Koreografi Tonggak Raso karya Ali Sukri
Padang Panjang, sumbarsatu.com—Malam ini, Rabu (28/10/2015) sekira pukul 20.00 WIB, tari “Tonggak Raso” karya terbaru koreografer Ali Sukri dipentaskan di Gedung Pertunjukan Hoeridjah Adam ISI Padang Panjang.
Menurut Ali Sukri, pementasan yang merupakan program Hibah Seni Kelola tahun 2015 ini, mengisahkan soal keminderan dan ketidakpercayaan diri yang dialami secara akut oleh orang-orang yang mengaku pemilik kebudayaan Minangkabau.
“Gejala ini tampak dari sikap yang muncul dua dasawarsa terakhir, khusus setelah era jatuhnya pemerintahan otoriterianisme Orde Baru. Masyarakat Minangkabau mengalami autisme kultural. Lupa ingatan kultural. Jarang bercermin untuk koreksi dirinya,” kata Ali Sukri, kepada sumbarsatu.com, usai geladi bersih pada Selasa (27/10/2015) malam di gedung yang sama.
Lebih jauh ia katakan, Minangkabau pada saat ini telah kehilangan identitas budaya yang paling hakiki, yaitu rasa dan periksa atau raso dan pereso. Ini modal sosial dan budaya masyarakat komunal Minangkabau.
“Raso-pereso itu determinasi kultural yang bermuara pada sikap dan perilaku masyarakat, bukan saja bagi Minangkabau, tetapi umat manusia secara universal. Saya mengambil idiom Minangkabau: raso karena memang itu yang melekat dalam perjalanan kreatif saya. Tonggak raso berangkat dari sikap kritis saya pada kondisi Minangkabau hari ini,” kata Ali Sukri, yang juga jadi pimpinan Alisukri Dancetheater Company ini.
Ia menjelaskan, idiom tonggak dalam koreografi itu adalah representasi kekokohan, kekuatan, dan sikap empati manusia dalam kehidupan sosialnya.
“Tonggak itu penupang rasa. Maka “Tonggak Raso” jadi kata majemuk yang punya makna konotatif dan luas. Bentuk garapan tetap memiliki basis yang kuat pada kekayaan tradisi Minangkabau. Saya mensenyawakan dengan silat, ratik tagak, dan kekuatan tubuh. Postmodernisasi terasa pada properti dan tata lampu yang dipadukan dengan musik etnik-modern,” terang lelaki yang baru saja kembali dari Amerika Serikat ini.
Untuk aspek gerak dan kompisisi, tambahnya, “Tonggak Raso” mencerminkan keleluasaan terhadap ruang tafsir tanpa batas dan tidak mengikat. Wujud gerak yang dimunculkan melalui gestur, mimik, maupun ekspresi yang lahir secara fisikal, pada dasarnya memuat pengalaman-pengalaman batin, sehingga dinamika tubuh yang di eksplorasi dan dielaborasi oleh tari menjadi tanda yang cenderung bersifat konototatif dan multitafsir.
“Eksplorasi tubuh representasi gagasan. Tubuh memungsionalisasikan sejauh mana peranan bahasa tubuh mampu mengkomunikasikan berbagai peristiwa sosial dan kultutral tentang keberagaman wajah individu manusia yang banyak munafik ini,” jelasnya.
Sementara itu, Pimpinan Produksi Kurniasih Zaitun mengatakan, pertunjukan “Tonggak Raso” ini hasil proses kreatif Ali Sukri sepanjang setahun terakhir ini dengan dukungan penuh seniman yang profesional di bidangnya masing-masing.
“Tonggak Raso didukung penuh seniman yang profesional. Dan kita terus menerus menguatkan aspek-aspek yang penting agar karya ini maksimal,” kata pengajar yang akrab disapa Tintun ini.
Dijelaskannya, untuk tata lampu, Tonggak Raso menghadirkan Iskandar Loeddin, seorang desainer tata lampu nasional. Untuk komposer ada Elizar Koto, serta Yusril dan Sahrul N, keduanya kini kandidat doktor seni pertunjukan di ISI Solo.
Sementara untuk penarinya ada Kurniadi Ilham, Erwin Mardiansyah, Mahmud Junanda, Rery Rizaldi, Egi Oktriadi, dan Anggi Trimar Putra.
“Keseluruhan karya ini akan diulas panjang lebar oleh Yusrizal KW, redaktur budaya Padang Ekspres yang dipercaya Yayasan Kelola untuk menuliskannya,” kata Tintun lagi. (NA)
Lebih Jauh Baca
Ali Sukri: Kesantunan Harus Ada dalam Diri Seniman
Koreografer Ali Sukri Menerima Anugerah dari Menteri Pariwisata
Mewakili Indonesia, Koreografer Ali Sukri Akan Tampil di Amerika