pus
Padang, sumbarsatu.com — Perpustakaan Universitas Andalas (Unand) berubah menjadi ruang lintas waktu pada Jumat (26/6/2026). Bertempat di Lantai 2 The Gade Creative Lounge (TGCL), puluhan karya mahasiswa Departemen Ilmu Sejarah Unand dipamerkan kepada publik melalui sebuah pameran bertajuk Visualisasi Sejarah.
Pameran tersebut merupakan hasil kolaborasi mahasiswa dari tiga mata kuliah, yakni Digital Humaniora, Sejarah Modernitas dan Gaya Hidup di Indonesia, serta Sejarah Kebencanaan dan Mitigasi. Di bawah bimbingan dua dosen pengampu, Prof. Yenny Narny, M.A., Ph.D., dan Ahmad Muhajir, M.Hum., mahasiswa didorong menghadirkan sejarah melalui pendekatan yang lebih kreatif, inovatif, dan dekat dengan masyarakat.
Melalui pameran ini, sejarah tidak lagi hanya disajikan dalam bentuk teks akademik atau narasi buku. Berbagai peristiwa masa lalu diterjemahkan ke dalam beragam medium visual, mulai dari film dokumenter, fotografi, buku bergambar, hingga pemetaan geospasial.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa sejarah dapat dikemas secara lebih hidup, komunikatif, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Pameran dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. Eng. Ir. Febrin Anas Ismail, M.T., dosen Teknik Sipil Universitas Andalas yang saat ini menjabat sebagai Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Andalas. Dalam sambutannya, Prof. Febrin mengapresiasi kreativitas mahasiswa yang mampu menghadirkan sejarah melalui media yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Menurutnya, sejarah pada era sekarang tidak lagi hanya dapat dinikmati melalui tulisan, tetapi juga dapat disampaikan melalui media audiovisual yang lebih menarik dan mampu menjangkau khalayak yang lebih luas.
Salah satu daya tarik utama pameran ini adalah deretan film dokumenter bertema kebencanaan. Film-film tersebut tidak sekadar menjadi pemenuhan tugas akademik, tetapi juga berfungsi sebagai media pembelajaran sekaligus ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pengalaman mereka dalam menghadapi bencana.
Melalui dokumenter tersebut, mahasiswa menegaskan bahwa ingatan kolektif masyarakat merupakan sumber sejarah yang penting, sahih, dan perlu terus dirawat agar tidak hilang ditelan waktu serta tetap menjadi pelajaran bagi generasi mendatang.
Beberapa film dokumenter yang diputar di antaranya Antara Sungai dan Harapan, Ketika Sungai Tak Lagi Memberi, Harapan Kecil Rakyat Guo, Memori Kolektif, dan Relasi Manusia dan Alam. Lewat karya-karya tersebut, mahasiswa merekam hubungan antara manusia, lingkungan, bencana, serta harapan masyarakat dalam menghadapi perubahan sosial maupun ekologis.
Selain film dokumenter, pameran juga menampilkan lebih dari 20 karya fotografi yang mendokumentasikan perubahan gaya hidup masyarakat. Di antaranya karya Budi Utama berjudul Penghakiman Giran Sani yang diabadikan saat pertunjukan teater Komunitas Seni Gaung Ganto di Panggung Nan Jombang.
Ada pula karya Firmansyah bertajuk Pasar yang Mulai Ditinggalkan serta karya Nazwa Annisa berjudul Jamu di Era Modern yang merekam dinamika perubahan budaya di tengah modernisasi.
Pengunjung juga dapat menikmati buku bergambar berjudul Merawat Ingatan, Menyulam Harapan: Kisah Lansia saat Galodo di Gurun Laweh Nanggalo. Buku tersebut mengangkat pengalaman para lansia dalam menghadapi bencana galodo, sekaligus memperlihatkan bagaimana ingatan personal dapat menjadi bagian penting dari sejarah sosial masyarakat.
Tidak hanya menghadirkan dokumentasi visual, mahasiswa Ilmu Sejarah Unand juga memamerkan peta kebencanaan kontemporer berbasis teknologi digital. Peta tersebut memuat informasi mengenai rumah-rumah terdampak di Tanjung Sawah, Nagari Padang Laweh Malalo, luas wilayah bencana, hingga pembaruan kondisi lapangan secara real-time.
Karya ini menjadi salah satu inovasi yang memperlihatkan kemampuan mahasiswa mengintegrasikan kajian sejarah dengan teknologi pemetaan digital.
Melalui pameran ini, mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Andalas ingin menyampaikan bahwa mempelajari sejarah bukan sekadar menghafal angka tahun atau mengenang peristiwa masa lalu.
Lebih dari itu, sejarah merupakan cara merawat ingatan kolektif, memahami pengalaman manusia, membaca perubahan zaman, serta menyulam harapan untuk masa depan.ssc