Tari Diam Adalah Siksa #3 karya Alsafitro dari Komunitas Cinangkiak Saiyo, Sumani, Kabuapten Solok
OLEH Joni Andra—Koreografer
PERTUNJUKAN dibuka dengan lighting show yang membuat Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang, terasa bergetar oleh kehadiran sebuah karya tari kontemporer. Suara pembawa acara menjadi penanda dimulainya pertunjukan Festival Nan Jombang Tanggal 3, Minggu, 3 Mei 2026, malam.
Panggung kemudian gelap. Dalam temaram cahaya, muncul seorang penari mengenakan celana pendek ketat dan kaos, meniup balon. Ia bergerak meliuk, sesekali menghentak, hingga balon yang ditiupnya pecah. Panggung kembali gelap. Sejenak, pertunjukan terasa seperti telah selesai—namun jeda gelap yang cukup panjang justru memberi kesan penonton sedang dibawa memasuki episode berikutnya.
Empat penari kemudian hadir dengan kostum serupa. Di leher mereka terikat balon berisi gas helium yang melayang di atas kepala—sebuah elemen visual yang menarik, mengingat helium lebih ringan dari udara. Gerak para penari cenderung menghentak, dengan pola lantai simetris, membangun relasi konflik antartubuh.
Kehadiran kantong plastik bening—yang menurut koreografer menjadi simbol kekangan untuk mengekspresikan rasa—menambah lapisan visual. Para penari saling memanjat tubuh satu sama lain, seolah bertarung dalam tekanan yang tak terlihat. Pertunjukan diakhiri dengan tepuk tangan berulang, ritmis namun terputus, hingga satu per satu penari jatuh, menyisakan satu tubuh yang tetap berdiri dan terus bertepuk. Sebuah penutup yang menyisakan tafsir.
Dalam konteks perkembangan tari kontemporer hari ini yang semakin pesat—dengan kecenderungan mengangkat isu sosial dan berbasis riset—koreografi Diam Adalah Siksa #3 karya Alsafitro dari Komunitas Cinangkiak Saiyo, Sumani, Kabupaten Solok, hadir dengan judul yang kuat dan dramatik. Karya ini berangkat dari filosofi rabab Minangkabau: “bialah rabab nan manyampaian”—biarlah rabab yang menyampaikan apa yang tak mampu diucapkan.
Koreografer berupaya menerjemahkan pengalaman batin tersebut ke dalam tubuh. Jika rabab menjadi medium suara dalam tradisi, maka tubuh dihadirkan sebagai “rabab baru” yang menyuarakan kegelisahan melalui gestur, tekanan, dan intensitas gerak yang tidak selalu mengalir.
Diam Adalah Siksa #3 Seperti Gas Helium
Namun, pada tataran garapan, karya ini justru terasa ringan—seperti sifat helium itu sendiri. Gagasan yang diangkat tidak sepenuhnya terterjemahkan dalam bentuk tubuh. Elemen gerak sebagai kekuatan utama tari justru tidak menjadi pusat artikulasi. Filosofi rabab kehilangan daya, tenggelam dalam dominasi properti seperti balon dan plastik.
Padahal, rabab sebagai simbol tidak harus hadir secara literal. Tubuh penari seharusnya mampu menjadi representasi bunyi—melengking, mendayu, dan naratif sebagaimana karakter rabab dalam tradisi kaba.

Koreografi Diam Adalah Siksa #3 karya Alsafitro dari Komunitas Cinangkiak Saiyo, Sumani, Kabupaten Solok, Sumater Barat.
Koreografer memang menghadirkan tubuh sebagai ruang ekspresi diam. Namun, pendekatan ini terasa menjadi kecenderungan umum koreografer muda—menggunakan tubuh sebagai “bahasa” tanpa kedalaman penerjemahan hasil riset ke dalam teknik kepenarian.
Secara teknis, kualitas tubuh penari juga belum sepenuhnya matang. Beberapa kehilangan keseimbangan tampak sebagai kecelakaan yang tidak terolah menjadi bagian dari dramaturgi. Minimnya improvisasi membuat momen tersebut terlihat mentah, bukan sebagai kemungkinan artistik.
Riset dalam Diam?
Kelemahan paling mendasar tampaknya terletak pada riset. Riset yang menjadi fondasi karya tidak berhasil diartikulasikan ke dalam bentuk pertunjukan. Alih-alih menghadirkan “diam”, karya ini justru didominasi energi menghentak yang cenderung mengarah pada ekspresi amarah.
Padahal, jika riset rabab digali lebih dalam, tubuh dapat menghadirkan kualitas bunyi—melengking, lirih, dan mendayu—yang menyampaikan rasa tanpa kata. Di sinilah tubuh seharusnya menjadi medium yang benar-benar “berbunyi”.
Selain itu, pemanfaatan properti juga terasa belum tuntas. Balon helium yang melayang justru membuat penari tampak gagap dalam merespons ruang. Plastik bening yang digunakan menciptakan efek licin, bahkan memicu jatuhnya penari tanpa kontrol artistik yang memadai.
Kostum pun belum sepenuhnya mendukung gagasan. Ada kecenderungan repetisi gaya—celana pendek ketat dan kaos—yang berisiko membentuk stereotip visual tari kontemporer. Padahal, kostum seharusnya menjadi bagian integral dari dramaturgi, bukan sekadar pilihan estetika umum.
Musik dalam karya ini juga terasa berjalan sendiri. Ia tidak berinteraksi dengan tubuh, melainkan hadir sebagai tempelan. Bahkan, musik internal berupa tepuk tangan di akhir pertunjukan tidak terolah secara komposisional, sehingga kehilangan daya pukau.
Meski demikian, upaya Alsafitro tetap patut diapresiasi. Sebagai koreografer muda asal Sumani, X Koto Singkarak, alumnus ISI Padang Panjang, ia menunjukkan keberanian mengolah tradisi menjadi pijakan karya kontemporer.
Karya-karya sebelumnya seperti Hampa di Ujung Rasa dan Jejak Kaba menunjukkan jalur penciptaan yang konsisten. Karena itu, “Diam Adalah Siksa #3” seharusnya masih memiliki ruang untuk dikembangkan.
Karya ini penting untuk dibawa kembali ke studio—diproses ulang, diperdalam, dan dimatangkan. Sebab, di balik kelemahannya, terdapat potensi gagasan yang kuat: tentang diam sebagai siksaan batin, tentang tubuh sebagai suara, dan tentang tradisi sebagai sumber tafsir kontemporer.
Pada akhirnya, karya ini belum selesai. Ia masih berada dalam proses menjadi. Masukan dan apresiasi, serta respons yang mengemuka selama “Bincang Karya” setelah pertunjukan, tentu menjadi “gizi” memperkaya dan mematangkan Diam Adalah Siksa #3.*