OLEH Dr. Lismomon Nata, S.Pd., M.Si (Direktorat Bina Ketahanan Remaja, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN)
"Tak ada percakapan yang lebih mahal daripada percakapan seorang anak lelaki dengan ayahnya; sebab keduanya sama-sama mencintai, tetapi sama-sama canggung untuk mengungkapkannya." - Iwan Fals
HARI pertama sekolah selalu menjadi momen yang istimewa dalam perjalanan kehidupan seorang anak. Di balik seragam yang masih baru, tas yang masih rapi, serta wajah yang memancarkan semangat sekaligus kecemasan, terdapat satu kebutuhan mendasar yang sering kali tidak terlihat, yaitu kehadiran orang tua.
Kehadiran tersebut bukan hanya sebatas mengantar anak menuju gerbang sekolah,tetapi juga bagaimana menghadirkan rasa aman, keyakinan, dan dukungan emosional yang akan menjadi bekal anak dalam memasuki lingkungan belajar yang baru atau melanjutkan pendidikan anaknya pada jenjang berikutnya.
Berangkat dari kesadaran tersebut, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN (Kemendukbangga/BKKBN) kembali melaksanakan Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS). Program ini diinisiasi sebagai bagian dari implementasi Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) yang bertujuan memperkuat keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak dan pendampingan keluarga dalam upaya pembangunan keluarga Indonesia.
Gerakan ini diharapkan tidak hanya sebagai kegiatan seremonial yang dilakukan pada awal tahun ajaran. Lebih dari itu, GAMAS merupakan simbol perubahan paradigma pengasuhan di Indonesia. Pengasuhan bukan lagi dipandang sebagai tanggung jawab ibu saja, melainkan menjadi tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu dalam membentuk generasi yang sehat, tangguh, dan berkarakter.
Selama ini, konstruksi sosial di masyarakat masih menempatkan ayah sebagai pencari nafkah utama yang lebih banyak beraktivitas di ranah publik. Waktu ayah bersama anak sering kali tersita oleh tuntutan pekerjaan, perjalanan, maupun aktivitas profesional lainnya. Akibatnya, tidak sedikit anak yang tumbuh dengan intensitas interaksi yang jauh lebih besar bersama ibu dibandingkan ayahnya.
Padahal, berbagai penelitian dalam bidang psikologi perkembangan dan ilmu keluarga menunjukkan bahwa keterlibatan ayah memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan anak. Kehadiran ayah berkontribusi terhadap perkembangan kognitif dan pembentukan karakter, pengendalian emosi, rasa percaya diri, kemampuan menyelesaikan masalah, hingga ketahanan mental anak ketika menghadapi tekanan kehidupan.
Dalam perspektif Attachment Theory yang dikembangkan oleh John Bowlby, kelekatan emosional yang terbangun antara anak dan figur pengasuh akan membentuk rasa aman (secure attachment). Selama ini, teori tersebut sering dikaitkan dengan hubungan ibu dan anak. Namun berbagai penelitian mutakhir menunjukkan bahwa keterlibatan ayah juga memiliki kontribusi penting dalam membangun kelekatan emosional yang sehat. Anak yang merasakan kehadiran ayah secara konsisten cenderung memiliki keberanian yang lebih tinggi dalam menghadapi lingkungan baru, lebih percaya diri, dan lebih mampu mengelola kecemasan.
Hari pertama sekolah merupakan salah satu fase transisi penting dalam kehidupan anak. Pada fase tersebut, anak memasuki lingkungan sosial yang berbeda dari rumah. Ia akan bertemu guru baru, teman baru, aturan baru, bahkan tantangan baru yang mungkin belum pernah dialami sebelumnya. Tidak mengherankan apabila sebagian anak merasa gugup, takut, bahkan menangis ketika memasuki gerbang sekolah.
Dalam situasi seperti inilah kehadiran ayah memiliki makna yang jauh melampaui aktivitas mengantar. Pelukan hangat, genggaman tangan, senyuman, atau kalimat sederhana seperti "Ayah percaya kamu pasti bisa" dapat menjadi sumber kekuatan psikologis yang membekas dalam ingatan anak hingga bertahun-tahun kemudian. Momen yang berlangsung hanya beberapa menit itu dapat berubah menjadi memori emosional yang terus dikenang sepanjang hidupnya.
