Gagasan “Kweekschool Baru” Diapungkan di Seminar 170 Tahun SMAN 2 Bukittinggi

Minggu, 26/04/2026 22:21 WIB

Bukittinggi, sumbarsatu.com—Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Padang, Mohammad Isa Gautama, tampil sebagai pemakalah dalam Seminar Kebangsaan 170 Tahun Kweekschool yang digelar di Gedung Heritage SMAN 2 Bukittinggi, Sabtu (25/4/2026).

Seminar bertema Jejak Intelektual, Pemikiran, dan Keteladanan Tokoh Besar Alumni Sikola Radjo” ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan 170 tahun Kweekschool, salah satu sekolah guru pertama di Indonesia.

Kegiatan dibuka oleh Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, dan dihadiri perwakilan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, kalangan pendidik, kepala sekolah, alumni, serta pemangku kepentingan pendidikan di wilayah Bukittinggi–Agam.

Soroti Paradoks Pendidikan Sumbar

Dalam makalahnya berjudul Membaca Sejarah Kweekschool, Merancang Masa Depan Pendidikan Sumatera Barat, Isa Gautama menegaskan bahwa warisan besar Kweekschool tidak boleh berhenti sebagai simbol sejarah semata.

Menurutnya, sejarah tersebut perlu dibaca secara kritis untuk melihat kondisi pendidikan Sumatera Barat saat ini.

Ia menyoroti adanya paradoks: di satu sisi Sumatera Barat dikenal sebagai daerah yang melahirkan banyak guru, ulama, dan intelektual, namun di sisi lain masih menghadapi persoalan pada kualitas dan kelayakan tenaga pendidik.

“Warisan Kweekschool tidak cukup dirayakan. Ia harus diterjemahkan menjadi agenda baru untuk memperkuat guru,” ujarnya.

Gagasan “Kweekschool Baru”

Isa menawarkan konsep “Kweekschool Baru” sebagai metafora kebijakan untuk mengembalikan peran strategis guru dalam transformasi pendidikan.

Gagasan ini bukan untuk menghidupkan kembali institusi kolonial, melainkan menempatkan guru sebagai pusat perubahan.

Menurutnya, guru masa depan perlu memiliki sejumlah kompetensi utama, seperti pedagogi adaptif, literasi digital dan data, kemampuan berpikir kritis-reflektif, kecakapan sosial-emosional, kepemimpinan kolaboratif, serta wawasan global yang tetap berakar pada budaya lokal.

 

Seminar ini merupakan inisiatif IASMA Birugo sebagai bagian dari rangkaian menuju puncak peringatan 170 tahun Kweekschool.

Ketua IASMA Birugo, Muhammad Fadli, menyebut kegiatan ini menjadi momentum memperkuat ikatan alumni sekaligus mengingat kontribusi historis Kweekschool dalam dunia pendidikan.

Rangkaian kegiatan akan dilanjutkan dengan peresmian masjid sekolah pada 29 Mei serta *Baralek Gadang* dan reuni akbar alumni pada 30 Mei 2026.

Sekretaris Jenderal IASMA Birugo, Febri Zulhenda, menegaskan bahwa seminar ini bukan sekadar seremoni, tetapi refleksi atas warisan intelektual para pendahulu.

“Momentum 170 tahun ini adalah kebanggaan sekaligus tanggung jawab bersama untuk melanjutkan tradisi keilmuan,” ujarnya.

Peran Kweekschool dalam Bahasa Indonesia

Dalam sambutannya, Ramlan Nurmatias menyoroti kontribusi Kweekschool terhadap perkembangan bahasa Indonesia yang belum banyak diketahui publik.

Ia menjelaskan bahwa bahasa Indonesia berakar dari bahasa Melayu yang dibakukan melalui Ejaan Van Ophuijsen di Fort de Kock (kini Bukittinggi).

“Dari sinilah lahir bahasa pemersatu bangsa yang kemudian berperan penting sejak Sumpah Pemuda hingga Proklamasi Kemerdekaan,” kata Ramlan.

Seminar ini turut menghadirkan jurnalis dan sejarawan Hasril Chaniago serta sejumlah tokoh alumni sebagai pembicara.ssc

Melalui kegiatan ini, panitia berharap peringatan 170 tahun Kweekschool menjadi momentum untuk membaca ulang sejarah pendidikan Sumatera Barat sekaligus memperkuat komitmen dalam meningkatkan kualitas pendidikan di masa depan.



BACA JUGA