Penguatan Kapasitas Seniman Lokal Melalui Inovasi Penciptaan Seni Kreasi "Tari Piriang" dan "Ilau" Kabupaten Solok

LAPORAN PENGABDIAN MASYARAKAT DOSEN ISI PADANGPANJANG

Kamis, 20/08/2026 12:18 WIB
Pertunjukan Hasil Pengabdian Tari Piriang dan Ilau di Koto Sani

Pertunjukan Hasil Pengabdian Tari Piriang dan Ilau di Koto Sani

OLEH TIM PENULIS (Susas Rita Loravianti, Afrizal H., M. Halim, Emri, dan Hendra Nasution)

KEBERADAAN seni tradisional di wilayah Minangkabau, khususnya di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, saat ini berada pada titik nadir yang mengkhawatirkan di tengah arus globalisasi dan modernitas yang hegemonik.

Kesenian rakyat seperti Tari Piriang dan Ilau bukan sekadar bentuk estetika visual atau hiburan semata, melainkan merupakan manifestasi ontologis dari sejarah, sistem nilai, dan identitas sosial masyarakat nagari yang telah mengakar selama berabad-abad.

Tari Piriang di Koto Sani memiliki keterkaitan dengan tradisi tari piring Minangkabau yang menggunakan piring sebagai properti utama. Gerak tari menonjolkan kelincahan tangan, koordinasi tubuh, ketepatan ritme, dan permainan piring sebagai bagian dari estetika pertunjukan.

Sementara itu, Ilau merupakan bentuk kesenian tradisional yang hidup dalam masyarakat Minangkabau dan memiliki dimensi sosial yang kuat. Ilau dapat hadir sebagai bagian dari kegiatan masyarakat dan peristiwa budaya tertentu, dengan unsur gerak, musik, nyanyian, dan interaksi antar-pelaku.

Keberadaan Tari Piriang dan Ilau di Koto Sani, Kabupaten Solok, menunjukkan bahwa posisi kesenian tradisional Minangkabau berada dalam arah yang dilematis antara bertahan, berubah-berkembang, atau malah baransur hilang ditelan zaman. Tiga hal ini tentu saja menjadi tantangan dalam menyikapi eksistensi Tari Piriang dan Ilau di Koto Sani, Kabupaten Solok.

Penguatan kapasitas seniman lokal ini berakar pada kebutuhan mendesak untuk melakukan reposisi terhadap seni tradisi agar tidak hanya menjadi artefak masa lalu yang statis, tetapi tetap relevan sebagai instrumen dinamis dalam pembangunan masyarakat kontemporer.

Kabupaten Solok, yang dikenal sebagai salah satu lumbung kebudayaan di Sumatera Barat, memiliki kekayaan varian Tari Piriang dan Tari Ilau yang sangat spesifik, namun sering kali mengalami penyusutan makna dan kualitas pertunjukan akibat kurangnya inovasi kreatif serta lemahnya sistem pewarisan kepada generasi muda.

Kondisi ini diperparah oleh penetrasi budaya populer yang cenderung mendistorsi autentisitas nilai-nilai lokal, sehingga menciptakan diskoneksi emosional antara generasi muda dengan akar budayanya sendiri. Tanpa adanya intervensi yang sistematis, kekayaan koreografis dan kedalaman filosofis dalam Tari Piriang serta Ilau berisiko tereduksi menjadi sekadar komoditas pariwisata yang dangkal atau bahkan hilang sepenuhnya dari memori kolektif masyarakat.

Tari Piriang dan Ilau: Strategi Menjaga Spirit Tradisi di Ranah Kreativitas

Bentuk penguatan kapasitas seniman bukan sekadar tentang pelatihan teknis gerak, melainkan sebuah upaya strategis untuk menghidupkan kembali ekosistem kebudayaan yang memungkinkan seniman lokal berperan sebagai agen perubahan. Melalui revitalisasi metode pewarisan dan adaptasi kreatif yang tetap berpijak pada pakem tradisi, kesenian ini diharapkan mampu bertransformasi menjadi modal sosial yang kuat guna memperkokoh ketahanan budaya Kabupaten Solok di tengah dinamika zaman yang kian kompleks.

