Survei CELIOS: 75 Persen Responden Stres, 55 Persen Pemilih Prabowo Tak Ingin Memilih Kembali

Senin, 12/10/2026 15:24 WIB
-

-

Jakarta, sumbarsatu.com — Hasil evaluasi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) bersama Kabinet Bayangan terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mencatat sejumlah penilaian kritis.
 
Sebanyak 75 persen responden mengaku stres menghadapi kebijakan pemerintah, sementara 55 persen responden yang sebelumnya memilih Prabowo menyatakan tidak akan memilihnya kembali pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029.

Temuan tersebut disampaikan Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, dalam peluncuran laporan Rapor 2 Tahun Prabowo-Gibran secara virtual, Minggu (11/10/2026). Hasil riset itu dipublikasikan pada Senin (12/10/2026).

Dalam pemaparan tersebut, Bhima mengatakan tekanan yang dirasakan masyarakat berkaitan dengan sejumlah persoalan, terutama kenaikan harga kebutuhan pokok, kesulitan memperoleh pekerjaan, serta penegakan hukum.

“Kami coba menanyakan terkait dengan perasaan stres terhadap kebijakan pemerintah. Dari 1.122 responden, jawabannya, 75 persen itu merasa stres dengan kebijakan pemerintah dan spesifik 67 persen stres dengan perilaku dari Prabowo Subianto,” kata Bhima.

Angka tersebut merupakan persepsi responden yang dihimpun dalam penelitian CELIOS. Hasilnya menggambarkan jawaban peserta survei dan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh masyarakat Indonesia mengalami kondisi yang sama.

55 Persen Pemilih Prabowo Menolak Memilih Kembali

Salah satu temuan yang disorot dalam laporan tersebut adalah jawaban responden mengenai pilihan politik apabila pemilihan presiden kembali digelar.

Bhima menyebutkan, sebanyak 55 persen responden yang sebelumnya memilih Prabowo menyatakan tidak akan memilihnya kembali pada Pilpres 2029. Sebanyak 27 persen menyatakan masih akan memilih Prabowo, sedangkan 19 persen lainnya belum mengetahui atau belum menentukan pilihan.

“Jadi jika ada pilpres mendatang, 55 persen itu bilang bahwa tidak akan memilih kembali Prabowo, dan 27 persen yang menjawab akan memilih kembali. Sisanya 19 persen tidak tahu,” ujar Bhima.

Temuan tersebut menunjukkan adanya perbedaan pilihan di antara responden yang sebelumnya mendukung Prabowo. Namun, angka itu tidak dapat langsung digunakan untuk memprediksi hasil Pilpres 2029 karena masih terdapat perubahan preferensi pemilih, dinamika politik, serta faktor lain yang akan berkembang menjelang pemilihan.

CELIOS juga mengukur penilaian terhadap kinerja Presiden Prabowo menggunakan skala 1–10. Berdasarkan penilaian kelompok ahli, Prabowo memperoleh skor 2,8. Sementara itu, responden dari kelompok masyarakat umum memberikan skor 4,6.

Penilaian terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka juga tercantum dalam laporan tersebut. Gibran memperoleh skor 2,2 dari kelompok ahli dan 4,9 dari masyarakat umum.

Angka-angka tersebut merupakan penilaian responden terhadap kinerja masing-masing pejabat, bukan peringkat resmi yang dikeluarkan lembaga pemerintah.

Harga Pangan, Pajak, dan Lapangan Kerja Jadi Sorotan

Persoalan ekonomi menjadi salah satu bagian penting dalam evaluasi CELIOS. Dalam pemaparan hasil riset pada Minggu (11/10/2026), Bhima menyebutkan sebanyak 78 persen responden menilai harga kebutuhan pokok sebagai persoalan yang mendesak ditangani pemerintah.

Selain itu, sebanyak 58 persen responden menyoroti persoalan lapangan kerja dan perlindungan pekerja. Penegakan hukum dan reformasi birokrasi juga masuk dalam daftar persoalan yang menjadi perhatian masyarakat.

CELIOS turut mencatat persepsi masyarakat terhadap beban pajak dan pungutan pemerintah. Berdasarkan hasil yang dipaparkan Bhima, sebanyak 82 persen responden mengeluhkan beban pajak dan pungutan yang dirasakan semakin berat.

Sementara itu, 53 persen responden menilai kondisi ekonomi rumah tangga mereka lebih buruk dibandingkan tahun sebelumnya.

“Pajak dan pungutan pemerintah makin memberatkan dan kondisi ekonomi rumah tangga dibandingkan setahun lalu, 53 persen menjawab lebih buruk,” kata Bhima dalam pemaparan hasil riset tersebut.

Temuan ini memperlihatkan persoalan yang menjadi perhatian responden tidak hanya berkaitan dengan penilaian terhadap pemimpin, tetapi juga menyangkut pengeluaran rumah tangga, kesempatan kerja, dan penegakan hukum.

