Hasril Chaniago
OLEH Hasril Chaniago (Wartawan Senior)
Gebu Minang tampaknya sudah kehilangan "gebu". Kenapa bisa begini? Karena Gebu Minang sudah kehilangan roh dan semangat genuine-nya.
Selama 10 tahun pertama Gebu Minang berdiri saya sebagai waratawan cukup intensif mengikuti perjalanan. Bahkan satu artikel yang saya edit dan dimuat di Harian Singgalang tahun 1990 dengan judul "Konglomerat Rakyat Lahir di Bukittinggi" mendapat anugerah Kalam Kencana dari Menteri Penerangan sebagai tulisan terbaik nasional dengan tema daerah.
Dalam 20 tahun saya merasa Gebu Minang hanya tinggal nama dan lembagai tanpa roh dan jiwa.
Saya punya bayangan, dalam Mubes Gebu Minang yang kini tengah berlangsung di Padang, sejak 23-25 Desember 2016, akan hadir Prof. Dr. Emil Salim, tokoh nasional dari Minang yang dulu menjadi konseptor Gebu Minang ketika didirikan delapan tahun setelah dicetuskan Presiden Soeharto. Mumpung masih ada Pak Emil yang masih bisa menjelaskan tentang filosofi dan konsep dasar Gebu Minang. hanya saja selama ini orang Minang seperti telah melupakan beliau.
Saya ragu, apakah para tokoh yang menghadiri Mubes Gebu Minang di Padang sekarang memahami filosofi dan konsep dasar Gebu Minang itu sendiri. Antahlah.
Tapi saya kok merasa Gebu Minang kini seolah-olah "Ka bawah indak baurek ka ateh indak bapucuak, di tangah-tangah digiriak kumbang pulo".
Apakah Uda Basril Djabar dan Pak Saafroedin Bahar hadir dalam Mubes Gebu Minang di Padang sekarang? Kalau hadir keduanya bertanggung jawab bersuara dan meluruskan kembali Gebu Minang, kalau memang akan diteruskan juga (pada dasarnya konsep Gebu Minang itu luar biasa).
Kalau tidak ada yang mengingatkan dan meluruskan agar Gebu Minang kembali ke akarnya, kepada roh, semangat dan jiwa yang sesungguhnya, saya khawatir Gebu Minang hanya akan ada (tinggal) nama, jasa tanpa roh dan jiwa. Dan 10-20 tahun lagi akan dicatat dalam Ensiklopedi bahwa pernah ada organisasi orang Minang bernama "Gebu Minang" tapi beberapa tahun lagi sudah tidak kedengaran lagi kiprahnya.
Sungguh ironi bahkan tragedi bagi sebuah suku bangsa yang telah banyak menyumbang bagi kemerdekaan negeri ini, tapi tak mampu mengelola dan memelihara cita-citanya sendiri.