KABA Festival XII 2026: Bakeh, Kurniadi Ilham dan Jejak Ingatan dalam Tubuh

Selasa, 27/10/2026 07:08 WIB
-

-

PADANG, sumbarsatu.com--Ingatan tidak selalu menetap dalam kata-kata atau cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ia juga hidup dalam tubuh, melekat pada gerak, menyimpan pengalaman, dan memengaruhi cara manusia memahami dirinya.

Gagasan tentang ingatan inilah yang menjadi titik berangkat Bakeh, karya tari Kurniadi Ilham bersama Mendalo Dance Project yang akan dipentaskan dalam KABA Festival XII 2026, Minggu, 1 November 2026 di Gedung Pertunjukan Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang, Balai Baru, Padang, Sumatera Barat.

Karya ini hadir dalam festival bertema Tribute untuk Sang Maestro Ery Mefri, yang berlangsung pada 1–2 November 2026 dengan dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation. KABA Festival XII menghadirkan empat pertunjukan koreografi dari seniman Indonesia dan Singapura, disertai sesi Bincang Sang Maestro Ery Mefri yang membuka ruang percakapan tentang perjalanan dan pemikiran artistik sang maestro.

Bagi Kurniadi Ilham, kehadiran dalam festival ini tidak sekadar menjadi kesempatan untuk memperlihatkan karya. Latar belakangnya sebagai penari, koreografer, dan akademisi mempertemukan pengalaman penciptaan dengan pengetahuan tradisi yang tumbuh di lingkungan kebudayaan Minangkabau.

Dalam konteks penghormatan kepada Ery Mefri, pengalaman tersebut menghadirkan perspektif lain tentang bagaimana tradisi bertahan: bukan hanya melalui figur yang mewariskannya, melainkan juga melalui seniman yang terus mengolah pengetahuan itu menjadi karya baru.

Tubuh yang Mewarisi Lanskap Pengetahuan

Penghormatan kepada seorang maestro tidak selalu diwujudkan dengan menghadirkan mereka yang pernah berdiri di sampingnya. Penghormatan juga dapat tumbuh melalui seniman yang berasal dari lanskap kebudayaan serupa, menyerap pengetahuan tradisi yang sama, dan dibentuk oleh ingatan kolektif masyarakatnya.

Kurniadi Ilham lahir di Paninggahan, sementara Ery Mefri berasal dari Saniangbaka. Kedua nagari di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, tersebut memiliki lingkungan kebudayaan yang menjadi ruang tumbuh berbagai praktik kesenian tradisional Minangkabau.

Tari Piring, Tari Adok, silek, randai, dan beragam kesenian rakyat tidak hanya hadir sebagai ekspresi artistik, tetapi juga menjadi bagian dari cara masyarakat mewariskan pengetahuan dan memahami kehidupan.

Meskipun berasal dari generasi berbeda, Kurniadi Ilham dan Ery Mefri sama-sama tumbuh dalam lingkungan budaya yang akrab dengan tradisi kesenian Minangkabau. Tari Piring dan Tari Adok bukan semata-mata materi pembelajaran, melainkan sumber pengetahuan untuk memahami tubuh, ruang, ritme, serta hubungan manusia dengan lingkungannya.

Kurniadi Ilham 

Jejak tradisi tersebut juga berkaitan dengan sosok Jamin Manti jo Sutan, yang dikenal sebagai Manti Menuik, ayah Ery Mefri sekaligus maestro Adok yang mewariskan pengetahuan tradisi kepada banyak generasi di kawasan Solok.

Kehadiran warisan kesenian itu menjadi bagian dari ekosistem budaya yang membentuk perkembangan seni di wilayah tersebut, termasuk lingkungan tempat Kurniadi Ilham tumbuh dan mengembangkan penciptaannya.

Kehadiran Kurniadi Ilham dalam KABA Festival XII 2026 bertema Tribute untuk Sang Maestro Ery Mefri memperlihatkan bahwa warisan seorang maestro tidak hanya bertahan melalui karya yang ditinggalkan atau dokumentasi perjalanan artistiknya.

Warisan itu juga hidup melalui seniman yang terus merawat pengetahuan tradisi, menafsirkannya kembali, dan mengolahnya menjadi bahasa artistik yang sesuai dengan pengalaman zamannya.

Perjalanan Ilham sebagai penari, koreografer, dan akademisi memperlihatkan bagaimana tradisi dapat terus berkembang melintasi ruang dan generasi.

Pengalamannya berawal dari lingkungan kesenian di kampung halaman, kemudian berlanjut melalui pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang dan ISI Surakarta, hingga keterlibatannya dalam berbagai panggung nasional dan internasional.

Pengalaman tersebut memberinya ruang untuk memandang tradisi Minangkabau bukan sebagai peninggalan masa lalu yang harus dipertahankan dalam bentuk tetap, melainkan sebagai sumber pengetahuan dan penciptaan yang dapat terus ditafsirkan.

Tradisi menjadi landasan untuk mengembangkan kemungkinan artistik baru tanpa kehilangan hubungan dengan lingkungan budaya yang melahirkannya.

Kendati begitu, dalam konteks KABA Festival ini, Kurniadi Ilham tidak hadir untuk merepresentasikan Ery Mefri ataupun mengulang pencapaian artistiknya. Melalui Bakeh, ia membawa pengalaman dan pengetahuan yang tumbuh dari lingkungan budayanya sendiri ke dalam sebuah karya tari yang berbicara tentang ingatan.

Kehadirannya sekaligus memperlihatkan bahwa keberlanjutan kesenian tidak hanya bergantung pada seorang maestro, tetapi juga pada kemampuan generasi berikutnya untuk menjaga, mengolah, dan mengembangkan pengetahuan yang diwariskan.

Seorang maestro pada akhirnya tidak hanya dikenang melalui arsip, dokumentasi, atau karya yang pernah dipentaskan. Jejaknya juga dapat ditemukan dalam kehidupan pengetahuan artistik yang terus bergerak melalui tubuh para seniman, melahirkan tafsir baru, dan membuka jalan bagi perkembangan kesenian pada masa mendatang.

Karya Tari Bakeh

Koreografi: Kurniadi Ilham
Penari: Fifi Amelia Melani Putri, Tatalui Nurhadi, dan Junaisya Syifatul Qalby
Penata musik: Capaik
Asisten: Zurraihan Al Qhifari dan Anggi Safandri
Produksi: Mendalo Dance Project

Sinopsis Bakeh

Bakeh berarti sesuatu yang terkenang atau tertinggal dalam ingatan. Dalam karya ini, ingatan dimaknai sebagai jejak pengalaman yang terus melekat pada tubuh, termasuk pengalaman ketika tubuh dikontrol, suara dibatasi, dan keinginan untuk menentukan diri sendiri berhadapan dengan berbagai batasan.

Melalui gagasan tersebut, Bakeh menghadirkan refleksi tentang hubungan antara ingatan, tubuh, dan kebebasan. Pengalaman yang tertinggal tidak sekadar menjadi rekaman masa lalu, tetapi terus hidup, memengaruhi cara seseorang memahami dirinya, dan membentuk keinginannya untuk memperoleh ruang bagi suara serta pilihan personal. ssc/mn



BACA JUGA