Antusiasme Membuncah, Film Urang Bunian Siap Menghantui Bioskop Indonesia 17 September

SAKSIKAN DI BIOSKOP-BIOKOP KOTA PADANG

Senin, 14/09/2026 23:38 WIB
GALA PREMIERE URANG BUNIAN — Sejumlah tokoh dari pencinta film berbagai kalangan menghadiri gala premiere film Urang Bunian di Bioskop XXI Basko City Mall, Padang, Minggu (13/9/2026). Lebih dari 100 pemuka adat, pejabat, pendidik, seniman, sejarawan, wartawan, tokoh olahraga, hingga generasi milenial, Gen Z dan Gen Alpha antusias menyaksikan pemutaran perdana film yang mengangkat mitos Minangkabau tersebut.

GALA PREMIERE URANG BUNIAN — Sejumlah tokoh dari pencinta film berbagai kalangan menghadiri gala premiere film Urang Bunian di Bioskop XXI Basko City Mall, Padang, Minggu (13/9/2026). Lebih dari 100 pemuka adat, pejabat, pendidik, seniman, sejarawan, wartawan, tokoh olahraga, hingga generasi milenial, Gen Z dan Gen Alpha antusias menyaksikan pemutaran perdana film yang mengangkat mitos Minangkabau tersebut.

 

Padang, sumbarsatu.com — Antusiasme penonton menyaksikan film Urang Bunian terlihat dalam gala premiere di Bioskop XXI Basko City Mall, Padang, Minggu (13/9/2026). Ratusan penonton dan tokoh dari berbagai kalangan hadir menyaksikan film horor yang mengangkat mitos masyarakat Minangkabau tersebut. Film berdurasi 88 menit ini selanjutnya dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 17 September 2026.

Pemuka adat, pejabat, pendidik, seniman, anak muda, sejarawan, wartawan, tokoh olahraga, milenial, generasi Z hingga generasi Alpha tampak memenuhi pemutaran gala premiere.

Seusai menyaksikan film, sejumlah penonton memberikan apresiasi terhadap cara Urang Bunian mengolah mitos yang telah hidup dan berkembang dalam masyarakat Minangkabau menjadi cerita horor modern.

“Asik. Filmnya horor modern. Film ini dikemas dengan apik mengangkat mitos Urang Bunian. Saya penasaran, apa itu Urang Bunian. Selama ini hanya dengar-dengar dari orangtua bahwa ada Urang Bunian di hutan-hutan dan punya dunia kehidupan sendiri,” kata Gilang Gardhiolla (25) seusai menonton.

Menurut Gilang, film tersebut memberikan gambaran yang berbeda tentang sosok Urang Bunian. Tidak seluruh penghuni dunia gaib itu digambarkan sebagai sosok jahat sebagaimana persepsi yang selama ini berkembang. Film justru memperlihatkan adanya sosok yang memiliki karakter baik dan berjiwa penolong.

Ia menilai penggambaran Parewa menjadi salah satu bagian menarik dalam film tersebut. Sosok yang selama ini kerap dipersepsikan ganas, garang dan cenderung jahat justru ditampilkan sebagai sosok yang membantu dan memberikan pertolongan.

Apresiasi serupa disampaikan wartawan senior Hasril Chaniago. Ia menilai Urang Bunian menjadi salah satu film layar lebar yang kembali mengangkat mitos Minangkabau setelah Siti Nurbaya, sekaligus menghadirkan pesona alam Ranah Minangkabau sebagai bagian penting dari visual film.

“Saya sudah lama terus mendorong agar diproduksi film-film yang mengangkat budaya Minang, nah ini muncul Urang Bunian, dan tentu saja sangat patut untuk ditonton. Nanti kita harapkan ada juga diproduksi film yang berlatar belakang sejarah Minang,” kata Hasril Chaniago, yang belakangan aktif dalam penulisan sejarah Minangkabau.

Anton Permana Datuak Hitam pemeran Datuak Hitam dikerubuti penggemar usai gala premiere film Urang Bunian

Gala premiere tersebut juga dihadiri Wakil Bupati Solok Candra, SHI. Ia menilai Urang Bunian layak ditonton berbagai kelompok usia, termasuk generasi muda. Menurutnya, kisah Urang Bunian berhasil dikemas dalam genre horor tanpa meninggalkan nilai kesetiaan, adat, budaya, nasihat agama, serta unsur percintaan.

“Anak-anak muda, milenial, Gen Z, Gen Alpha, wajib nonton film Urang Bunian ini, supaya tahu apa itu Urang Bunian yang telah jadi mitos selama berpuluh atau beratus tahun ini. Dan saya senang film ini sarat dengan nilai adat, budaya dan agama,” kata Candra.