Pertunjukan Hasil Pengabdian Tari Piriang dan Ilau di Koto Sani. FOTO DOK

Intervensi pengabdian kepada masyarakat di bidang seni ini, dalam konteks pelatihan seni tradisi berbasis Tari Piriang dan Ilau, dipahami sebagai upaya merawat potensi kesenian tradisi Minangkabau, menciptakan regenerasi, serta memosisikan kesenian tradisi yang terhubung dengan kebutuhan generasi saat ini melalui koneksi intensif antara pelaku seni tradisional dan metodologi penciptaan seni yang sistematis.

Seniman di tingkat nagari, seperti yang tergabung dalam Sanggar Cinangkiak Saiyo, umumnya mewarisi keahlian secara otodidak tanpa adanya pemahaman mendalam mengenai teknik eksplorasi gerak atau komposisi koreografi, lalu mampu beradaptasi dengan tuntutan panggung modern.

Uraian di atas pada dasarnya memberikan pemahaman secara komprehensif kepada generasi milenial dan Gen Z di Nagari Sumani, Koto Sani yang mulai kehilangan minat terhadap kesenian lokal karena dianggap kurang memiliki nilai kompetitif dibandingkan dengan tren budaya populer global yang lebih diakses secara digital.

Isu ini memiliki relevansi yang sangat kuat dengan konteks sosial-ekonomi wilayah tersebut, di mana sektor pariwisata yang sedang dikembangkan, seperti konsep Green-Geopark di Danau Singkarak, sangat membutuhkan atraksi seni budaya berkualitas tinggi sebagai daya tarik utama guna menggerakkan roda ekonomi kreatif lokal.

Ketimpangan antara potensi objek wisata alam yang megah dan kualitas sajian seni yang masih bersifat repetitif menciptakan celah besar dalam ekosistem pariwisata Kabupaten Solok. Apabila para seniman lokal tidak segera dibekali dengan kemampuan manajemen produksi dan kurasi artistik yang mumpuni, maka kesenian tradisional hanya akan dipandang sebagai pelengkap seremonial yang marjinal, alih-alih menjadi produk budaya unggulan yang bernilai ekonomi tinggi.

Transformasi dari sekadar "penjaga tradisi" menjadi "kreator seni yang profesional" menjadi kunci utama agar Tari Piriang dan Ilau mampu berbicara banyak di panggung global. Melalui integrasi antara kearifan lokal (local wisdom) dan teknik pengemasan seni pertunjukan yang kontemporer, program ini diharapkan dapat menciptakan standar estetika baru yang mampu memikat audiens lintas generasi sekaligus memperkuat posisi Nagari Sumani, Koto Sani sebagai pusat keunggulan budaya di kawasan Singkarak.

Dalam konteks lokal dan nasional, permasalahan stagnasi seni tradisi mencerminkan kondisi masyarakat luas di mana identitas kolektif mulai terkikis oleh standardisasi budaya. Sumani, Koto Sani memiliki aset intelektual berupa Tari Ilau, sebuah kesenian vokal dan gerak yang sarat akan makna simbolis tentang kesedihan, rasa syukur, dan penghormatan terhadap leluhur.

Secara nasional, pemajuan kebudayaan telah diamanatkan melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 yang menekankan pentingnya perlindungan dan pengembangan objek pemajuan kebudayaan untuk memperkuat jati diri bangsa.

Program ini memiliki signifikansi yang krusial dalam mendukung agenda nasional tersebut dengan cara mentransformasikan kapasitas seniman dari sekadar "penari rutin" menjadi "pencipta seni" yang mampu melakukan revitalisasi berbasis lokalitas.