Meski demikian, persentase tersebut perlu dibaca sesuai pertanyaan yang diajukan kepada responden. Keluhan terhadap suatu persoalan tidak selalu berarti responden memiliki pandangan yang sama terhadap seluruh kebijakan pemerintah. 

Mayoritas Ahli Mengkritisi Kapasitas Kepemimpinan

Selain masyarakat umum, CELIOS dan Kabinet Bayangan meminta penilaian dari kalangan ahli mengenai kepemimpinan serta komunikasi publik Presiden Prabowo.

Dari 129 ahli yang memberikan penilaian, sebanyak 71 persen menilai kapasitas kepemimpinan Presiden tidak memadai.

Penilaian terhadap gaya kepemimpinan dan komunikasi publik juga menunjukkan tingkat kekhawatiran yang tinggi. Sebanyak 83 persen ahli menyatakan sangat khawatir, sedangkan 10 persen lainnya mengaku khawatir.

Dengan demikian, total 93 persen responden ahli menyatakan khawatir atau sangat khawatir terhadap gaya kepemimpinan dan komunikasi publik Presiden.

Dalam survei yang sama, responden masyarakat umum juga diminta menilai kondisi fisik dan mental Presiden Prabowo dalam menjalankan tugas kepemimpinan. Sebanyak 38 persen menilai kondisi tersebut kurang baik, sementara 23 persen menilainya tidak baik sama sekali. Adapun responden yang menilai kondisi fisik dan mental Presiden sangat baik tercatat sebesar 8 persen.

Angka-angka tersebut harus dipahami sebagai persepsi responden terhadap kepemimpinan Presiden, bukan sebagai hasil pemeriksaan medis atau penilaian kesehatan yang dilakukan tenaga profesional.

Kriteria Pemimpin untuk Pemilu 2029

Laporan CELIOS turut memuat pandangan responden mengenai karakteristik pemimpin nasional yang diharapkan pada Pemilu 2029.

Di kalangan ahli, sejumlah kriteria yang ditekankan meliputi komitmen terhadap demokrasi, kebebasan sipil dan hak asasi manusia, integritas dalam pemberantasan korupsi, serta kompetensi dalam memahami dan merumuskan kebijakan publik.

Sementara itu, masyarakat umum menempatkan kemampuan pemimpin untuk mendengarkan aspirasi rakyat sebagai salah satu karakteristik yang diharapkan. Komitmen terhadap demokrasi dan pemberantasan korupsi juga menjadi bagian dari pertimbangan responden.

Riset tersebut mencatat sebanyak 38 persen responden menginginkan calon presiden yang bukan berasal dari kader partai politik. Karakteristik lain yang disebut dalam laporan mencakup religiusitas dan usia muda. Sebaliknya, latar belakang pengusaha dan penampilan fisik menarik menjadi kriteria yang relatif sedikit dipilih.

Temuan tersebut menggambarkan preferensi responden terhadap karakter calon pemimpin. Hasilnya tidak menunjukkan bahwa calon dari luar partai politik otomatis akan memperoleh dukungan lebih besar dalam pemilihan mendatang.

Metode Survei Perlu Menjadi Perhatian

Laporan Rapor 2 Tahun Prabowo-Gibran disusun oleh CELIOS bersama Kabinet Bayangan untuk mengevaluasi kinerja pemerintahan, termasuk kebijakan publik, tata kelola, kepemimpinan, dan komunikasi publik. 

Pengumpulan data survei berlangsung pada 15 September hingga 9 Oktober 2026. Penelitian melibatkan kelompok ahli dan masyarakat umum, dengan metode pengambilan sampel yang berbeda.

Untuk kelompok masyarakat umum, penelitian menggunakan pendekatan non-probability sampling melalui Meta Ads. Sementara itu, responden ahli dijangkau menggunakan metode snowball sampling.

Dalam metode non-probability sampling, responden tidak dipilih melalui mekanisme pengambilan sampel acak yang memberikan peluang terukur kepada setiap anggota populasi. Karena itu, hasil survei tidak dapat langsung dianggap mewakili seluruh penduduk Indonesia dengan tingkat kesalahan statistik tertentu seperti pada survei probabilitas.

Terdapat pula perbedaan jumlah responden dalam pemberitaan. Bhima menyebut 1.122 responden ketika memaparkan temuan mengenai stres akibat kebijakan pemerintah. Sementara itu, IDN Times melaporkan jumlah responden masyarakat umum sebanyak 1.142 orang, ditambah 129 responden ahli.

Perbedaan angka tersebut perlu dicocokkan dengan laporan metodologi resmi CELIOS sebelum digunakan sebagai angka tunggal untuk keseluruhan penelitian.

Laporan ini menjadi salah satu evaluasi independen terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran. Temuan mengenai tekanan ekonomi, preferensi politik, dan penilaian kepemimpinan perlu dibaca dengan memperhatikan metode penelitian, karakteristik responden, serta ruang lingkup pertanyaan yang digunakan. ssc/mn



BACA JUGA