-
PADANG, sumbarsatu.com – KABA Festival XII 2026: Tribute untuk Sang Maestro Ery Mefri sekaligus Perayaan 43 Tahun Nan Jombang dimulai malam ini Minggu (1/11/2026) di Gedung Pertunjukan Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang, Balai Baru, Padang, Sumatera Barat.
Berlangsung selama dua hari, 1–2 November 2026, festival ini menghadirkan empat karya koreografi dari seniman Indonesia dan Singapura sebagai penghormatan terhadap perjalanan artistik Ery Mefri, maestro tari Minangkabau sekaligus pendiri Nan Jombang Dance Company.
Keempat karya yang ditampilkan adalah The Next oleh Rio Mefri, Bakeh oleh Kurniadi Ilham, The Last Iftar oleh Muhd Sharul Mohd, dan Sepi Dalam Tari oleh Norisham Osman. Meski tidak seluruhnya secara khusus mengangkat sosok Ery Mefri sebagai tema, keempat karya tersebut memiliki keterhubungan artistik dengan sang maestro, baik melalui pengalaman belajar, pertemuan kreatif, maupun proses pencarian bahasa koreografi masing-masing.
Direktur KABA Festival, Angga Mefri, mengatakan festival ini tidak sekadar menjadi ruang untuk mengenang perjalanan seorang maestro, tetapi juga melanjutkan ruang pertemuan seni yang telah dirintis Ery Mefri. Keterhubungan para koreografer dengan sang maestro menjadi salah satu landasan dalam menghadirkan karya-karya yang memperlihatkan keberagaman pengalaman dan perspektif artistik.
Angga menegaskan, pengalaman dan pergulatan manusia tidak selalu dapat diwakilkan oleh orang lain. Setiap individu memiliki suara dan ekspresi sendiri untuk mengungkapkan apa yang dialaminya.
"Gagasan tersebut tercermin dalam beragam perspektif yang dihadirkan melalui keempat karya, mulai dari tubuh, ingatan, tradisi, kehilangan, hingga keberlanjutan pengetahuan antargenerasi," kata Angga Mefri, Minggu (1/11/2026).
Menurut Angga, penghormatan terhadap Ery Mefri tidak cukup diwujudkan melalui pengenangan atas perjalanan artistiknya. Penghormatan itu juga perlu hadir melalui keberanian para koreografer mengolah pengalaman, menemukan bahasa artistik sendiri, dan meneruskan pengetahuan yang telah diwariskan sang maestro.
Festival yang mendapat dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation ini juga menghadirkan agenda Pemutaran Film Arsip Ery Mefri yang disutradarai Andre Pratama dan Bincang Sang Maestro Ery Mefri bersama Nasrul Azwar dan Hendra Makmur, keduanya penulis dan jurnalis yang dimoderatori Yeyen Kiram pada Senin (2/11/2026), Kedua agenda tersebut melengkapi pertunjukan tari dengan ruang refleksi dan pembacaan terhadap perjalanan artistik Ery Mefri.
Pewarisan Pengetahuan Antargenerasi
Rio Mefri melalui The Next menghadirkan dialog gerak bersama putrinya, Hawa Mefri, yang berusia enam tahun. Karya ini berbicara tentang pewarisan pengetahuan antargenerasi tanpa harus melahirkan keserupaan. Hubungan antara ayah dan anak menjadi titik berangkat untuk membaca bagaimana pengetahuan artistik dapat diteruskan sekaligus memberi ruang bagi kebebasan generasi berikutnya.
Rio tumbuh dalam lingkungan kesenian Nan Jombang. Ia mulai belajar menari pada usia lima tahun di bawah bimbingan ayahnya dan bergabung dalam karya tari Ery Mefri pada 1998. Kini, selain menjadi penari inti Nan Jombang Dance Company, Rio juga aktif sebagai koreografer.
Dalam The Next, Rio tidak berusaha menjadi Ery Mefri yang baru. Ia justru mencari bahasa artistiknya sendiri, sementara Hawa menghadirkan spontanitas dan kebebasan gerak. Pertemuan keduanya menjadi gambaran bahwa tradisi dapat berfungsi sebagai akar bagi generasi berikutnya untuk tumbuh dan berkembang, bukan sebagai batas yang menghalangi pencarian bentuk baru.
