbuh dari tanah artistik yang dirawat puluhan tahun oleh sang maestro.

Panggung itu pun menjelma ruang peralihan: tempat seorang anak memulai perjalanan, seorang ayah meneruskan amanah, dan sebuah nama keluarga menari kembali dalam sejarah seni pertunjukan Indonesia. Tanpa kata, penonton menyaksikan bagaimana tradisi tidak diwariskan melalui pidato, melainkan lewat tubuh yang bergerak, tangan yang menuntun, dan tatapan yang saling percaya.

The Next, karya Rio Mefri, bukan sekadar pertunjukan tari. Ia adalah percakapan tanpa suara—dialog antargenerasi yang ditulis oleh tubuh dan diterjemahkan oleh rasa. Di sini, Rio dan Hawa tidak sekadar menampilkan hubungan ayah–anak, melainkan menghidupkannya. Mereka berbicara lewat langkah, bukan kalimat; lewat tatap, bukan penjelasan.

Relasi tubuh antargenerasi ini pernah pula dieksplorasi Rio dalam karyanya Tangka, yang menampilkan dialog emosional antara dirinya dan sang ayah, Ery Mefri. Jika The Next menghadirkan kedekatan yang lembut antara Rio dan Hawa, maka Tangka dapat dibaca sebagai jembatan antara pewaris dan sumber—antara tubuh yang tumbuh dan tubuh yang menurunkan ingatan.

Menariknya, dalam kedua karya itu Rio melibatkan Hawa, seolah ingin menegaskan bahwa perjalanan artistiknya adalah lintasan tubuh yang saling mengisi: dari ayah ke anak, dan dari dirinya ke generasi berikutnya. Pilihan ini bukan sekadar keputusan koreografis, melainkan sikap estetik—bahwa kehangatan keluarga, kerentanan, dan rasa pulang bisa menjadi dasar penciptaan artistik.

Adegan penutup The Next memperlihatkan sang ayah melepaskan kostum di panggung, seolah menyerahkan “identitas tubuh” kepada generasi penerus. Hawa kembali, memeluk dan mencium kostum itu—metafora warisan artistik yang hidup lintas waktu.

Karya ini bukan hanya tentang hubungan ayah–anak, tetapi tentang transmisi pengetahuan tubuh: bagaimana gerak, teknik, dan kepekaan estetik diwariskan, bukan melalui doktrin, melainkan lewat pengalaman emosional dan kebersamaan.

The Next menandai babak baru perjalanan Nan Jombang: era di mana generasi muda mulai menulis narasinya sendiri dalam sejarah tari kontemporer berbasis tradisi Minangkabau.

Rantau Tubuh

Menjadi penari bagi Rio Mefri bukan keputusan mudah. Di masa remaja, ia sempat merasa terpaksa bergabung dengan Nan Jombang di bawah bimbingan sang ayah. Namun sejak 2007, ia menemukan kesadaran baru: tubuhnya telah menjadi bagian dari bahasa tari Nan Jombang—energi silek, ekspresi ritual, dan dramaturgi tubuh yang intens.

 

Kini, perjalanan Rio menuntut arah baru: “rantau tubuh.” Rio—menurut saya—harus melakukan perantauan bukan sekadar berpindah ruang geografis, tetapi juga melintasi batas-batas pengalaman, tubuh, dan pemaknaan seni. Rantau tubuh adalah keniscayaan yang harus ia tempuh demi menajamkan intuisi dan memperluas cakrawala penciptaan.

Selayaknya rantau tubuh, Rio dapat melakukannya melalui residensi, kolaborasi antar budaya, dan berbagai pengalaman lintas komunitas. Hal itu penting agar ia memiliki pengayaan bagi tubuhnya dalam artian rantau tubuh itu sendiri.

