Budaya Digital dan Seni Pertunjukan

--

Selasa, 14/12/2021 06:17 WIB
Pementasan Catatan Si Padang

Pementasan Catatan Si Padang

OLEH Halim HD  (Networker Kebudayaan)

Edy, kemarin saya bertemu teman kita, kami kongko soal masa lalu dan juga masa kini. Saya kurang tahu, kenapa masa lalu selalu diseret-seret oleh ingatan ke dalam percakapan. Kita bisa jadi bosan oleh reproduksi pembicaraan yang hanya mengulang-ulang yang itu itu saja, sementara sudut pandang lain tak muncul sebagai bagian dari daya refleksi. Tapi, kali ini berbeda.

Teman ini nampak sedang ceria oleh berbagai godaan gagasan yang mungkin dia dapatkan dari bacaan baru. Sambil menyeruput kopi yang saya sajikan, dan sudah beberapa batang kretek dia habiskan, dia bicara tentang gejala pandemi dan fenomena seni pertunjukan.

Saya sontak tertarik untuk terus mengikuti. Dia cerita bahwa banyak pelaku seni pertunjukan, teater, tari, musik, yang awalnya mengeluh soal pandemi kini bisa memasuki situasi dan kondisi itu dengan antusias. Sekarang, katanya kita bisa menyaksikan hampir setiap minggu ada beberapa sajian, bahkan festival dan forum juga, tanpa kita harus ke gedung kesenian.

Saya sudah mulai bosan lagi jika dia bicara soal banyaknya sajian seni pertunjukan khususnya tari dan teater melalui daring. Sungguh saya bosan ketika melihat program dirjenbud memberikan dana kepada kaum seniman tari untuk menyajikan karyanya.

Coba bayangkan, seorang penari yang juga koreografer hadir “di panggung pentas” di teras rumahnya, sedangkan yang lain hadir di ruang tamu yang hanya memindahkan perabotan yang ada di ruangan itu. Lalu ada monolog yang disajikan di teater arena Taman Budaya Solo tapi secara auditif dan tata lampu yang jauh dari memadai. Akustik yang jelek, angel kamera yang bikin bosan.

Saya pikir, sejauh itukah bodohnya orang-orang seni pertunjukan dalam menyajikan karyanya, walaupun di dalam pernyataannya mereka menyatakan rasa keprihatinan dan bicara soal kemanusiaan serta the blab bla show gaya silat lidah yang makin membuat saya bukan hanya bosan, tapi muak! Nampaknya desakan kondisi pandemi Covid-19 yang menghantui mereka tak membuat cara berpikir yang lebih mendalam dan kritis. Mereka kira, jika mereka menari, dan saya anggap asal menari, karena tanpa memperhitungkan penataan ruang, cahaya, ditimpali lagi oleh penataan suara yang jelek. Begitu juga dengan aktor yang kedodoran dan asal buka mulut.

Apa mereka tak pernah belajar dari yang paling gampang mereka cari, youtube, begitu banyak potongan sajian yang bisa dipelajari, bahwa suatu seni apapun namanya, khususnya seni pertunjukan jika melalui medium lainnya maka terjadi perubahan di dalam cara penyajian. Mereka mengira jika menari dengan apa adanya dan disampaikan melalui rekaman ataupun langsung, sudah dianggap sebagai seni pertunjukan. Tidakkah mereka belajar, kepada hal yang paling baik, misalnya contoh karya Pina Bausch, koreografer Jerman yang fantastik itu sajiannya, berkolaborasi dengan Wim Wender, film maker, sutradara keren. Saya ambilkan contoh yang memang jauh derajatnya agar kita bisa belajar dari hal-hal yang paling tinggi sekalipun, dan bukaan dengan cara kerja asal-asalan.

Melalui film-dokumenter garapan Wim Wender itu kita tahu, bahwa ketika seorang penari dan koreografer atau aktor menciptakan karyanya melalui medium lain, mereka harus menyadari bahwa harus ada cara berpikir dan sudut pandang lain di dalam menggarap karyanya. Dia harus memahami bahwa medium yang digunakan itu adalah produk mutahir dari penemuan tehnologi yang paling canggih yang disebut sebagai produk digital. Apakah koreografer, para penari dan aktor ini tak memahami budaya digital yang begitu liat dan begitu dahsyaat dalam membentuk bukan hanya pencitraan tapi juga wujud lain dari suatu karya seni.

 Dari situlah kita barangkali bisa meluaskan cara pandang, menggali suatu pemahaman lain. Jika tari disampaikan melalui video, adakah yang kita sebut itu sebagai karya tari, ataukah perlu kita tambahkan kata lainnya yang kita sebut sebagai “dokumentasi atau film tari”. Rasanya banyak rekan kita dari dunia seni pertunjukan yang kurang atau tidak paham dengan pengalihan media melalui tehnologi digital. Tehnologi digital yang likuit ini sungguh fantastik mampu dan bisa membawa kita ke dalam “ruang-ruang imajiner” namun terasa riil, konkret, bagaikan kita berhadapan dengan sesuatu yang sesungguhnya. Tapi, kita tak lihat tetes keringat, tak mendengar dengus nafas, serta desah ketika tarian disajikan melalui video yang betapapun tehnologi digital itu dahsyatnya.

Ada orang teater yang menganggap saya kuno, orang jadul, ketika diskusi soal tehnologi digital, di mana dia menganggap teater adalah teater walaupun itu melalui video. Saya hanya bisa menanggapi dengan guyonan, adakah anda bisa membaui keringat penari atau aktor melalui video? Saya tak menolak tehnologi dan budaya digital, bahkan sejak pertama kali mendengar istilah itu dan membaca tentangnya pada tahun 1990-an, saya terlongong-longong terutama manfaat teknologi itu pada dunia kesehatan dan eksplorasi ilmu pengetahuan.

Saya senang dengan video art, saya senang dengan video mapping. Tapi, rasanya kita mesti kembali harus menggali, melacak dan memahami relasi antara tehnologi ini dengan seni pertunjukan. Inilah berkah penemuan tehnologi, kita diajak untuk berpikir dan kembali berpikir, think and rethinking, meminjam ungkapan Sukarno.

Omong-omong, Edy, bagaimana dengan fotografi digital, yang sangat ekonomis dan, sori yaa, bikin saya “brutal” dan emosional ketika memegang alat itu, rasanya ingin seperti serdadu yang melepaskan peluru melalui senjata mesin mereka. Beda dengan kamaera analog, kesabaran dan hampir-hampir terasa meditatif ketika saya mengarahkan lensa kepada suatu titik. ***



BACA JUGA