Tari "Makan Diri", Refleksi Hasrat Manusia dalam Tradisi Merantau Hadir di Festival Nan Jombang Tanggal 3

Rabu, 01/07/2026 21:15 WIB
-

-

Padang, sumbarsatu.com — Tradisi merantau yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Minangkabau menjadi titik berangkat lahirnya karya tari kontemporer Makan Diri garapan koreografer Dendi Wardiman.

Karya ini akan dipentaskan oleh Komunitas Ngobrak Padang Panjang dalam Festival Nan Jombang Tanggal 3, Jumat (3/7/2026), di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang, Balai Baru, Kota Padang.

Pertunjukan tersebut menjadi salah satu sajian terbaru dalam Festival Nan Jombang Tanggal 3, program pertunjukan bulanan yang digagas Nan Jombang Dance Company. Selain menjadi agenda rutin di luar penyelenggaraan KABA Festival, program ini telah berlangsung selama 13 tahun secara konsisten sebagai ruang presentasi karya, dialog artistik, dan pengembangan ekosistem seni pertunjukan di Sumatera Barat.

Penyelenggaraan festival mendapat dukungan penuh dari Bakti Budaya Djarum Foundation, yang selama ini berkomitmen mendukung perkembangan seni dan budaya Indonesia.

Melalui Makan Diri, Dendi Wardiman mengajak penonton memasuki ruang refleksi mengenai hasrat manusia yang tidak pernah berhenti bergerak. Inspirasi utama karya ini berasal dari fenomena merantau, sebuah tradisi yang telah lama menjadi bagian dari identitas masyarakat Minangkabau.

Namun, menurut Dendi, karya ini tidak sedang berbicara mengenai perpindahan geografis semata. Merantau dipandang sebagai metafora tentang kecenderungan manusia meninggalkan apa yang dimiliki untuk mengejar sesuatu yang diyakini lebih baik.

"Dari situ saya melihat bahwa manusia selalu terdorong untuk bergerak menuju kemungkinan-kemungkinan baru. Hasrat menjadi kekuatan yang membuat manusia terus melangkah," ujar Dendi Wardiman, Rabu (1/7/2026).

Ia menjelaskan, hasrat dalam karya ini tidak dimaknai sekadar sebagai keinginan memperoleh sesuatu, melainkan energi yang membuat manusia terus mencari, mengejar, mengubah, bahkan melampaui dirinya sendiri.

"Hasrat mendorong manusia untuk bergerak, mencari, mengejar, mengubah, dan melampaui dirinya sendiri. Dalam banyak hal, hasrat menjadi alasan mengapa manusia terus berkembang dan tidak berhenti pada satu keadaan," katanya.

Paradoks yang Tak Pernah Berakhir

Di balik kekuatan hasrat tersebut, Dendi melihat adanya paradoks yang selalu menyertai kehidupan manusia.

Menurutnya, manusia sering meyakini bahwa kehidupan yang lebih baik selalu berada di tempat lain. Apa yang belum dimiliki tampak lebih menjanjikan daripada yang telah dimiliki. Apa yang belum dicapai terasa lebih bernilai dibandingkan apa yang telah berhasil diraih.

Keyakinan itu membuat manusia terus bergerak dari satu tujuan menuju tujuan berikutnya. Namun setiap tujuan yang tercapai justru melahirkan tujuan baru.

"Setiap keberhasilan membuka keinginan berikutnya. Setiap pencapaian menciptakan bentuk pencarian yang lain. Dalam kondisi tersebut, manusia terus berada dalam keadaan menuju tanpa pernah benar-benar tiba. Hasrat tidak pernah berhenti bekerja karena selalu menemukan objek baru untuk dikejar," ujarnya.

Paradoks itulah yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa tubuh melalui eksplorasi gerak para penari.

Tubuh menjadi ruang tempat hasrat bekerja—mendorong, menarik, mengulang, mempertahankan, sekaligus mengarahkan manusia untuk terus bergerak. Gerak tubuh dalam pertunjukan tidak hanya menggambarkan perjalanan menuju sesuatu, tetapi juga memperlihatkan ketegangan antara keinginan untuk mencapai tujuan dengan kenyataan bahwa pencarian itu sendiri tidak pernah benar-benar selesai.

