Menata Ulang Keluarga di Era Digital

Kamis, 30/04/2026 11:32 WIB
MON

MON

OLEH Dr. Lismomon Nata, S.Pd.,M.Si--Direktorat Bina Ketahanan Keluarga, Kementerian Kependudukan dan Pembangnunan Keluarga/BKKBN

 

APAKAH keluarga hari ini masih menjadi ruang utama pembentukan nilai, ataukah perannya mulai tergeser oleh teknologi dan dinamika zaman now? Mengapa di tengah kemajuan digital yang begitu pesat, justru kita menyaksikan meningkatnya kerentanan dalam keluarga, baik menyebabkan relasi yang renggang, anak yang tumbuh tanpa pendampingan memadai, hingga pasangan muda yang gagap menghadapi realitas rumah tangga?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting diajukan, bukan untuk menafikan perubahan, tetapi untuk memahami bahwa keluarga Indonesia sedang berada pada titik risiko kritis ketahanannya. Perubahan sosial yang cepat telah menggeser banyak hal secara simultan mulai dari pola orang tua bekerja, cara anak belajar, hingga cara anggota keluarga berinteraksi sosial satu sama lain. Waktu berkumpul semakin terbatas, komunikasi sering kali tergantikan oleh gawai, dan nilai-nilai hidup hamper tidak lagi diwariskan secara utuh dari generasi ke generasi.

Salah satu risiko yang santer menjadi perhatian kita bersama di Indonesia saat sekarang ini adalah ungkapan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin yang memprediksi sekitar 28 juta penduduk terganggu Kesehatan jiwanya, mulai dari depresi hingga fenomena bunuh diri.

Dalam konteks inilah, gagasan tentang delapan fungsi keluarga yang ditawarkan oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN menjadi relevan untuk diperhatikan kembali dalam setiap keluarga di Indonesia.

Delapan fungsi keluarga ini tentu diharapkan bukan hanya sebagai konsep normatif yang ada, akan tetapi sebagai kerangka praktis untuk menata ulang kehidupan keluarga di tengah perubahan zaman.

Keluarga hari ini cenderung dikatakan sebagai keluarga yang sedang menuju pada masyarakat modern sedang menghadapi tekanan yang tidak ringan. Hal terberat adalah dalam aspek ekonomi yang sering membuat orang tua harus bekerja lebih keras dan lebih lama di ruang publik.

Anak-anak tumbuh dalam dunia digital yang menyediakan informasi tanpa batas, tetapi tidak selalu disertai kemampuan untuk memilah, sehingga rentan dengan berbagai risiko negatif. Di sisi lain, banyak pasangan memasuki pernikahan dengan bekal pengetahuan yang minim tentang bagaimana membangun relasi yang sehat dan berkelanjutan.

Bagaimanapun keluarga tentu menjadi ruang pertama dalam perlindungan anak, tetapi juga menghadapi tantangan baru akibat transformasi digital yang cepat. Dalam situasi ini, keluarga tidak cukup hanya “ada”, tetapi harus berfungsi.

Dalam perspektif ilmu sosial, keluarga yang tidak menjalankan fungsinya secara optimal berpotensi mengalami disfungsi yang pada akhirnya berdampak pada kualitas individu dan masyarakat. Oleh karena itu, yang dibutuhkan mempertahankan keberadaan keluarga, melainkan memastikan bahwa setiap fungsi di dalamnya berjalan dengan baik.

Delapan fungsi keluarga dapat dipahami sebagai pilar yang menopang ketahanan keluarga. Ia bekerja tidak secara terpisah, tetapi saling terhubung dan memperkuat satu sama lain. Fungsi pertama adalah fungsi keagamaan.

Di tengah derasnya arus informasi yang sering kali tidak terfilter, keluarga menjadi ruang utama untuk menanamkan nilai agama maupun spiritual. Nilai ini membentuk religiositas seseorang sejak awal, sehingga menjadi dasar pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Individu dengan fondasi nilai agama yang kuat cenderung memiliki kontrol diri yang lebih baik dan ketahanan psikologis yang lebih tinggi.

Kedua, fungsi sosial budaya. Globalisasi membuat batas antarbudaya semakin tipis. Anak-anak hari ini dapat mengakses berbagai nilai dari seluruh dunia dalam hitungan detik. Tanpa fondasi sosial budaya yang kuat dari keluarga, mereka berisiko kehilangan identitas budayanya. Keluarga berperan sebagai jembatan yang menghubungkan generasi muda dengan nilai-nilai budaya, nilai luhur yang menjadi akar kehidupan Masyarakat yang telah ada sejak kala.

Ketiga adalah fungsi cinta kasih. Ini adalah inti dari relasi keluarga. Kasih sayang yang konsisten membentuk rasa aman yang menjadi dasar perkembangan kepribadian. Dalam perspektif psikologi menunjukkan bahwa hubungan emosional yang hangat antara orang tua dan anak berpengaruh besar terhadap kesehatan mental dan kemampuan sosial anak di masa depan.

