Mereka Bukan Sampah Kota: Nasib Pedagang Lansia di Tengah Penertiban Pasar Raya Padang

Minggu, 25/10/2026 16:21 WIB

Laporan Ka’bati--Perempuan Jurnalis

JUMAT pagi (23 Oktober 2026), lima belas menit menjelang pukul 10.00, suasana di Jalan Sandang Pangan, Pasar Raya Padang, terlihat ramai. Tampak, puluhan orang berseragam Pamong Praja tampak sibuk membongkar tumpukan lapak dagangan yang terbuat dari balok kayu. Namun, jumlah orang yang menyaksikan kegiatan tersebut tanpa mengenakan seragam jauh lebih banyak.

Mereka duduk diam mengamati para petugas yang bekerja. Tidak ada sorak-sorai seperti sehari sebelumnya. Tidak terdengar umpatan atau sumpah serapah yang ditujukan kepada pemerintah, seperti yang terlihat dalam video yang viral di media sosial. Mereka diam saja. Ketika ditanya oleh wartawan pun, mereka tidak banyak bersuara.

“Yang penting adil. Satu disuruh pindah, yang lain juga harus pindah,” ujar Emi (57 tahun) dengan suara menggerutu pasrah sambil tangannya terus sibuk mengupas buah. Emi berjualan buah potong. Lapak dagangannya memang berada di trotoar, tetapi agak menjorok ke belakang. Karena itu, lapaknya belum menjadi prioritas untuk dipindahkan pada hari itu.

Tidak jauh dari Letter U, sebuah tempat yang dahulu diperuntukkan bagi pedagang kuliner, Jalinus (75 tahun) duduk dengan pandangan hampa. Di sampingnya tergeletak ketiding kosong.

“Hari ini ndak ambil jualan. Bagaimana, kondisi belum jelas begini. Nanti rugi saja. Kalau pepaya dibeli, ndak bisa ditukarkan. Ndak laku, besok busuk. Rugi kita,” jawabnya ketika ditanya mengapa keranjangnya kosong.

Jalinus adalah pedagang pepaya yang sudah berjualan di tempat itu selama lebih dari dua puluh tahun. Di samping Jalinus, ada Zul (72 tahun), sesama pedagang pepaya yang jauh lebih lama berjualan di lokasi tersebut. “Sudah lebih 30 tahun,” jawabnya singkat.

Berbeda dengan Jalinus yang terlihat cukup tertekan menghadapi kondisi yang dianggapnya belum jelas hari itu, Zul tampak lebih tenang. “Rezeki itu sudah ada yang mengatur,” ujarnya dengan wajah santai, diiringi senyum. Tidak lama kemudian, kedua nenek itu terlihat terlibat perdebatan yang agak sengit.

“Dia enak. Anaknya sudah berhasil. Kalau saya bagaimana? Masih menanggung cucu empat orang. Anak yang berjualan bakso bakar di ujung sana juga tergusur. Kontrak rumah harus dibayar. Entah mengapa, hidup saya ini belum merasakan senang juga sampai setua ini,” ujarnya sambil membuka kerudung dan menunjukkan telinganya yang tidak bertindik.

“Lihat, telinga pun tidak bertindik. Sejak muda sudah susah,” ujarnya lagi.

Telinga yang tidak bertindik bagi perempuan Minangkabau memiliki makna yang dalam. Hal itu dianggap sebagai gambaran kegagalan hidup, yakni ketidakmampuan membeli sepasang anting emas. Emas merupakan salah satu ukuran kesuksesan seorang perempuan Minang, apalagi perempuan dari darek (Batusangkar), seperti dirinya, yang dikenal sangat kuat memperjuangkan keberhasilan dalam bidang materi atau ekonomi.

“Menurut Nenek, kenapa Nek Zul lebih sukses?” tanya saya menyela.

“Dia rajin. Pagi sudah datang, jadi bisa dapat buah lebih murah dan langganannya sudah tetap. Kalau saya, tidak bisa datang pagi-pagi. Banyak yang harus dibereskan di rumah, mencuci, memasak dulu. Datang ke pasar, hari sudah terang,” akunya.

Menurut cerita Zul, ia memang rutin berangkat ke Pasar Raya pada pukul 03.00 dari rumahnya. Ia tinggal di daerah Taruko. Setiap hari, ia bangun pukul 02.00 untuk menyiapkan bekal. Kemudian, pukul 03.00 WIB, ia berangkat menumpang mobil pengangkut tahu yang memang sudah menjadi langganan ibu-ibu pedagang di Jalan Sandang Pangan itu.