Sebaliknya, ketidakhadiran ayah dalam berbagai fase penting kehidupan anak sering kali bukan disebabkan oleh berkurangnya rasa cinta. Banyak ayah sesungguhnya sangat mencintai anak-anaknya, tetapi tidak selalu mampu mengekspresikan kasih sayang tersebut secara terbuka. Sebagaimana lirik Iwan Fals di awal tulisan ini, hubungan ayah dan anak, khususnya anak laki-laki, sering kali dipenuhi rasa saling mencintai, tetapi sama-sama kadangkala tidak mengetahui harus dimulai dari pembicaraan tentang apa untuk mengungkapkan rasa cintanya.
Padahal, bagi seorang anak, ayah merupakan figur pertama yang memperkenalkan makna tanggung jawab, disiplin, keberanian, integritas, dan keteladanan. Anak belajar bukan hanya dari nasihat yang disampaikan ayah, tetapi juga dari perilaku yang ia lihat setiap hari. Oleh karena itu, kehadiran ayah dalam berbagai momen kehidupan anak merupakan bentuk pendidikan karakter yang paling nyata.
Tentu saja, kebijakan publik seperti GAMAS tidak terlepas dari berbagai tanggapan masyarakat. Sebagian mempertanyakan bagaimana dengan anak-anak yang tidak lagi memiliki ayah karena meninggal dunia, perceraian, bekerja di luar kota atau luar negeri, maupun berbagai kondisi keluarga lainnya. Pertanyaan tersebut sangat relevan dan perlu dipahami secara arif.
Prinsip utama GAMAS bukanlah menghadirkan diskriminasi, melainkan menguatkan kesadaran bahwa setiap anak membutuhkan figur pendamping yang memberikan rasa aman pada hari pertamanya di sekolah. Apabila ayah tidak dapat hadir karena kondisi tertentu, maka pendampingan dapat dilakukan oleh orang-orang terdekatnya pula, seperti ibu, kakek, paman, wali, atau figur pengasuh lainnya yang memiliki kedekatan emosional dengan anak. Esensi gerakan ini bukan hanya tentang siapa yang mengantar, melainkan bagaimana anak merasakan bahwa dirinya didukung, dicintai, dan tidak menghadapi hari pertamanya seorang diri.
Kesadaran akan pentingnya keterlibatan ayah juga semakin memperoleh dukungan dalam kebijakan nasional. Pemerintah melalui Surat Imbauan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor B/257/M.KT.02/2026 memberikan imbauan kepada instansi pemerintah untuk mendukung penguatan ketahanan keluarga dengan memberikan kesempatan kepada Aparatur Sipil Negara mengantar anak pada hari pertama sekolah. Kebijakan ini menunjukkan bahwa pembangunan keluarga bukan lagi dipandang sebagai urusan privat semata, tetapi merupakan bagian dari investasi pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
Dalam perspektif pembangunan keluarga, langkah tersebut memiliki makna strategis. Ketahanan keluarga tidak dibangun melalui kebijakan yang besar semata, tetapi juga melalui momen-momen sederhana yang memperkuat hubungan emosional antara orang tua dan anak. Mengantar anak ke sekolah mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Namun, beberapa menit tersebut dapat meninggalkan kesan yang bertahan seumur hidup.
Pada akhirnya, GAMAS mengajarkan satu hal penting bahwa menjadi ayah bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Menjadi ayah juga berarti menyediakan waktu, perhatian, dan kehadiran yang bermakna bagi tumbuh kembang anak. Sebab, bagi seorang anak, hadiah termahal dari seorang ayah bukanlah mainan, gawai, ataupun materi. Hadiah termahal itu adalah kehadiran secara sadar dan berarti (berkualitas).
Barangkali, bertahun-tahun kemudian seorang anak tidak lagi mengingat merek tas yang digunakannya pada hari pertama sekolah. Ia mungkin juga lupa warna sepatu atau buku tulis pertamanya. Namun, sangat mungkin ia akan tetap mengingat siapa yang menggenggam tangannya ketika pertama kali melangkah memasuki gerbang sekolah dan boleh jadi, dari langkah kecil itulah lahir langkah-langkah besar yang akan mengantarkannya menjadi manusia yang percaya diri, berkarakter, dan siap membangun masa depan Indonesia.*