Pameran Fotografi Esai Angkat Tradisi Sepak Rago Tinggi sebagai Warisan Budaya Kuantan Singingi

Sabtu, 18/07/2026 08:07 WIB
-

-

Padang Panjang, sumbarsatu.com — Mahasiswi Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Rizkika Aulia, mengangkat permainan tradisional Sepak Rago Tinggi dari Kenegerian Kopah, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, melalui pameran fotografi esai bertajuk "Seragoti: Berakar, Bertumbuh, Berlanjut".

Pameran tersebut merupakan luaran penelitian berjudul "Penciptaan Fotografi Esai pada Prosesi Budaya Permainan Sepak Rago Tinggi sebagai Media Promosi Kebudayaan dan Pariwisata Kuantan Singingi."

Sebanyak 35 karya fotografi disusun dalam format esai visual yang saling terhubung, membentuk alur cerita utuh mulai dari persiapan, pelaksanaan, hingga penutup prosesi budaya. Melalui rangkaian gambar tersebut, pengunjung diajak memahami tidak hanya jalannya permainan, tetapi juga nilai-nilai tradisi, kebersamaan, dan identitas budaya masyarakat Kenegerian Kopah.

Persiapan pameran dimulai sejak 11 Juli 2026 dengan mengusung konsep ruang berbentuk labirin. Konsep ini dirancang agar pengunjung menelusuri karya secara bertahap sehingga pengalaman menikmati cerita visual menjadi lebih mendalam.

Nama Seragoti merupakan akronim dari Sepak Rago Tinggi, sekaligus merepresentasikan semangat menjaga tradisi agar tetap berakar, terus bertumbuh, dan berlanjut di tengah perubahan zaman.

Pameran resmi dibuka pada 13 Juli 2026 oleh Direktur Pascasarjana ISI Padangpanjang, Dr. Rasmida, S.Sn., M.Sn., melalui prosesi pengguntingan pita. Pembukaan tersebut menjadi simbol dimulainya ruang apresiasi terhadap karya fotografi yang mendokumentasikan salah satu warisan budaya masyarakat Kuantan Singingi.

Rizkika berharap permainan Sepak Rago Tinggi terus dikenal dan diwariskan kepada generasi muda. Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui praktik permainan, tetapi juga membutuhkan dokumentasi kreatif yang mampu memperkenalkan nilai-nilai tradisi kepada masyarakat luas.

Ia juga mendorong pemerintah daerah bersama komunitas pelestari budaya, seperti Pusako, memperkuat promosi permainan tradisional tersebut melalui berbagai program kolaboratif, termasuk penyelenggaraan lomba fotografi dan videografi bertema budaya.

Menurut Rizkika, dokumentasi visual bukan hanya berfungsi sebagai media promosi, tetapi juga menjadi arsip kebudayaan yang penting. Melalui dokumentasi yang tersusun secara sistematis, warisan budaya tidak hanya hidup dalam ingatan kolektif masyarakat, tetapi juga dapat dipelajari, diwariskan, dan terus diperkenalkan kepada generasi mendatang.ssc/rel



BACA JUGA