Kamis, 20/08/2026 10:57 WIB

Kebutuhan Logistik Pengungsi Gempa NTT Mendesak, 5 Pesawat TNI AU Dikerahkan

Suasan tenda pengungsian yang dibangun warga secara swadaya di wilayah Kampung Carep, Kabupaten Manggarai, Rabu (19/8/2026)(KOMPAS.com/Tria Sutrisna)

Suasan tenda pengungsian yang dibangun warga secara swadaya di wilayah Kampung Carep, Kabupaten Manggarai, Rabu (19/8/2026)(KOMPAS.com/Tria Sutrisna)

 

Jakarta, sumbarsatu.com — Penanganan dampak gempa bumi Nusa Tenggara Timur terus diakselerasi di tengah laporan mengenai posko pengungsian yang belum tersentuh bantuan.
 
Pemerintah pusat bergerak cepat mengirimkan puluhan ton logistik, sementara di Jakarta, DPR RI menyoroti persoalan keselamatan pelayaran serta aktivitas tiga gunung api aktif yang meletus beruntun.

Hingga Rabu (19/8/2026), para korban gempa di Posko Binaan Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, dilaporkan belum menerima bantuan dari pihak luar.
 
Stok bahan pokok milik warga yang mengungsi telah habis. Bencana gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus lalu itu mencatatkan 70 korban jiwa dan memaksa sekitar 30.000 warga mengungsi.

Merespons kondisi darurat tersebut, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya memberangkatkan lima pesawat TNI AU dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Rabu pukul 04.00 WIB. Armada udara tersebut mengangkut 65 ton bantuan logistik berupa bahan makanan, tenda, dan obat-obatan hasil koordinasi BNPB serta Kementerian Sosial guna mempercepat distribusi ke titik-titik terisolasi.

Di lokasi terpisah, Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Marsekal Madya TNI Muhammad Syafii memaparkan evaluasi keselamatan laut dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Jakarta.
 
Basarnas mencatat, sepanjang Januari hingga 15 Agustus 2026 telah dilaksanakan 601 operasi SAR kecelakaan kapal, atau rata-rata 2,5 kali operasi penyelamatan setiap hari.
 
Dari total 3.607 korban terdampak kecelakaan laut, sebanyak 3.165 orang berhasil diselamatkan, 239 orang meninggal dunia, dan 203 orang dinyatakan hilang.

Syafii mengungkapkan bahwa kelebihan muatan serta praktik penumpang tak terdaftar menjadi kendala utama pencarian karena jumlah korban di kapal sering kali jauh lebih banyak daripada daftar manifes resmi.
 
Menanggapi temuan tersebut, Ketua Komisi V DPR RI Lasarus mendesak Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi untuk mengevaluasi dan menertibkan kinerja Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan agar pembiaran terhadap ketidaksesuaian manifes kapal tidak terus berulang.

Sementara itu, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melaporkan aktivitas vulkanik dari tiga gunung api aktif yang meletus secara beruntun pada Selasa malam kemarin.
 
Gunung Semeru di Jawa Timur meletus pada pukul 20.33 WIB dengan semburan abu setinggi ratusan meter, disusul Gunung Ibu di Maluku Utara pada pukul 20.36 WIT dengan kolom abu setinggi 700 meter, dan Gunung Lewotobi Laki-Laki di Nusa Tenggara Timur pada pukul 21.09 WITA dengan lontaran abu setinggi 300 meter.
 
PVMBG mengonfirmasi tidak ada korban jiwa dalam rangkaian erupsi tersebut, namun masyarakat diminta tetap waspada dan mematuhi batas radius aman.ssc/mn

BACA JUGA