Padang, sumbarsatu.com– tabangkik.id bersama Keluarga Dangau Studio menggelar aksi perdana Tanam Tuai, sebuah gerakan eco-cultural yang menggabungkan kegiatan pelestarian alam, edukasi, seni, dan penguatan budaya lokal. Kegiatan tersebut berlangsung di Lapangan Rimbo Tarok, Minggu (27/9/2026) lalu.
Program Tanam Tuai sebelumnya telah diluncurkan secara resmi pada 25 September 2026. Aksi perdana ini diikuti 25 anak yang didampingi tujuh orang tim Keluarga Dangau Studio dan empat relawan.
Kegiatan dirancang dengan pendekatan bermain sambil belajar. Rangkaian acara meliputi bermain sambil belajar, jamming session, tanam gembira, sharing session, serta art therapy melalui kegiatan mewarnai.
Dalam kegiatan tersebut, peserta menanam sebanyak 100 batang tanaman yang terdiri atas Kunyit dan Serai. Penanaman menjadi bagian utama dari program Tanam Tuai yang mengajak anak-anak dan masyarakat memahami hubungan antara manusia, tanaman, dan lingkungan melalui pengalaman langsung.
Founder tabangkik.id, Ummul Hanifah Putri, mengatakan Tanam Tuai lahir dari keinginan untuk membangkitkan kembali kesadaran masyarakat terhadap hal-hal sederhana yang sering terlupakan, terutama bagaimana manusia menghargai dan mensyukuri alam.
"Kami ingin membangkitkan kembali sesuatu yang mulai dilupakan manusia, yaitu menghargai dan mensyukuri hal yang sederhana. Bukan alam yang butuh kita, tetapi kita yang butuh alam," ujar Ummul Hanifah Putri, Jumat (2/10/2026).
Menurutnya, Tanam Tuai juga membawa pesan bahwa apa yang ditanam manusia akan menentukan apa yang kemudian dituai. Pesan tersebut menjadi salah satu dasar program dalam mengajak masyarakat untuk kembali melihat alam sebagai bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.
"Alam sudah menjaga kita sejak bangun tidur lewat oksigen yang kita hirup. Pertanyaannya, sudahkah kita menjaga alam?" katanya.
Melalui slogan "Nikmati apa yang kita tanam, maka kita akan menikmati apa yang kita tuai", Tanam Tuai mengajak masyarakat belajar kembali mengenai pentingnya menjaga alam sekaligus memahami bahwa upaya pelestarian lingkungan dapat dilakukan melalui kegiatan sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Program ini juga dilatarbelakangi kondisi lingkungan dan kebutuhan untuk memperkuat hubungan anak dengan alam. Laporan Status Deforestasi Indonesia 2025 yang diterbitkan Auriga Nusantara mencatat deforestasi di Sumatera Barat melonjak 1.034 persen, dari 2.606 hektare menjadi 26.940 hektare.
Pada sisi lain, tinjauan sistematis yang diterbitkan dalam Journal of Epidemiology & Community Health menyimpulkan bahwa interaksi dengan alam cenderung memberikan dampak positif terhadap kesehatan mental anak dan remaja, meskipun penelitian yang lebih ketat masih diperlukan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Tanam Tuai memadukan kegiatan penanaman dengan pendidikan, seni, dan penguatan budaya lokal. Program tidak hanya menempatkan kegiatan menanam sebagai aktivitas lingkungan, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran dan pengalaman bagi anak-anak serta masyarakat.
Setelah kegiatan penanaman perdana, tim bersama para relawan akan melanjutkan perawatan tanaman melalui pemupukan dan pemagaran. Perawatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Tanam Tuai agar tanaman yang telah ditanam dapat terus dipelihara.
Selain perawatan tanaman, Tanam Tuai juga akan menjalankan berbagai program lanjutan yang dirancang untuk memperluas keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pelestarian alam dan kebudayaan.
Untuk periode 2026–2028, Tanam Tuai menargetkan penanaman lebih dari 10.000 pohon di Sumatera Barat. Program tersebut juga menargetkan lebih dari 50 titik instalasi pagar seni, melibatkan lebih dari 2.000 pemuda desa, serta mengarsipkan lebih dari 500 aset budaya ke dalam platform digital tabangkik.id.
Tanam Tuai terbuka bagi relawan, komunitas, dan mitra yang ingin berkolaborasi dalam pengembangan program. Keterlibatan tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan kegiatan sekaligus memperkuat gerakan pelestarian alam dan budaya melalui berbagai bentuk aktivitas masyarakat. ssc/rel