Kursi sebagai Metafora Kehidupan

Salah satu elemen penting dalam pertunjukan adalah kehadiran sebuah kursi. Dalam karya ini, kursi bukan sekadar properti panggung, melainkan metafora berbagai tujuan yang terus dibayangkan manusia.

Kursi dapat dimaknai sebagai harapan, jabatan, pengakuan sosial, pencapaian, kekuasaan, maupun berbagai bentuk keberhasilan lain yang selalu ingin diraih. Namun Dendi menegaskan, kursi tersebut tidak pernah diposisikan sebagai tujuan akhir.

Sebaliknya, keberadaannya justru menjadi penanda bahwa selalu ada sesuatu yang ingin dicapai, sehingga manusia tidak pernah benar-benar berhenti bergerak.

Melalui hubungan tubuh dan kursi, pertunjukan ini mempertanyakan kecenderungan manusia yang meletakkan kebahagiaan, kepuasan, dan makna hidup pada sesuatu yang berada di luar dirinya.

Pertunjukan ini mengajak penonton merenungkan pertanyaan sederhana, tetapi mendasar: apakah semua yang dikejar manusia benar-benar akan mengakhiri pencarian itu? Ataukah justru hasrat membuat manusia terus percaya bahwa kebahagiaan selalu berada sedikit lebih jauh di depan?

Alih-alih memberikan jawaban pasti, Makan Diri membuka ruang kontemplasi bagi setiap penonton untuk menemukan maknanya sendiri.

Direktur Festival Nan Jombang sekaligus kurator festival, Angga Mefri, mengatakan pemilihan karya Makan Diri didasarkan pada kekuatan gagasan yang tetap berpijak pada tradisi Minangkabau meskipun diolah melalui pendekatan tari kontemporer.

Menurutnya, Festival Nan Jombang Tanggal 3 memang dirancang untuk memberi ruang kepada koreografer muda yang menawarkan pembacaan baru terhadap tradisi.

"Karya Makan Diri berangkat dari tradisi Minangkabau yang kental. Ini yang menjadi alasan kuat kami menampilkan karya koreografer Dendi Wardiman sebagai debutnya dalam Festival Nan Jombang Tanggal 3," kata Angga Mefri.

Ia menambahkan, festival tidak hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga wadah pertemuan antara seniman, akademisi, dan masyarakat untuk mendiskusikan perkembangan seni pertunjukan kontemporer yang berakar pada kebudayaan lokal.

Dialog Bersama Penonton

Usai pertunjukan, penonton tidak langsung meninggalkan lokasi. Panitia akan menggelar sesi "Bincang Karya" bersama Dendi Wardiman yang dimoderatori Rasmida. Forum tersebut menjadi kesempatan bagi penonton untuk berdialog langsung mengenai gagasan artistik, proses kreatif, hingga pendekatan koreografi yang melandasi penciptaan Makan Diri.

Diskusi pascapertunjukan telah menjadi tradisi dalam Festival Nan Jombang Tanggal 3. Melalui forum ini, karya seni tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi berkembang menjadi ruang pertukaran gagasan antara seniman dan publik.

Dalam pementasan ini, Dendi Wardiman didukung komposer Avant Garde Dewa Gugat, sementara karya dibawakan oleh empat penari, yakni Alsafitro, Reza Maulidil Akbar, Rahmat Fajar Ramadhan, dan Fazri Arif Saputra.

Seluruh rangkaian Festival Nan Jombang Tanggal 3 terbuka untuk masyarakat umum tanpa dipungut biaya. Nan Jombang  berharap kehadiran publik tidak hanya menjadi bentuk apresiasi terhadap seni pertunjukan, tetapi juga membuka ruang refleksi mengenai persoalan-persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sebagaimana ditawarkan melalui karya Makan Diri.ssc/mn



BACA JUGA