Film Urang Bunian Membawa Mitos Minangkabau ke Layar Lebar, Tayang Serentak 17 September

MINGGU, 13 SEPTEMBER 2026 GALA PREMIER DI BASKO CITY MALL

Sabtu, 12/09/2026 11:31 WIB

PADANG, sumbarsatu.com — Legenda tentang Urang Bunian yang hidup dalam cerita masyarakat Sumatera, khususnya Minangkabau, diangkat ke layar lebar melalui film horor Urang Bunian. Film produksi DHF Entertainment (Darihati Films) bersama RH Entertainment itu dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 17 September 2026.

Film garapan sutradara Rendy Herpy tersebut menghadirkan Dimas Aditya, Adinda Thomas, Naura Hakim, Ruth Marini, Fauzan Nasrul, Pinto Janir dan Anton Permana sebagai pemeran. Berdasarkan data resmi Lembaga Sensor Film (LSF), Urang Bunian merupakan film produksi 2026 dengan durasi 88 menit dan diklasifikasikan untuk penonton usia 13 tahun ke atas. Film ini memperoleh Surat Tanda Lulus Sensor (STLS) pada 25 Agustus 2026.

Cerita film berpusat pada Teddy yang diperankan Dimas Aditya, seorang prajurit yang melakukan perjalanan bersama sahabatnya, Kevin, menuju kampung halaman istrinya di pedalaman Sumatera Barat. Perjalanan yang semula ditujukan untuk pulang tersebut berubah menjadi pengalaman mencekam ketika mereka memasuki kawasan hutan pada malam hari.

Sebelum perjalanan dilakukan, Teddy telah mendapat peringatan agar tidak melewati kawasan tersebut setelah hari gelap. Annisa (Adinda Thomas), istri Teddy, dan Datuak Hitam (Anton Permana), paman Annisa sekaligus tokoh adat, mengingatkan adanya larangan yang berkaitan dengan kawasan hutan yang dipercaya sebagai wilayah Urang Bunian. Namun, peringatan tersebut diabaikan. Teddy dan Kevin akhirnya tersesat dan terjebak dalam ruang yang menghadirkan berbagai kejadian misterius.

Selain tampil sebagai salah satu pemeran, Anton Permana juga sebagai konsultan adat dalam proses produksi film ini. Untuk skenario Urang Bunian dikerjakan Rendy Herpy dan Johansyah Jumberan.

Dalam film tersebut, Anton memerankan Datuak Hitam, tokoh adat yang menjadi salah satu pintu masuk bagi penonton untuk memahami larangan dan kepercayaan yang melingkupi kawasan hutan dalam cerita.

Keterlibatan Anton sebagai pemeran (aktor) dan sekaligus kreatormenjadi menarik karena film ini mengambil sumber cerita dari mitologi dan pengetahuan lokal yang berkembang di tengah masyarakat Minangkabau.

‘Bersama Rendy Herpy dan Johansyah Jumberan, kami mengolah kisah Urang Bunian ke dalam struktur film horor modern, dengan tetap menempatkan lanskap alam Sumatera Barat dan latar budaya Minangkabau sebagai bagian penting dari dunia cerita,” kata Anton Permana, Sabtu (12/9/2026).

Sementara itu, Rendy Herpy, sang sutradara, melakukan riset untuk memahami berbagai versi cerita mengenai Urang Bunian sebelum mengembangkan kisah tersebut menjadi karya sinematik film.

“Riset diperlukan karena cerita mengenai Urang Bunian berkembang dalam beragam versi di tengah masyarakat. Sosok ini tidak selalu digambarkan dengan pemaknaan yang sama, baik mengenai bentuk, karakter, maupun hubungan dengan ruang alam yang menjadi tempat berlangsungnya cerita,” jelas Rendy Herpy.

Dalam tradisi cerita masyarakat Minangkabau, Urang Bunian dikenal sebagai sosok dari dunia gaib yang dipercaya mendiami kawasan tertentu, terutama hutan dan tempat-tempat yang dianggap memiliki keterkaitan dengan dunia tak kasatmata.

Cerita tentangnya diwariskan dalam berbagai bentuk tuturan dan kepercayaan masyarakat. Karena itu, ketika kisah tersebut diangkat menjadi film, legenda Urang Bunian tidak hanya menjadi sumber teror, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan narasi lokal kepada penonton yang lebih luas.

Pendekatan tersebut terlihat dari pilihan latar film yang menempatkan hutan dan panorama Sumatera Barat sebagai bagian penting dari cerita. Alam tidak sekadar menjadi latar visual, tetapi menjadi ruang yang mempertemukan tokoh-tokoh manusia dengan dunia misterius yang selama ini hidup dalam cerita masyarakat.

Perpindahan dari ruang kehidupan sehari-hari menuju kawasan hutan kemudian menjadi titik awal perubahan suasana film dari perjalanan biasa menjadi pengalaman penuh ancaman.

Peluncuran film ini sebelumnya telah dilakukan melalui rangkaian promosi dan pemutaran khusus. Trailer resmi Urang Bunian memperlihatkan perjalanan Teddy dan Kevin yang kemudian berubah menjadi teror setelah mereka memasuki kawasan hutan. Film ini juga mulai diperkenalkan kepada publik melalui berbagai kegiatan promosi menjelang jadwal penayangan nasional.

Gala Premiere Urang Bunian digelar pada 10 September 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian promosi sebelum film memasuki penayangan komersial di bioskop Indonesia. Kehadiran para pemain, sutradara, dan tim produksi sekaligus memperkuat promosi film yang menjadikan legenda lokal sebagai sumber utama ceritanya. Dan selanjuitnya acara serupa juga akan digelar di Basko City Mall XXI di Padang pada Minggu malam, 13 September 2026.

Secara teknis, LSF mencatat Urang Bunian sebagai film horor berdurasi 88 menit  mendapat klasifikasi usia 13 tahun ke atas.

Melalui Urang Bunian, legenda yang selama ini hidup dalam cerita dan kepercayaan masyarakat Minangkabau dibawa ke medium sinema dan dipertemukan dengan formula horor kontemporer. Kehadiran film ini sekaligus memperlihatkan bagaimana mitologi lokal dapat menjadi sumber penciptaan karya film yang memiliki jangkauan penonton nasional, tanpa melepaskan latar alam dan konteks budaya yang menjadi akar ceritanya.

Film Urang Bunian dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 17 September 2026. Bagi penonton Sumatera Barat, film ini tidak hanya menawarkan cerita horor tentang dunia gaib, tetapi juga menghadirkan kembali salah satu legenda yang telah lama menjadi bagian dari ingatan budaya masyarakat Minangkabau ke layar lebar. ssc/mn



BACA JUGA