70 Tahun Unand, Hamas Anugerahkan Achievement Award kepada Syarifuddin Arifin

UNAND BERPUISI

Selasa, 02/06/2026 22:41 WIB
Sekretaris Universitas Andalas, Aidinil Zetra, bersama Syarifuddin Arifin didampingi Isa Kurniawan, Koordinator Hamas juga melakukan pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas perjalanan panjang Universitas Andalas yang telah memasuki usia tujuh dekade.

Sekretaris Universitas Andalas, Aidinil Zetra, bersama Syarifuddin Arifin didampingi Isa Kurniawan, Koordinator Hamas juga melakukan pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas perjalanan panjang Universitas Andalas yang telah memasuki usia tujuh dekade.

Padang, sumbarsatu.com--Puisi kembali menemukan rumahnya di kampus. Di tengah suasana akademik yang selama ini identik dengan ruang kuliah, penelitian, dan diskusi ilmiah, kata-kata yang lahir dari perenungan dan pengalaman hidup mendapat tempat terhormat dalam perhelatan Unand Berpuisi yang digelar di Convention Hall Universitas Andalas, Limau Manis, Padang, Selasa (2/6/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan Himpunan Media Sumbar (Hamas) bersama Pusat Studi Humaniora Universitas Andalas itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan 70 tahun Universitas Andalas.

Momentum itu terasa semakin bermakna karena bertepatan dengan 70 tahun usia penyair dan sastrawan ASEAN asal Sumatera Barat, Syarifuddin Arifin. Sosok yang lebih dari lima dekade mengabdikan diri pada dunia sastra tersebut mendapat penghormatan melalui penyerahan Achievement Award atas kontribusinya dalam perkembangan kesusastraan Indonesia, khususnya di Sumatera Barat.

 

Sisi pergaulan humanitasnya, kegiatan yang digawe Hamas ini menjelma menjadi ruang kebudayaan yang mempertemukan penyair, akademisi, mahasiswa, media, dan masyarakat dalam satu ikatan yang sama: kecintaan terhadap sastra dan tradisi intelektual.

“Bagi saya, puisi adalah bagian dari perjalanan hidup, kenangan, dan kecintaan terhadap budaya,” ujar Syarifuddin Arifin di hadapan ratusan peserta yang memenuhi ruangan.

Kalimat sederhana itu seolah merangkum perjalanan panjang seorang penyair yang menjadikan sastra bukan sekadar aktivitas kreatif, melainkan bagian dari laku hidup. Selama puluhan tahun, ia hadir dalam berbagai ruang kebudayaan, menyaksikan perubahan zaman, sekaligus menjaga agar puisi tetap menjadi medium yang menghubungkan manusia dengan pengalaman batinnya.

Perjalanan tersebut turut dikenang oleh Guru Besar Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang, Prof. Indrayuda. Dalam testimoninya, ia menggambarkan Syarifuddin Arifin sebagai sahabat sekaligus rekan diskusi yang telah dikenalnya sejak dekade 1980-an.

Menurutnya, hubungan yang dibangun selama puluhan tahun itu tidak hanya bertumpu pada aktivitas berkesenian, tetapi juga pada tradisi berdiskusi, bertukar gagasan, dan saling memberi kritik yang membangun. Di tengah kesibukan masing-masing, komunikasi dan kedekatan itu tetap terjaga hingga hari ini.

“Beliau adalah seniman yang bersahaja dan ramah. Kedekatan kami terjalin sejak masa muda hingga sekarang,” tutur Indrayuda.

Sepanjang kegiatan, suasana kebudayaan terasa hidup melalui pembacaan puisi yang ditampilkan di atas panggun oleh para penyair, dosen, dan mahasiswa. Nama-nama seperti Andria C. Tamsin, Dadang Leona, Fauzul El Nurca, Syafniwati Cika, dan Rezky Amelia bergantian membacakan karya mereka. Dari kalangan akademisi hadir pula Prof. Rahmi Fahmi, Prof. Henny Herwina, Dr. Noni Sukmawati, dan Dr. Wirdanengsih, sementara generasi muda diwakili oleh mahasiswa yang turut menyuarakan karya-karya mereka.

Perjumpaan lintas generasi tersebut memperlihatkan bahwa sastra masih memiliki ruang hidup yang kuat di lingkungan akademik. Puisi menjadi jembatan yang menghubungkan pengalaman, pengetahuan, dan imajinasi dalam satu ruang dialog yang setara.

Dalam kesempatan itu, Sekretaris Universitas Andalas, Aidinil Zetra, bersama Syarifuddin Arifin didampingi Isa Kurniawan, Koordinator Hamas juga melakukan pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas perjalanan panjang Universitas Andalas yang telah memasuki usia tujuh dekade.

Tujuh puluh tahun bagi sebuah universitas bukanlah perjalanan yang singkat. Ia merupakan akumulasi pengetahuan, tradisi akademik, serta kontribusi yang terus diberikan kepada masyarakat dan bangsa.

"Karena itu, penyelenggaraan Unand Berpuisi menjadi pengingat bahwa kemajuan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kemampuannya merawat kebudayaan dan nilai-nilai kemanusiaan," kata Aidinil Zetra.

Kegiatan ini juga dirangkai dengan peresmian kepengurusan Himpunan Media Sumbar (Hamas), yang ditandai dengan pemasangan seragam kepada para pembina dan penasihat organisasi. Kehadiran komunitas media dalam kegiatan tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi antara dunia akademik, kebudayaan, dan media dalam memperluas ruang apresiasi sastra di tengah masyarakat.

Melalui Unand Berpuisi, Universitas Andalas tidak hanya merayakan usia, tetapi juga merawat tradisi intelektual yang bertumpu pada kebudayaan. Sebab di balik setiap kemajuan peradaban, selalu ada kata-kata yang menjaga ingatan, menumbuhkan kesadaran, da n menghubungkan manusia dengan akar kemanusiaannya.

Riri Satria, dalam ceramahnya dengan judul presentasi “Deepfake AI dan Disrupsi Dunia Kepenulisan, Kepenyairan, dan Kebudayaan”, memaparkan berbagai tantangan dan perubahan yang dihadapi dunia sastra dan kebudayaan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

"Saya mengajak peserta untuk menyikapi perubahan tersebut secara kritis tanpa kehilangan nilai-nilai kreativitas, etika, dan kemanusiaan dalam proses berkaryam" ajak sosok yang juga seorang penyair dan penulis ini.

Menjelang akhir acara, Kelompok 3 Tambud yang terdiri atas Boyke Sulaiman, Ikhsan Rosha, dan Nurul Widya Ningsih menghadirkan musikal puisi yang memukau. Perpaduan musik dan pembacaan puisi itu menjadi penutup yang menghangatkan suasana sekaligus menegaskan bahwa sastra tidak hanya hidup di halaman buku, tetapi juga di atas panggung, di ruang perjumpaan, dan dalam ingatan kolektif masyarakat.

Terlihat hadir, jajaran perwakilan Dinas Kebudayaan Sumatera Barat, Harris Effendi Thahar (sastrawan), Dr. Sheiful Yazan dari UIN Imam Bonjol Padang, M Yunis, Zulqaiyim, Khairil Anwar, ketiganya dari FIB Unand, Aprimas, Irfendi Arbi, Edy Utama dan Syuhendri Datuak Siri Marajo dari kalangan ninik mamak. Juga dilengkapi jajaran Pengurus  Himpunan Media Sumbar (Hamas).ssc/mn

 



BACA JUGA