Keempat, fungsi perlindungan. Apabila dahulu perlindungan lebih berfokus pada aspek fisik, kini cakupannya jauh lebih luas. Anak perlu dilindungi dari tekanan psikologis, kekerasan emosional, hingga risiko digital seperti bulliying, cyberbullying. Di tengah kompleksitas ini, keluarga harus menjadi ruang paling aman bagi setiap anggotanya, sehingga anak-anak tidak lagi mencari tempat yang aman lagi di luar keluarganya.

Kelima adalah fungsi reproduksi. Di samping fungsi ini terkait tentang melahirkan keturunan, tetapi juga tentang kesiapan dan tanggung jawab dalam membangun generasi seksual yang sehat. Perencanaan kehamilan, kesehatan reproduksi, dan kesiapan menjadi orang tua adalah bagian penting dari fungsi ini. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kualitas generasi sangat ditentukan sejak fase sebelum kehamilan.

Keenam, fungsi sosialisasi dan pendidikan. Keluarga merupakan sekolah pertama bagi anak. Di sinilah anak belajar berbicara, bersikap, dan memahami dunia dengan mencontoh kedua orang tua atau anggota keluarga yang ada di dekatnya. Dalam era digital, fungsi ini menjadi semakin kompleks karena anak juga belajar dari berbagai sumber di luar keluarga. Peran orang tua tidak lagi hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendamping dan penyaring informasi.

Ketujuh adalah fungsi ekonomi. Stabilitas ekonomi keluarga berpengaruh langsung terhadap kualitas hidup. Namun, fungsi ini tentang penghasilan, lebih jauh bagaimana keluarga mengelola sumber daya, merencanakan masa depan, dan membangun kemandirian untuk memenuhi kebutuhan keseharian dan masa depannya.

Terakhir, fungsi pembinaan lingkungan. Keluarga adalah bagian dari komunitas dan masyarakat. Hubungan yang harmonis dengan lingkungan, baik lingkungan fisik atau lingkungan sosial memperkuat ketahanan keluarga. Modal sosial yang kuat membuat keluarga lebih mampu menghadapi berbagai krisis, baik ekonomi maupun sosial.

Di era saat ini semakin penting. Teknologi telah banyak mengubah pola kehidupan manusia, baik cara manusia berinteraksi, mengubah kebutuhan dasar manusia akan kasih sayang, nilai, dan rasa aman.

Keluarga memiliki peran kunci dalam menjaga kesehatan mental anak dan remaja, terutama di tengah tekanan sosial modern. Tanpa keluarga yang berfungsi optimal, berbagai kemajuan justru dapat memperbesar risiko sosial.

Dengan demikian, delapan fungsi keluarga dapat dipandang sebagai kerangka adaptif yang memungkinkan keluarga tetap kokoh di tengah perubahan.

Satu hal yang sering terabaikan adalah bahwa kualitas keluarga tidak dimulai setelah pernikahan, melainkan jauh sebelumnya. Banyak pasangan memasuki pernikahan dengan harapan besar, tetapi tanpa pemahaman yang memadai tentang peran dan tanggung jawab dalam keluarga.

Padahal, menjalankan delapan fungsi keluarga membutuhkan kesiapan. Pengetahuan tentang pengasuhan, komunikasi, kesehatan reproduksi, hingga pengelolaan ekonomi seharusnya menjadi bagian dari persiapan pernikahan. Tanpa itu, pasangan muda sering kali belajar melalui pengalaman yang tidak selalu mudah.

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip ilmiah dalam kebijakan sosial, intervensi yang dilakukan lebih awal akan memberikan dampak yang lebih besar dan lebih efisien dibandingkan intervensi setelah masalah terjadi.

Pada akhirnya, keluarga merupakan institusi dasar dari segala proses Pembangunan negara dan bangsa. Tidak ada bangsa yang kuat tanpa keluarga yang kuat. Delapan fungsi keluarga memberikan arah yang jelas tentang bagaimana keluarga seharusnya dijalankan, tidak dalam kerangka ideal yang abstrak, tetapi dalam praktik keseharian yang nyata.

Di tengah kompleksitas zaman, mungkin kita tidak bisa menghentikan perubahan. Namun, kita bisa memastikan bahwa keluarga tetap menjadi ruang yang hangat, aman, dan bermakna. Tempat di mana nilai ditanamkan, kasih sayang tumbuh, dan masa depan dibentuk karena pada akhirnya, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kebijakan besar, tetapi oleh bagaimana keluarga-keluarga kecil menjalankan fungsi-fungsinya dengan penuh kesadaran secara bersama-sama.*



BACA JUGA