Kehadiran sejumlah tokoh dari berbagai bidang membuat gala premiere tersebut tidak hanya menjadi pemutaran film, tetapi juga menjadi ruang pertemuan berbagai kalangan yang memiliki perhatian terhadap kebudayaan Minangkabau. Mereka antara lain pengusaha dan pemuka adat Ir. Almaysar, MM Datuak Bangso Dirajo Nan Kuniang, pembaca puisi Asia Tenggara Syarifuddin Arifin, aktivis cagar budaya Aprimas, Ketua SMSI Sumbar Zulnadi, Ketua KONI Sumbar Hamdanus, pengusaha muda Zico Basko, Sekretaris DHD45 Sumbar Eko Yance Edrie, Advokat Mevrizal, SH., MH., pengusaha Herman Ujang, wartawan senior Gusfen Khairul, pegiat wisata Bundo Wati, serta pegiat peduli jejak sejarah Marsaleh Adaz, dan Yusra Maiza dari Komunitas Intro Payakumbuh, serta lainnya.

Kritikus seni pertunjuka Nasrul Azwar alias Mak Naih juga mengaku terkesan setelah menyaksikan film tersebut. Menurutnya, Urang Bunian berhasil membawa mitos yang selama ini hidup di tengah masyarakat Minangkabau ke dalam medium film layar lebar.

"Kehadiran film itu sekaligus menjawab kerinduan publik terhadap karya audiovisual yang mengangkat kisah-kisah yang tumbuh dari kehidupan masyarakat sendiri," katanya.

Pemutaran gala premiere juga dihadiri langsung sutradara Rendy Herpy dan produser Johansyah Jumberan. Sejumlah pemeran utama turut hadir, antara lain Anton Permana sebagai Datuak Hitam, Fauzan Nasrul sebagai Kevin, Pinto Janir sebagai Parewa, serta konten kreator Uda Rio sebagai Ajo.

Anton Permana, SH., S.IP., Datuak Hitam, yang memerankan tokoh Datuak Hitam, tidak hanya berperan sebagai pemain. Ia juga terlibat sebagai kreator dan konsultan adat dalam penggarapan film tersebut. Peran itu membuat unsur adat, budaya Minangkabau dan pesan-pesan agama menjadi bagian yang kuat dalam cerita, meskipun dikemas menggunakan pendekatan film horor modern.

“Bersama Rendy Herpy dan Johansyah Jumberan, kami mengangkat kisah Urang Bunian ke dalam struktur film horor modern, dengan tetap menempatkan lanskap alam Sumatera Barat dan latar budaya Minang sebagai bagian penting dari dunia cerita,” kata Anton Permana.

Film Urang Bunian bertolak dari tradisi cerita masyarakat Minangkabau tentang sosok dari dunia gaib yang dipercaya mendiami kawasan tertentu, terutama hutan dan tempat-tempat yang dianggap memiliki keterkaitan dengan dunia tak kasatmata.

Cerita mengenai Urang Bunian telah melekat dalam ingatan masyarakat selama puluhan, bahkan ratusan tahun, dan diwariskan melalui berbagai bentuk cerita dari generasi ke generasi.

Kehadiran film ini membawa cerita tersebut ke dalam konteks kekinian. Mitos Urang Bunian tidak semata-mata ditempatkan sebagai sumber ketakutan, tetapi dikembangkan menjadi cerita yang memadukan horor, percintaan, perjuangan, kesetiaan, adat, budaya, agama dan pesan-pesan moral.

Pendekatan tersebut membuat Urang Bunian tidak hanya menawarkan ketegangan melalui cerita horor, tetapi juga menghadirkan lanskap alam Sumatera Barat serta berbagai unsur kebudayaan Minangkabau sebagai bagian dari dunia cerita.

Setelah mendapat sambutan dalam gala premiere di Padang, film Urang Bunian akan memasuki tahap penayangan untuk publik. Film ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 17 September 2026.

Khusus di Sumatera Barat, film Urang Bunian dijadwalkan hadir di tiga bioskop di Kota Padang, yakni XXI Basko City Mall, XXI Transmart dan CGV Raya Padang. Penonton di Sumatera Barat dan berbagai daerah lainnya kini dapat menyaksikan bagaimana mitos yang selama ini hanya hidup dalam cerita masyarakat Minangkabau diterjemahkan ke dalam layar lebar melalui pendekatan horor modern.ssc/mn



BACA JUGA