-
Jakarta, sumbarsatu.com--Di berbagai negara Eropa, perubahan penting sedang berlangsung dalam dunia pendidikan. Setelah bertahun-tahun mendorong digitalisasi ruang kelas secara masif, sejumlah negara seperti Swedia, Finlandia, Norwegia, Prancis, Italia, dan Denmark mulai mengevaluasi kembali penggunaan perangkat digital secara berlebihan dalam proses belajar mengajar.
Buku teks cetak, kegiatan membaca secara mendalam, serta kebiasaan menulis tangan kini kembali mendapat tempat di ruang kelas. Pergeseran ini didorong oleh semakin banyak hasil penelitian yang menunjukkan bahwa proses belajar melalui media cetak mampu meningkatkan konsentrasi, memperkuat daya ingat, serta memperdalam pemahaman siswa dibandingkan pembelajaran yang sepenuhnya bergantung pada layar digital.
Swedia menjadi salah satu contoh paling menonjol. Pada 2023, pemerintah negara tersebut mengubah kebijakan pendidikannya dengan mengurangi ketergantungan pada pembelajaran berbasis tablet dan kembali mengalokasikan anggaran yang besar untuk penyediaan buku teks cetak di sekolah.
Perubahan tersebut memberikan pelajaran penting bahwa pendidikan tidak semata-mata bertujuan menyampaikan informasi secepat mungkin. Pendidikan pada hakikatnya merupakan proses membangun perhatian, kemampuan menafsirkan, refleksi, serta pembentukan pemahaman yang berlangsung secara bertahap.
Atas dasar pemikiran itulah Center for Market Education bekerja sama dengan Monolateral menerbitkan dua buku yang dirancang untuk mendukung pembelajaran ekonomi dari perspektif yang lebih humanis, yakni Hermeneutical Political Economy: An Introductory Textbook dan Economics: The Interpretative Science of Human Flourishing.
Kedua buku tersebut ditujukan bagi mahasiswa, dosen, peneliti, maupun pembaca umum yang ingin mempelajari ekonomi sebagai ilmu yang berpusat pada manusia.
Selama ini, ekonomi sering kali diajarkan seolah-olah sistem ekonomi merupakan sebuah mesin mekanis yang bekerja melalui kumpulan variabel, persamaan matematis, dan hubungan sebab-akibat yang bersifat otomatis.
Dalam pendekatan semacam itu, manusia sebagai pelaku ekonomi justru kerap menghilang di balik angka-angka statistik, model ekonomi, dan berbagai agregat makro.
Padahal, aktivitas ekonomi sesungguhnya lahir dari tindakan manusia. Pasar bukanlah mesin yang bekerja sendiri, melainkan hasil interaksi individu yang memiliki harapan, keinginan, ekspektasi, kreativitas, kemampuan beradaptasi, serta cara masing-masing dalam memahami dunia yang penuh ketidakpastian.
Melalui perspektif tersebut, Hermeneutical Political Economy: An Introductory Textbook memperkenalkan landasan metodologis dan filosofis ekonomi interpretatif. Buku ini mengajak pembaca memahami bahwa fenomena ekonomi tidak dapat dilepaskan dari makna yang dibangun oleh para pelakunya.
Keputusan ekonomi selalu dipengaruhi oleh bagaimana seseorang menafsirkan situasi yang dihadapi serta bagaimana ia membayangkan masa depannya.
Sementara itu, Economics: The Interpretative Science of Human Flourishing mengembangkan pendekatan tersebut ke dalam berbagai bidang kajian ekonomi yang lebih aplikatif.
Buku ini membahas siklus bisnis, teori modal, kebijakan moneter, kewirausahaan, inovasi, hingga pentingnya institusi yang memungkinkan individu maupun masyarakat berkembang secara optimal.
Dengan demikian, kedua buku tersebut saling melengkapi. Buku pertama memberikan fondasi metodologis mengenai ekonomi interpretatif, sedangkan buku kedua menunjukkan bagaimana pendekatan tersebut diterapkan untuk menjelaskan berbagai persoalan ekonomi kontemporer.
Menariknya, upaya memperkenalkan gagasan tersebut tidak hanya dilakukan melalui buku. Untuk menjangkau pembaca yang lebih luas, penulis juga menghadirkan dua lagu yang terinspirasi dari tema utama kedua buku tersebut, yaitu Meaning Before Measure dan Markets Are Human Dreams. Melalui medium musik, gagasan ekonomi yang sering dipandang rumit dihadirkan dalam bentuk yang lebih ringan, komunikatif, dan mudah dipahami.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa penyebaran ilmu pengetahuan tidak harus selalu berlangsung melalui cara-cara akademik yang formal. Seni juga dapat menjadi media yang efektif untuk mengkomunikasikan gagasan, membangun imajinasi, dan mengundang refleksi.
Ketika dunia pendidikan mulai kembali menyadari pentingnya membaca secara mendalam, menulis tangan, serta membangun perhatian yang berkelanjutan, pendekatan ekonomi yang lebih berpusat pada manusia menjadi semakin relevan.
Pendidikan ekonomi tidak cukup hanya mengajarkan bagaimana pasar bekerja, tetapi juga harus membantu peserta didik memahami mengapa manusia mengambil keputusan ekonomi, bagaimana mereka memberi makna terhadap pilihan-pilihannya, dan bagaimana ekonomi pada akhirnya bertujuan menciptakan kesejahteraan manusia.
Pada akhirnya, pembelajaran ekonomi tidak hanya memerlukan ketepatan analisis, tetapi juga kedalaman pemahaman terhadap manusia sebagai subjek utama kehidupan ekonomi. Sebab, ekonomi bukan semata-mata ilmu tentang angka, melainkan ilmu tentang manusia yang berusaha mewujudkan kehidupan yang lebih baik.ssc/mn