Persoalan ingatan dan pengalaman tubuh hadir dalam Bakeh, karya Kurniadi Ilham yang mengeksplorasi jejak pengalaman yang menetap dalam diri manusia. Tubuh yang dikontrol, suara yang dibatasi, dan keinginan untuk menentukan diri sendiri menjadi bagian dari pergulatan yang diangkat dalam karya tersebut.
Ilham berasal dari Paninggahan, sedangkan Ery Mefri berasal dari Saniangbaka. Keduanya tumbuh dalam lingkungan kebudayaan Solok yang memiliki tradisi Tari Piring, Tari Adok, silek, dan randai. Tradisi tersebut menjadi sumber pengetahuan tubuh sekaligus fondasi penciptaan artistik.

Jadwal lengkap KABA Festival XII 2026: Tribute untuk Sang Maestro Ery Mefri dan 43 Tahun Nan Jombang
Melalui Bakeh, pengalaman tidak hanya dipahami sebagai sesuatu yang telah berlalu, tetapi juga sebagai jejak yang terus memengaruhi cara seseorang memandang dan menjalani kehidupan. Tubuh menjadi ruang tempat pengalaman, tekanan, dan keinginan untuk merdeka saling berhadapan.
Dari Singapura, Muhd Sharul Mohd mempersembahkan The Last Iftar, karya yang mengangkat kehilangan, duka, kerinduan, dan kenangan. Sharul pernah mendampingi Ery Mefri sebagai asisten dalam rangkaian lokakarya di LASALLE College of the Arts, Singapura. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari keterhubungan artistiknya dengan sang maestro.
Sebagai koreografer dan pendidik, Sharul mengembangkan tari kontemporer yang berakar pada tradisi Melayu. Dalam The Last Iftar, kehilangan dihadirkan sebagai pengalaman emosional yang sulit diungkapkan sepenuhnya melalui kata-kata. Tubuh, gerak, dan keheningan menjadi medium untuk menyampaikan perasaan mereka yang ditinggalkan sekaligus menghadirkan kembali kenangan yang menetap dalam ingatan.
Sementara itu, Norisham Osman bersama The Kaizen M.D. Collective menghadirkan Sepi Dalam Tari, karya yang mengeksplorasi hubungan antara tubuh, gerak, keheningan, dan ingatan. Norisham beberapa kali datang ke Ladang Tari Nan Jombang untuk mendalami praktik koreografi bersama Ery Mefri.

Direktur Festival Nan Jombang, Angga Mefri memberikan keterangan dalam jumpa pers terkait dengan KABA Festival XII 2026. foto ikhsan
Pengalaman tersebut turut membentuk perjalanan artistiknya, termasuk keberanian membangun ruang penciptaan sendiri di Singapura. Dalam Sepi Dalam Tari, kesepian tidak semata-mata dimaknai sebagai keterasingan, tetapi juga sebagai ruang untuk mendengarkan pengalaman yang kerap terabaikan di tengah hiruk-pikuk kehidupan.
Melalui pendekatan yang berbeda, The Last Iftar dan Sepi Dalam Tari memperlihatkan bagaimana kehilangan dan keheningan dapat menjadi sumber penciptaan. Keduanya menghadirkan tubuh bukan sekadar sebagai instrumen gerak, melainkan sebagai medium untuk mengungkapkan pengalaman yang tidak selalu mudah disampaikan melalui bahasa verbal.
Keempat karya tersebut memperlihatkan bahwa penghormatan terhadap Ery Mefri tidak berhenti pada upaya mengenang seorang maestro. Warisan artistiknya terus hidup melalui seniman yang mengolah tradisi, menemukan bahasa baru, dan membuka ruang dialog lintas generasi maupun negara.
Pertunjukan KABA Festival XII 2026 juga dapat disaksikan melalui siaran langsung di kanal YouTube Nan Jombang Festival. ssc/mn