foto kompascom
Batam. sumbarsatu.com--Kota Batam, Kepulauan Riau, dilanda gangguan listrik berskala luas pada Senin, 12 Oktober 2026. Peristiwa yang dikenal sebagai Batam blackout itu memicu keluhan masyarakat dan menjadi perbincangan di media sosial.
Kata “Batam” dan isu pemadaman listrik ramai diperbincangkan, sementara warga menuntut penjelasan mengenai penyebab gangguan serta kesiapan pengelola sistem kelistrikan menghadapi kondisi darurat.
Dampaknya tidak hanya dirasakan pelanggan listrik. Gangguan pasokan energi turut memengaruhi distribusi air bersih dan aktivitas masyarakat. Sejumlah laporan media pada Selasa, 13 Oktober 2026, juga menyoroti antrean pengisian bahan bakar minyak (BBM) ketika warga menghadapi gangguan layanan dan berupaya memenuhi kebutuhan sehari-hari,
Blackout Belasan Jam, Antrean BBM Mengular
Gangguan listrik mulai terjadi pada Senin pagi, 12 Oktober 2026, sekitar pukul 06.37 WIB. PLN Batam menyebut indikasi awal gangguan mengarah pada masuknya hewan liar ke area Gardu Induk Sungai Harapan. Gangguan pada instalasi tersebut diduga berdampak terhadap pasokan listrik di sejumlah wilayah. Namun, penyebab pastinya masih dalam penyelidikan.
Dampak pemadaman meluas ke berbagai layanan. Produksi dan distribusi air bersih terganggu karena instalasi pengolahan air membutuhkan pasokan listrik.
BP Batam melaporkan bahwa hingga Selasa, 13 Oktober 2026 pukul 10.00 WIB, sekitar 80 persen wilayah pelanggan telah kembali menerima aliran air. Sebanyak 319 perjalanan mobil tangki disiapkan untuk membantu warga di wilayah yang masih mengalami gangguan.
Gangguan listrik juga menyulitkan warga mendapatkan BBM. Sejumlah SPBU mengalami kendala pelayanan ketika pasokan listrik terputus. Seorang warga bernama Hafis, misalnya, mengaku tidak dapat mengisi BBM di SPBU Punggur karena pelayanan terganggu. Setelah mencari bahan bakar di sejumlah tempat, ia menemukan antrean kendaraan mengular hingga ke jalan raya di SPBU dekat Bandara Hang Nadim.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa gangguan listrik berskala luas dapat menjalar ke berbagai layanan yang bergantung pada energi. Ketika listrik padam, operasional fasilitas air bersih, pelayanan SPBU, komunikasi, hingga aktivitas ekonomi ikut menghadapi tekanan.
Warganet Desak PLN
Di media sosial, perhatian publik tidak hanya tertuju pada pemadaman, tetapi juga pada penjelasan mengenai penyebab gangguan dan kesiapan sistem kelistrikan. Tuntutan agar PLN Batam dan pemerintah daerah memberikan keterangan yang transparan menjadi bagian dari perbincangan tersebut.
PLN Batam membantah informasi yang beredar di media sosial mengenai pemadaman listrik terencana selama tiga hari, yakni 12–14 Oktober 2026. Perusahaan juga membantah kabar bahwa listrik hanya akan menyala selama enam jam sehari. PLN menegaskan informasi tersebut merupakan hoaks dan meminta masyarakat memeriksa pengumuman melalui kanal resmi.
Di sisi lain, persoalan yang harus dijawab bukan hanya benar atau tidaknya kabar pemadaman tiga hari. Masyarakat juga membutuhkan penjelasan mengenai penyebab gangguan awal, luas wilayah terdampak, tahapan pemulihan, serta langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak berulang.
Wali Kota Batam Amsakar Achmad menyatakan pemerintah kota terus berkoordinasi dengan Direktur Utama PLN Batam, Kwim Fo, beserta jajaran teknis. Pada Selasa, 13 Oktober 2026, Amsakar menyampaikan bahwa pasokan listrik telah pulih 100 persen berdasarkan informasi terbaru yang diterimanya.
Namun, pemulihan tersebut perlu dibaca sesuai waktu dan wilayah pelaporannya. Pada Selasa pagi, sejumlah pelanggan masih terdampak, dan laporan media pada hari yang sama menyebut gangguan kembali terjadi di sejumlah wilayah Batam.
Dampak blackout juga dirasakan di Pulau Bintan, termasuk Tanjungpinang, yang pasokan listriknya berkaitan dengan sistem kelistrikan Batam.