Setibanya di pasar, mereka terlebih dahulu melaksanakan salat Subuh di Masjid Muthatohirin, Jalan Rawang, yang dikenal juga dengan nama Masjid Rawang. Setelah salat, mereka mulai bertransaksi dengan para pedagang buah yang datang dari daerah.

“Pepaya biasanya dari Pariaman. Jam tiga sampai jam empat itu sudah ramai,” ujar Zul bercerita.

Zul memiliki tiga orang anak, dua di antaranya sarjana. Semua anaknya sudah mandiri. Zul pun sudah pernah pergi umrah. Mungkin itulah yang membuat Jalinus menganggap Zul lebih sukses, meskipun mereka sama-sama telah berdagang pepaya selama puluhan tahun.

Sementara itu, Jalinus memiliki empat orang anak dan tidak satu pun yang menyandang gelar sarjana. Anak-anaknya bekerja serabutan, menjadi tukang ojek dan berjualan bakso bakar. Namun, ada sedikit kebanggaan yang dirasakannya karena salah seorang cucunya sedang kuliah.

“Tapi, sejak sekolah sampai kuliah, ndak ada yang dapat beasiswa KIP. Itulah yang membuat susah. Tidak pernah terdata. Karena kami, kan, pagi sudah pergi dari rumah. KTP juga ndak sempat mengurusnya. KTP saya masih KTP kampung,” jelasnya.

Mengenai penertiban yang dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan telah berlangsung selama tiga hari, kedua nenek itu sebenarnya tidak mempermasalahkannya.

“Kan memang pasar ini bukan punya kami. Aturlah oleh pemerintah. Kalau ndak diatur, tentu bersibagak saja orang di pasar. Tapi, pikirkan juga nasib kami. Hari ini jelas ndak akan berjualan kami ini. Apalagi, pasar juga sudah lengang. Kami ini sebenarnya kan sudah masuk kategori manula. Mau berusaha saja sudah bagus, tidak memberatkan pemerintah. Kalau tidak, kan, harus ditanggung pemerintah pula kami,” ujar Zul.

Di deretan lapak pedagang soto, di depan kompleks Padang Teater, Amak Er (60 tahun) tampak sibuk mengupas bawang untuk kuah soto. Ia sudah menjalani kehidupan di Pasar Raya sejak muda, mulai dari bekerja di salon hingga sekarang menjadi juragan soto. Amak Er juga terlihat tenang. Penampilannya masih tampak rapi.

“Namanya hidup, ya dijalani saja. Kalau dipindah, ya pindah. Tetapi, tempat pindahnya tolong disiapkan dengan baik. Jangan nanti susah air dan sebagainya. Amak juga sudah lansia ini, mau naik turun tangga sudah susah,” sebutnya.

Sesuai dengan aturan yang ditetapkan pemerintah, lapak-lapak makanan akan dipindahkan ke kawasan Padang Teater, tepatnya di lantai dua, yang dahulu merupakan lokasi salon, lapak buku bekas, dan pasar burung. Di depan kawasan itu sudah dipasang baliho bertuliskan Pasar Kuliner.

Menurut Wali Kota Padang Fadly Amran, proses penataan kota tersebut sudah dimusyawarahkan dan diputuskan sejak jauh hari.

“Ini bukan keputusan mendadak dan semena-mena. Sudah disepakati sejak bulan Mei. Bukan penggusuran konsepnya, tetapi penataan,” ujarnya kepada media.

Pasar memang merupakan wilayah yang rawan menyimpan konflik. Karena itu, diperlukan konsep penataan yang berlapis. Di pasar, khususnya Pasar Raya Padang, terdapat pelapisan sosial dengan beragam kelas dan status warga yang bekerja mencari penghidupan di sana, mulai dari pedagang emas hingga tukang pakang. Ada warga yang berstatus kaya, tetapi ada pula yang bahkan tidak memiliki identitas. Ada kelompok lansia, tetapi ada juga anak-anak terlantar yang tidak jelas siapa ibu atau bapaknya.

Namun, mereka semua adalah warga bangsa yang mempunyai hak untuk hidup dan mencari penghidupan di bumi ini. Mereka adalah manusia yang martabatnya harus dimuliakan, sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945 dan Pancasila yang menghendaki terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tanpa kesadaran terhadap hal itu, konflik bisa memuncak setiap saat. Pasar rakyat merupakan pusat perputaran ekonomi masyarakat yang riil. Hari ini persoalan itu mungkin terjadi di Pasar Raya Padang, tetapi sebentar lagi bisa muncul di pasar lain, di daerah lain di Indonesia. ssc



BACA JUGA