30 Tahun Wafat, Jejak Intelektual Khaidir Anwar Dihidupkan Kembali, Rektor Unand Beri Apresiasi

Rabu, 15/04/2026 06:22 WIB
ka

ka

 

Padang, sumbarsatu.com — Rektor Universitas Andalas, Efa Yonnedi, menyambut baik rencana penerbitan buku biografi mengenang 30 tahun wafatnya Khaidir Anwar. Hal itu disampaikan saat menerima dua penulis, Efri Yoni Baikoeni dan Yulnetri, di Kampus Limau Manis, Senin (13/4/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Rektor menyatakan dukungan penuh terhadap penerbitan buku biografi yang mengangkat perjalanan intelektual dan pengabdian Khaidir Anwar. Ia bahkan menyatakan kesediaannya untuk menulis kata pengantar sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusi tokoh tersebut dalam dunia akademik.

Tidak hanya itu, pihak kampus juga merencanakan buku tersebut akan menjadi bagian dari peluncuran 70 buku karya dosen dan alumni dalam rangka Dies Natalis ke-70 Unand yang akan diperingati pada September 2026 mendatang.

Khaidir Anwar dikenal sebagai mahaguru yang pernah menjabat sebagai dekan pertama Fakultas Sastra Unand pada periode 1983–1988 dan merupakan pakar di bidang ilmu bahasa. Sebelum mengabdi di Unand, ia berkiprah sebagai dosen di IKIP Bandung (1960–1972) serta di School of Oriental and African Studies, University of London (1972–1982).

Menurut Efri Yoni Baikoeni, buku yang berjudul Dari Inggris ke Limau Manis: Mengenang Tiga Dekade Wafatnya Khaidir Anwar merepresentasikan perjalanan hidup Khaidir Anwar yang melintasi dua dunia berbeda—dari lingkungan akademik internasional hingga pengabdian di kampus Unand. Buku ini juga menyoroti fase awal pembangunan kampus Limau Manis yang sarat dengan tantangan.

Ia menjelaskan, pengabdian Khaidir Anwar tidak didorong oleh ambisi material, melainkan oleh semangat perjuangan yang telah tertanam sejak muda. Semangat itu terbentuk dari pengalaman hidupnya, termasuk saat menjadi saksi Peristiwa Situjuh Batur pada 15 Januari 1949, yang menewaskan puluhan pejuang. Dalam masa revolusi, ia juga terlibat sebagai anggota laskar, prajurit TKR, hingga tenaga medis di garis depan perjuangan.

Kisah hidupnya, menurut penulis, menjadi refleksi tentang arti ketekunan, kesederhanaan, dan dedikasi terhadap bangsa. Sosok Khaidir Anwar menunjukkan bahwa keberhasilan tidak semata ditentukan oleh gelar akademik, tetapi oleh kerja keras dan daya juang yang konsisten.

Sementara itu, Yulnetri menambahkan bahwa setelah pertemuan dengan rektor, tim penulis juga melakukan koordinasi dengan Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unand, Ike Revita, guna mematangkan rencana sosialisasi dan peluncuran buku. Dukungan terhadap penerbitan ini juga datang dari Ikatan Keluarga Alumni Sastra Inggris Unand.

Dengan rencana peluncuran dalam momentum Dies Natalis ke-70, buku ini diharapkan tidak hanya menjadi dokumentasi sejarah, tetapi juga sumber inspirasi bagi civitas akademika, pelajar, dan masyarakat luas dalam meneladani semangat pengabdian seorang intelektual Minangkabau.ssc/rel

 



BACA JUGA