Ia perlu membuka diri, karena meskipun telah banyak bepergian dan melakukan proses panjang dengan Nan Jombang, dalam karya-karyanya ia masih tampak berada dalam bayangan sang maestro. Saat inilah sebagai koreografer ia perlu melakukan rantau tubuh, agar benar-benar menemukan eksistensinya sendiri.

Dalam proses kreatif seorang kreator (koreografer), layaknya ia tidak belajar hanya pada satu orang, tapi justru dari banyak orang. Agar ia bisa melahirkan sesuatu yang melampaui bayangan orang-orang sebelumnya. Seorang seniman justru harus berani melakukan rantau tubuh itu—merantau secara kreatif, menembus batas tradisi kelompok, dan menemukan bahasa tubuhnya sendiri.

Melalui perantauan itu, Rio tidak hanya memperluas pandangan, tetapi memperdalam pemahaman terhadap akar tradisi yang ia bawa. Setiap ruang dan perjumpaan menjadi bahan bakar kreatif yang memperkaya tubuhnya sebagai penari sekaligus koreografer. Rantau adalah ruang belajar tanpa batas—tempat tubuh dan pikiran berdialog dengan perubahan zaman.

Selama ini, memang ada kecenderungan di sejumlah kelompok seni untuk meyakini bahwa mazhab atau gaya kelompoknya adalah satu-satunya jalan. Padahal, untuk melahirkan sesuatu yang melampaui bayangan para pendahulunya, seorang seniman perlu berani melakukan rantau tubuh—sebuah perjalanan kreatif yang menembus batas tradisi kelompok, membuka ruang perjumpaan baru, dan menuntunnya menemukan bahasa tubuh yang lebih personal.

Seperti kata Ery Mefri, “Tubuh itu menyimpan ingatan masa lalu, tetapi hanya akan hidup jika ia berani menafsir ulang.” The Next adalah bukti bahwa ingatan itu kini diteruskan, bukan sebagai pengulangan, melainkan sebagai kelahiran kembali—dalam tubuh muda yang terus tumbuh di tanah tempat segalanya bermula: Ladang Tari Nan Jombang.

Di satu sisi, The Next menawarkan pengalaman intim yang jarang muncul dalam lanskap tari kontemporer Indonesia: relasi ayah–anak sebagai teks tubuh. Tidak ada heroisme naratif; yang hadir justru kerentanan, kejujuran, dan kasih yang rapuh namun tegas.

Dalam konteks perjalanan 42 tahun Nan Jombang, karya ini menolak glorifikasi masa lalu dan memilih kehangatan domestik sebagai dasar artistik—sebuah keputusan estetik yang berani.

Gerak Rio menunjukkan kematangan: efisien, terukur, bernapas. Hawa, dengan tubuh lima tahunnya, tidak diposisikan sebagai miniatur penari, tetapi sebagai tubuh yang belajar pada dunia. Kejujuran geraknya tak bisa dipalsukan—itulah kekuatan utama pertunjukan ini.

Meski begitu, ruang kritik tetap terbuka. Beberapa bagian memperlihatkan hubungan dramaturgi antara tubuh dewasa dan tubuh anak yang belum sepenuhnya terartikulasikan. Ada momen ketika Hawa tampak lebih sebagai simbol daripada subjek kreatif mandiri. Pertanyaan pun muncul: apakah ini benar dialog tubuh, atau proyeksi harapan generasi sebelumnya?

Namun demikian, The Next dapat dibaca sebagai manifesto lembut: bahwa keberlanjutan tidak selalu heroik. Ia bisa hadir dalam genggaman kecil seorang anak pada tangan ayahnya. Di sanalah tubuh bekerja sebagai arsip emosional. Dan bila arsip itu belum sempurna, maka ia sedang tumbuh—itulah esensi pewarisan.

The Next bukan puncak. Ia adalah awal. Dan dalam dunia tari, awal yang jujur sering kali lebih penting daripada akhir yang spektakuler. *

 



BACA JUGA