Dengan memperkuat kapasitas ini, seni tradisi dapat kembali berfungsi sebagai media pemberdayaan masyarakat, mempererat kohesi sosial, dan meningkatkan martabat budaya lokal di kancah nasional maupun internasional.

Keberhasilan transformasi ini pada akhirnya akan menciptakan sebuah model pelestarian mandiri yang tidak lagi bergantung sepenuhnya pada bantuan pemerintah, melainkan didorong oleh kesadaran internal komunitas.

Pengabdian Berdampak: Wujud Program Inovasi Seni Nusantara

Pengabdian dalam bentuk Penciptaan Seni Kreasi Berbasis Tari Piriang dan Ilau Koto Sani Kabupaten Solok menempatkan seniman sebagai subjek kreatif yang adaptif. Tari Ilau dan varian Tari Piriang di Kabupaten Solok akan berhenti menjadi sekadar warisan yang "dijaga agar tidak hilang," melainkan tumbuh menjadi entitas budaya yang "hidup dan menghidupi."

Sinergi antara penguatan kapasitas intelektual seniman dan pemanfaatan ruang publik serta teknologi digital akan membentuk ekosistem kebudayaan yang tangguh. Pada titik inilah, seni tradisi di Nagari Sumani, Koto Sani tidak hanya akan berdiri sebagai penjaga memori masa lalu, tetapi juga sebagai pilar strategis dalam menyongsong masa depan pembangunan karakter bangsa yang berbasis pada keunikan lokalitas dan keunggulan kompetitif.

 

Tim bersama pelaku seni Ttadisi Tari Piriang dan Ilau. FOTO DOK

Keterkaitan program ini dengan potensi dan kebutuhan mitra sangatlah erat dan bersifat simbiotik. Sanggar Cinangkiak Saiyo, sebagai entitas pelaku seni, membutuhkan metodologi baru dalam menciptakan karya agar tidak terjebak dalam repetisi gerakan yang monoton. Sementara itu, Pemerintah Nagari Sumani, Koto Sani membutuhkan dukungan dalam menghidupkan ekosistem kreatif di wilayahnya, terutama melalui pemanfaatan fasilitas Nagari Creative Hub (NCH) dan Medan nan Bapaneh yang telah disediakan namun belum optimal dalam pengisian konten artistiknya.

Program ini bertujuan untuk merumuskan dan mengimplementasikan model pelatihan penciptaan seni kreasi yang mampu mengintegrasikan motif tradisi Tari Piriang dan Ilau ke dalam bentuk pertunjukan inovatif yang profesional, sekaligus memperkuat tata kelola manajerial sanggar mitra demi menjamin keberlanjutan ekosistem seni lokal di Kabupaten Solok.

Melalui integrasi strategis ini, program pengabdian tidak hanya berhenti pada tataran transfer pengetahuan teknis, tetapi juga menyasar pada aktivasi ruang-ruang publik sebagai pusat gravitasi budaya baru. Optimalisasi Nagari Creative Hub dan Medan nan Bapaneh akan diarahkan untuk menjadi laboratorium kreatif tempat para seniman muda melakukan eksperimen artistik yang mempertemukan pakem tradisi dengan estetika modern.

Dengan demikian, sinkronisasi antara kebutuhan mitra dan solusi yang ditawarkan akan melahirkan sebuah luaran (output) yang konkret, yakni lahirnya pertunjukan ikonik yang memiliki identitas kuat namun tetap fleksibel untuk dipentaskan di berbagai skala ajang festival.

Keberlanjutan program ini pun dijamin melalui penguatan manajerial yang memungkinkan Sanggar Cinangkiak Saiyo mengelola aset intelektualnya secara mandiri, sehingga kolaborasi ini menjadi katalisator bagi kebangkitan ekonomi kreatif yang berbasis pada kebanggaan akan identitas lokal Nagari Sumani, Koto Sani.*

 

Tim penulis merupakan dosen Institut Seni Indonesia Padangpanjang

 



BACA JUGA