Rupiah Tembus Rekor Terlemah, IHSG Anjlok 20 Persen

Kamis, 30/04/2026 18:23 WIB
ilus

ilus

Jakarta, sumbarsatu.com--Nilai tukar rupiah di pasar spot kembali tertekan dan mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah. Hingga pukul 12.14 WIB, rupiah menyentuh Rp17.385 per dolar AS, melemah 0,34% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.326 per dolar AS.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai posisi rupiah saat ini sudah jauh di bawah nilai wajarnya. Ia memperkirakan nilai wajar rupiah berada di kisaran Rp16.500–Rp16.800 per dolar AS, dengan mempertimbangkan premi risiko global yang masih tinggi. Indikator nilai tukar riil efektif (REER) yang berada di bawah 100 juga menunjukkan rupiah relatif undervalued dibandingkan tahun dasar 2020.

Namun, pelemahan ini tidak serta-merta membuka ruang penguatan cepat. Menurut Josua, pasar saat ini lebih sensitif terhadap risiko ketimbang fundamental. Tekanan datang dari lonjakan harga minyak, ketidakpastian konflik Timur Tengah, serta penguatan dolar AS.

Kondisi ini juga meningkatkan kekhawatiran terhadap pelebaran defisit transaksi berjalan dan APBN akibat potensi lonjakan subsidi energi.

Tekanan juga merambat ke pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh 175 poin atau 2,42% ke level 6.926,55 pada penutupan sesi I, dan sempat merosot lebih dalam ke 6.887,36 pada awal sesi II—turun 3,01% dan menjadi titik terendah sepanjang 2026. S

ecara year-to-date, IHSG telah terkoreksi sekitar 20%, dengan seluruh sektor mengalami pelemahan, terutama infrastruktur, bahan baku, dan energi.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut sentimen negatif dipicu ketidakpastian geopolitik global, termasuk eskalasi militer terbaru yang dikaitkan dengan Donald Trump, serta sikap hawkish bank sentral AS.

Minimnya sentimen positif domestik turut memperburuk tekanan, ditambah kekhawatiran defisit fiskal dan faktor teknis seperti rebalancing MSCI.

Senada, analis MNC Sekuritas, Herditya, menilai pelemahan rupiah hingga kisaran Rp17.390 per dolar AS menjadi beban utama IHSG. Ia memproyeksikan ruang penguatan indeks masih terbatas, dengan potensi tekanan lanjutan dalam jangka pendek.

Di sisi fiskal, Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memproyeksikan penerimaan pajak 2026 berpotensi meleset antara Rp171 triliun hingga Rp484 triliun dari target.

Direktur Riset Makroekonomi CORE, Akhmad Akbar Susamto, menyebut rentang proyeksi yang lebar mencerminkan tingginya ketidakpastian.

Meski penerimaan pajak kuartal I-2026 tumbuh 20,7% secara tahunan menjadi Rp394,8 triliun, tren tersebut dinilai belum solid. Pertumbuhan bulanan yang tinggi pada Januari dan Februari anjlok pada Maret seiring berakhirnya momentum Ramadan.

Selain itu, hampir 40% penerimaan masih ditopang pajak konsumsi seperti PPN dan PPnBM yang tumbuh 57,7%, sementara pajak berbasis aktivitas riil seperti PPh Badan hanya tumbuh 5,4%.

CORE memperkirakan total penerimaan pajak tahun ini hanya berada di kisaran Rp1.880 triliun hingga Rp2.193 triliun, di bawah target pemerintah.

Untuk menutup celah tersebut, pemerintah didorong mempercepat implementasi sistem Coretax dan mempertimbangkan kebijakan windfall tax di sektor energi dan pertambangan, seiring lonjakan harga komoditas akibat tekanan geopolitik global.ssc



BACA JUGA