Pementasan Tari "Makan Diri": Hasrat yang Tak Pernah Usai

Sabtu, 04/07/2026 22:17 WIB
Koreografi Makan Diri dari Komunitas Ngobrak Padang Panjang yang diciptakan Dendi Wardiman-foto  buyamin

Koreografi Makan Diri dari Komunitas Ngobrak Padang Panjang yang diciptakan Dendi Wardiman-foto buyamin

OLEH Christi Yolanda--Penikmat Seni

FESTIVAL Nan Jombang Tanggal 3 yang digelar pada Jumat 3 Juli 2026 di Ladang Tari Nan Jombang menghadirkan lanskap pertunjukan yang padat gagasan dan berlapis dalam pengalaman menonton. Malam itu tidak sekadar menyuguhkan sejumlah karya, melainkan menghadirkan rangkaian peristiwa yang membangun atmosfer secara bertahap.

Pertunjukan dibuka dengan Jujuik Nyawo 2.0, sebuah fragmen yang mengangkat kisah tentang nyawa yang terenggut dalam ritus gasiang tangkurak.

Suasana kemudian bergeser melalui pemutaran video singkat yang menampilkan kilas balik perjalanan hidup maestro tari Ery Mefri dalam rangka memperingati hari lahirnya. Setelah itu, penonton diajak memasuki karya koreografi Makan Diri dari Komunitas Ngobrak Padang Panjang.

Makan Diri diciptakan Dendi Wardiman dengan komposisi musik dari Avant Garde Dewa Gugat, Makan Diri berangkat dari pengalaman merantau yang dialami secara personal sebagai bagian dari praktik sosial masyarakat Minangkabau. Namun, yang diolah dalam karya ini bukan semata-mata perpindahan geografis, melainkan benturan antara hasrat dan logika.

Ada dorongan untuk meninggalkan sesuatu yang telah dimiliki demi mengejar sesuatu yang dibayangkan lebih baik. Dalam proses tersebut, logika tidak lagi menjadi penuntun utama.

Ia justru tersisih oleh hasrat yang terus mendesak ke depan. Pencapaian tidak pernah benar-benar menjadi akhir, melainkan pemicu lahirnya keinginan berikutnya. Sebuah siklus yang terus berulang tanpa jeda.

Empat penari tampil mengenakan busana kasual yang merujuk pada tubuh-tubuh muda masa kini, yang hidup dalam tekanan untuk terus bergerak, berkembang, dan mencapai sesuatu yang baru. Pilihan artistik ini memperkecil jarak antara panggung dan realitas.

Tubuh tidak lagi hadir sebagai simbol yang jauh dari keseharian, melainkan sebagai representasi kondisi yang akrab dengan ambisi, dorongan untuk berhasil, sekaligus kelelahan yang menyertainya.

Struktur koreografi dibangun di atas konflik batin yang sengaja dibiarkan terbuka. Terdapat tarik-menarik antara mengikuti alur yang rasional dan tunduk pada dorongan hasrat yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan. Dari ketegangan tersebut, tubuh bergerak dalam pola repetitif yang semakin intens. Ia ditarik, didorong, dan terus diulang.

Gerak perlahan kehilangan otonominya sebagai bentuk ekspresi yang bebas, kemudian berubah menjadi respons atas tekanan yang berlangsung terus-menerus. Dalam konteks ini, tubuh tidak lagi menjadi subjek yang mengendalikan, melainkan alat yang digerakkan oleh dorongan hasrat itu sendiri.

Pada posisi tersebut, hasrat tampil sebagai sesuatu yang ambigu. Di satu sisi, ia menjadi energi yang menggerakkan manusia untuk terus melampaui dirinya. Di sisi lain, hasrat justru menjadi kekuatan yang perlahan mengikis tubuh dan kesadaran. Dorongan untuk terus mencapai sesuatu berjalan beriringan dengan akumulasi kelelahan, baik secara fisik maupun psikis.

Pembacaan semacam ini terasa relevan dengan situasi kontemporer, ketika produktivitas dan pencapaian kerap dijadikan tolok ukur utama keberadaan seseorang, bahkan pada saat logika tidak lagi mampu mengendalikan lajunya.

Meskipun memiliki fondasi konseptual yang kuat, pengolahan komposisi pertunjukan masih menyisakan ruang untuk diperdalam. Strategi repetisi yang digunakan guna menegaskan siklus hasrat belum sepenuhnya diimbangi dengan variasi dinamika maupun eskalasi dramatik yang lebih tajam.

Beberapa bagian bergerak dalam intensitas yang relatif datar sehingga potensi dramatiknya belum sepenuhnya termaksimalkan. Demikian pula, metafora tubuh sebagai alat masih dapat didorong lebih jauh melalui eksplorasi ruang, tempo, serta relasi antartubuh penari sehingga lapisan makna yang dibangun menjadi lebih kompleks.

Makan Diri tidak menawarkan sebuah resolusi. Karya ini berhenti pada kondisi yang terus bergerak: manusia yang terus mengejar tanpa pernah benar-benar mencapai titik akhir, ketika hasrat melampaui logika dan terus memproduksi arah-arah baru.

Ketegangan itu dipertahankan hingga akhir pertunjukan dan dibiarkan menggantung tanpa penegasan. Di situlah karya ini bekerja, bukan sebagai jawaban atas persoalan, melainkan sebagai mekanisme yang terus mengajukan pertanyaan kepada penontonnya: sampai kapan manusia akan terus dikendalikan oleh hasratnya sendiri?*



BACA JUGA