Selasa, 03/11/2026 17:02 WIB

Kolaborasi Pemkab Pasaman Barat dan Tanoto Foundation Percepat Penurunan Stunting Menuju Indonesia Emas 2045

 

SIMPANG EMPAT, sumbarsatu.com – Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat terus memperkuat upaya percepatan pencegahan dan penurunan stunting melalui kolaborasi dengan Tanoto Foundation. Sinergi yang telah terjalin sejak 2021 tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan generasi Pasaman Barat yang sehat, cerdas, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.

Fokus utama intervensi pencegahan stunting adalah pemenuhan kebutuhan gizi selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Periode ini dikenal sebagai window of opportunity atau jendela kesempatan emas karena sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Pada fase tersebut, ibu hamil perlu mendapatkan asupan gizi seimbang, suplementasi zat besi sesuai anjuran tenaga kesehatan, serta pemeriksaan kehamilan secara rutin. Langkah ini penting untuk menjaga kesehatan ibu sekaligus mencegah risiko bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR).

Setelah bayi lahir, pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan pertama, dilanjutkan dengan makanan pendamping ASI (MPASI) yang bergizi seimbang dan kaya protein hewani, menjadi langkah penting untuk mendukung pertumbuhan optimal serta mencegah stunting sejak dini.

Bupati Pasaman Barat, Yulianto, menegaskan bahwa penanganan stunting merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan komitmen berkelanjutan dari pemerintah daerah, mitra pembangunan, tenaga kesehatan, dan masyarakat.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI), prevalensi stunting pada balita di Kabupaten Pasaman Barat tercatat sebesar 26,6 persen pada 2024. Sementara itu, berdasarkan data elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) tahun 2026, prevalensi stunting tercatat sebesar 10,5 persen.

"Ini menjadi tugas besar kita bersama untuk memastikan seluruh anak di Pasaman Barat mendapatkan asupan gizi yang baik, pelayanan kesehatan yang berkualitas, serta pola pengasuhan yang tepat. Upaya ini harus terus diperkuat agar penanganan stunting dapat berjalan optimal," ujar Yulianto, Selasa (3/11/2026).

Bupati juga menyampaikan apresiasi kepada Tanoto Foundation atas komitmen dan kerja sama dalam mendukung percepatan pencegahan dan penurunan stunting di Kabupaten Pasaman Barat sejak 2021 hingga saat ini.

"Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Tanoto Foundation yang terus berkomitmen bersama Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat. Kolaborasi ini sangat berarti dalam mewujudkan generasi Pasaman Barat yang sehat, cerdas, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045," ungkapnya.

Kepala Bappelitbangda Kabupaten Pasaman Barat, Joni Hendri, menjelaskan bahwa strategi percepatan penurunan stunting dilaksanakan melalui penguatan aksi konvergensi lintas sektor dan Komunikasi Perubahan Sosial dan Perilaku (Social and Behaviour Change Communication/SBCC).

Melalui aksi konvergensi, berbagai program organisasi perangkat daerah (OPD) diintegrasikan agar intervensi pencegahan dan penanganan stunting dapat menjangkau keluarga sasaran secara tepat. Intervensi tersebut mencakup pelayanan kesehatan, pemenuhan gizi, penyediaan air minum yang aman, sanitasi layak, serta edukasi pengasuhan anak.

Sementara itu, pendekatan SBCC diarahkan untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui komunikasi yang partisipatif dan sesuai dengan konteks sosial budaya setempat. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus mendorong keluarga menerapkan pola hidup bersih dan sehat, memenuhi kebutuhan gizi anak, serta memanfaatkan layanan kesehatan secara rutin.

Upaya tersebut juga menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan gizi selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Periode ini merupakan fase penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak sehingga membutuhkan perhatian khusus melalui pemenuhan gizi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, pemberian MPASI bergizi dan kaya protein hewani, serta pemantauan pertumbuhan anak secara berkala.

Dalam pelaksanaannya, komunikasi perubahan perilaku difokuskan pada enam pesan kunci pencegahan stunting. Keenam pesan tersebut meliputi pemenuhan gizi ibu hamil; inisiasi menyusu dini (IMD) dan pemberian ASI eksklusif; pemberian MPASI bergizi dan kaya protein hewani bagi anak usia 6–24 bulan; pemantauan pertumbuhan anak secara rutin di posyandu; penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), termasuk mencuci tangan menggunakan sabun; serta pemanfaatan air bersih dan sanitasi layak.

Regional Lead Tanoto Foundation, Medi Yusia, menyampaikan bahwa kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat merupakan langkah strategis untuk memastikan intervensi pencegahan dan penurunan stunting berjalan secara berkelanjutan, terintegrasi, dan tepat sasaran.

Menurutnya, keberhasilan penanganan stunting membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, organisasi filantropi, akademisi, media, hingga masyarakat. Penguatan kapasitas petugas di garis depan, seperti kader posyandu, bidan desa, dan tenaga penyuluh kesehatan, juga menjadi faktor penting karena mereka berinteraksi langsung dengan keluarga sasaran.

"Keberhasilan penanganan stunting di Kabupaten Pasaman Barat diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain. Kolaborasi lintas sektor dan keterlibatan aktif masyarakat merupakan kunci untuk memastikan setiap anak memperoleh kesempatan tumbuh dan berkembang secara optimal," ujarnya.

Melalui kolaborasi berkelanjutan antara Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat dan Tanoto Foundation, upaya percepatan penurunan stunting diharapkan semakin efektif dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia. Investasi pada kesehatan, pemenuhan gizi, dan pengasuhan anak sejak dini merupakan langkah penting dalam menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045. ssc/nir

BACA JUGA