Padang, sumbarsatu.com — KABA Festival XII 2026 akan menghadirkan empat pertunjukan koreografi dari seniman Indonesia dan Singapura di Gedung Pertunjukan Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang, Balai Baru, Padang, Sumatera Barat, pada Minggu–Senin, 1–2 November 2026.
Mengusung tema Tribute untuk Sang Maestro Ery Mefri, festival ini menjadi penghormatan terhadap perjalanan artistik koreografer Minangkabau tersebut sekaligus upaya merawat keberlanjutan ruang pertemuan seni yang telah dirintisnya.
Festival yang mendapat dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation itu berlangsung mulai pukul 20.00 WIB hingga selesai. Selain pertunjukan tari, agenda tahun ini juga menghadirkan sesi Bincang Sang Maestro Ery Mefri, yang membuka ruang percakapan mengenai perjalanan, pemikiran, dan warisan artistik sang maestro.
Dalam rangkaian publikasi menjelang festival, sumbarsatu menurunkan profil para seniman yang tampil hingga 31 Oktober setiap hari. Berikut Rio Mefri, seorang koreografer yang tumbuh dalam lingkungan Nan Jombang Dance Company dan menghadirkan karya The Next sebagai refleksi tentang hubungan antargenerasi dalam kesenian. The Next dipentaskan pada Minggu, 1 November 2026.
Melanjutkan Api yang Tak Pernah Padam
Dalam kesenian, warisan tidak cukup diteruskan melalui nama keluarga. Ia harus dihidupkan kembali melalui proses kreatif, disiplin, dan keberanian menemukan bahasa artistik sendiri.
Bagi Rio Mefri--putra maestro tari Ery Mefri-- perjalanan itu tumbuh dari kedekatannya dengan Ery Mefri, ayah sekaligus guru yang memperkenalkannya pada dunia tari sejak usia dini.

Rio menyaksikan bagaimana Ladang Tari Nan Jombang dibangun melalui ketekunan dan bagaimana tubuh menjadi medium pencarian pengetahuan artistik. Pengalaman tersebut membentuk pemahamannya bahwa seni bukan semata-mata profesi, melainkan cara hidup yang menuntut kesungguhan dan pencarian tanpa henti.
Namun, berada dalam lingkungan kesenian yang dibangun seorang maestro menghadirkan tantangan tersendiri. Nama besar Ery Mefri membawa sejarah, harapan, sekaligus kemungkinan perbandingan yang tidak mudah dihindari. Karena itu, perjalanan kreatif Rio bukanlah usaha menghadirkan sosok Ery Mefri dalam tubuh generasi baru, melainkan menemukan jalan penciptaannya sendiri tanpa tercerabut dari akar yang membentuknya.
Gagasan tersebut hadir dalam The Next, karya yang dipentaskan Rio bersama putrinya, Hawa Mefri, dalam KABA Festival XII 2026. Pertemuan keduanya memperlihatkan hubungan artistik antara dua generasi yang memiliki pengalaman dan kebebasan bergerak berbeda.
Rio membawa pengalaman panjang sebagai penari dan koreografer, sedangkan Hawa hadir dengan spontanitas seorang anak yang belum sepenuhnya dibatasi oleh konvensi gerak.
Kehadiran Hawa, yang merupakan cucu Ery Mefri, sekaligus memperluas makna pewarisan dalam karya ini. Hubungan keluarga menjadi titik berangkat untuk membicarakan bagaimana pengalaman dan pengetahuan kesenian berpindah antargenerasi, bukan melalui penyalinan bentuk yang sudah ada, melainkan melalui kesempatan untuk menemukan kemungkinan baru.
Judul The Next menandai arah pencarian tersebut. Karya ini mengajukan pertanyaan tentang apa yang terjadi setelah sebuah generasi membangun tradisi dan bagaimana generasi berikutnya merespons warisan itu. Jawabannya tidak harus berupa pengulangan atas pencapaian pendahulu, tetapi dapat hadir melalui keberanian mengembangkan bahasa artistik yang berbeda.
Tentang Rio Mefri
Rio Mefri lahir di Solok pada 1 Maret 1983. Ia mulai belajar menari pada usia lima tahun di bawah bimbingan ayahnya, Ery Mefri. Lingkungan keluarga dan aktivitas kesenian Nan Jombang menjadi ruang awal pembentukan pengalaman artistiknya.
Pada 1998, Rio mulai terlibat dalam salah satu karya tari Ery Mefri. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari proses panjangnya mengenal dunia pertunjukan, baik melalui latihan, pengalaman panggung, maupun perjumpaan dengan pendekatan koreografi yang dikembangkan ayahnya.
Ery Mefri merupakan salah seorang maestro tari Indonesia sekaligus pendiri dan pimpinan Nan Jombang Dance Company. Melalui kelompok ini, ia mengembangkan perjalanan penciptaan yang berakar pada pengalaman budaya Minangkabau dan terus bergerak dalam pencarian bentuk tari kontemporer.
Rio tidak hanya mengembangkan kemampuannya sebagai penari, tetapi juga menekuni koreografi dan melahirkan sejumlah karya tari. Saat ini, ia aktif sebagai salah seorang penari inti Nan Jombang Dance Company. Perannya memperlihatkan keterlibatan langsung dalam keberlangsungan aktivitas artistik kelompok tersebut, sekaligus membuka ruang bagi perkembangan penciptaannya sendiri.
Koreografi The Next menampilkan penari Hawa Mefri (anaknya dan cucu Ery Mefri) dan Rio Mefri sendiri yang sekalgus koreografer dengan penata musi Dimas Hidayatullah, tata multimedia Andre Pratama yang diproduksi Nan Jombang Dance Company.
Di Antara Darah, Batas, dan yang Tak Pernah Selesai
Seni tidak diciptakan untuk tinggal di dalam batas. Ia harus berani melampaui kewajaran, menembus pakem, dan bergerak menuju sesuatu yang belum pernah dibayangkan.
Bagi Rio Mefri, Ery Mefri adalah tradisinya: bukan untuk ditiru ataupun disamai, melainkan sebagai akar tempat ia bertumbuh dan menemukan jalannya sendiri. Rio tidak sedang berusaha menjadi Ery Mefri; ia mencari kemungkinan lain dari apa yang telah diwariskan kepadanya.
Dalam The Next, Rio mempertemukan tubuhnya dengan Hawa Mefri, putrinya yang baru berusia enam tahun. Di antara pengalaman dan kepolosan, kematangan dan spontanitas, keduanya membangun dialog tanpa kata.
Hawa bergerak tanpa beban pakem, sementara Rio membaca kebebasan dalam setiap gerak kecilnya. Pertemuan ini bukan tentang mengajarkan bagaimana seharusnya tubuh menari, melainkan membiarkan tubuh menemukan bahasanya sendiri.
Melalui hubungan ayah dan anak tersebut, The Next menyatakan bahwa tradisi tidak harus melahirkan keserupaan. Ia dapat menjadi akar yang memberi kekuatan untuk tumbuh, tanpa menentukan seluruh arah perjalanan. Seni tidak berhenti pada satu tubuh, satu nama, atau satu generasi.
Ia terus bergerak, berubah, dan membuka kemungkinan yang sebelumnya belum terbayangkan. Yang diwariskan bukanlah kewajiban untuk menjadi sama, melainkan keberanian untuk melangkah lebih jauh. ssc/mn
BACA: “The Next”: Estafet, Rantau Tubuh, dan Harapan Baru bagi Nan Jombang Dance Company