Tari “Tonggak Raso” Menutup Koreografis dengan Sempurna

PAGELARAN SENI

Jum'at, 30/10/2015 08:30 WIB
Koreografi Tonggak Raso karya Ali Sukri

Koreografi Tonggak Raso karya Ali Sukri

Padang Panjang, sumbarsatu.com—Pementasan “Tonggak Raso” karya koreografi Ali Sukri, Rabu malam (28/10/2015) di Gedung Pertunjukan Hoerijah Adam ISI Padang Panjang, sepanjang 50 menit durasi tari karya terbaru koreografer muda ini, memukau ratusan penonton yang memenuhi kursi gedung itu.

Pertunjukan tari yang didukung penuh Yayasan Kelola ini, diawali enam lelaki telanjang dada bergerak sistemik membangun simbol di atas panggung: tubuh adalah bahasa ungkapnya. Enam unit properti yang dihadirkan di atas pentas mengkontruksi aspek-spek simbolis dari jumlah yang sama penari itu. Pada lain bagian, ada tujuh penari.

“Tonggak Raso” menggagas soal identitas kultural masyarakat Minang yang kian tergerus seiring dengan dominasi budaya globalisme. Properti serupa meja yang dilapisi timbal balik dengan cermin dihadirkan di atas panggung efesien memunculkan simbol-simbol konotatif.    

Beberapa komposisi gerak langkah silek dimainkan dengan dinamis. Tubuh-tubuh pun memainkan perannya. Otot yang berurat-urat dan kilatan keringat terpaan pencahayaan yang sanga apik dan dan detil, memberi nuansa lain pada rangkaian cerita “Tonggak Raso”.

“Untuk bentuknya, “Tonggak Raso” sudah bagus, tapi yang perlu dipoles dan dipertajam adalah “rasa”. Penari belum memperlihatkan keseimbangan rasa dengan gerak fisiknya sehingga tampak agak senjang. Tepatnya belum maksimal menjiwai ide-ide yang dibawa “Tonggak Raso”,” kata Susasrita Lora Vianti, ketua program Pascasarjana ISI Padang Panjang, dalam bincang-bincang dengan sumbarsatu.com, Rabu malam.

Properti di atas panggung tak demikian rumit. Tapi fungsional. Kedinamisan dan kekuatan tubuh penari dengan komposisi gerak senyawaan spirit tradisi silek harimau dan laku penari, memberi perspektif resepsi yang multitafsir.

BACA: “Tonggak Raso” Mengoyak “Raso-Pareso” Orang Minang Malam Ini

Ali Sukri mengalirkan cerita dari tubuh enam-dan tujuh penari (satu bagian Ali Sukri ikut memainkannya). Memadukan gerak silek yang berkembang dalam tradisi kultural Minangkabau dengan gerak atraktif modernisme, kita seakan merasakan “Tonggak Raso” berada dalam “dua dunia” yang berjalan tanpa tersendat. Bak air jernih mengalir lembut, tapi kadang deras.

Selain itu properti yang fungsional itu, diperkuat dengan tata cahaya yang detil dan apik, tak berlebihan, harapan masa depan koreografer Sumatera Barat tampaknya ada di tangan Ali Sukri.

“Masa depan tari Sumatera Barat, ada di tangan Ali Sukri. Ada keseriusan ia menggarap gagasan dan ide kreatifnya yang akan dituangkan ke atas panggung tari, terlihat jelas. Tonggak Raso ini, membuktikan itu. Selain ini, Ali Sukri mau membuka diri berdiskusi dengan orang lain. Dan ia masih muda. Jalannya masih panjang,” kata Yusrizal KW, redaktur budaya harian Padang Ekspres.     

Sepanjang amatannya, kata penulis buku kumpulan cerpen “Kembali ke Pangkal Jalan” ini, Ali Sukri sudah memperlihatkan identitas dirinya dalam garapan koreografinya lima tahun terakhir. Ia sudah lepas dari pengaruh orang-orang yang selama mengaku dekat dengan karyanya.

“Ali Sukri sudah menjadi dirinya sendiri. Ini yang penting. Jika pun ada terlihat keterpengaruhan, itu jadi tak penting karena dasar kekuatan dan identitas karyanya sudah digenggamnya,” katanya.  

Ali Sukri mengaku, “Tonggak Raso” hasil dari berbagai diskusi dengan berbagai kalangan, termasuk wartawan dan budayawan. “Tonggak Raso” ini saya pikir hasil dari kerja sama pikiran dan gagasan banyak pihak, kendati saya sendiri yang memutuskan di atas panggung. Untuk itu saya berterima kasih,” kata Ali Sukri.

Pada endingnya, dengan memasukkan tradisi ratik tagak yang sangat akrab dengan masyarakat tradisi Minangkabau, sebagai pengunci pertunjukan, tampak enam penari seperti “kerasukan”, pertunjukan Tonggak Raso ini menjadi sempurna dan original.

Tampak hadir dalam pertunjukan malam itu, Dr Indra Yudha, staf pengajar UNP bersama ratusan mahasiswa UNP yang khusus datang dari Padang, Syuhendri (sutradara teater), Gusriyono (penulis), dan sebelas mahasiswa program Darmasiswa dari berbagai negara.

Dalam rencana program Alisukri Dancetheater Padang Panjang, “Tonggak Raso” akan dipentaskan di Jakarta.     

“Tonggak Raso” akan kita coba program untuk tampil di Jakarta. Sekarang sedang penjajakan kerja sama,” kata Iskandar Loedin, desainer tata cahaya pementasan “Tonggak Raso” ini. (NA)



BACA JUGA