tiga
Dear Rismon,
Ingatkah kamu, tanggal 15 April 2025.
Ruang 109 Fakultas Kehutanan UGM. Kita duduk bertiga: aku, kamu, dan dan mas Roy Suryo.
Pertama kali tiga pasang mata kita dan tiga pasang tangan kita, menyaksikan dan memegang skripsi palsu milik Joko Widodo. Hari itu bukan sekadar hari pertemuan pertama.
Hari itu adalah titik mula sebuah perjalanan yang tidak ringan, bahkan mungkin terlalu berat untuk manusia biasa. Dan sejak hari itu, kita bukan lagi sekadar rekan seperjuangan. Kita menjadi tiga sahabat. Aku dan Mas Roy, menganggapmu bukan hanya partner dalam mencari kebenaran, tapi adik kami sendiri.
Ada rasa ingin menjaga. Ada rasa percaya yang tumbuh tanpa dibuat-buat. Ada keyakinan bahwa kita bertiga adalah satu barisan kecil yang tak akan terpisahkan.
Aku masih ingat caramu berbicara waktu itu, penuh keyakinan, penuh api. Seolah kita semua adalah bagian dari barisan kecil yang ditakdirkan untuk menyalakan terang di tengah gelap yang sudah terlalu lama dibiarkan.
Kita tertawa. Kita berdiskusi. Kita merancang langkah-langkah. Dan di antara semua itu, tidak ada sedikit pun keraguan bahwa kita berada di sisi yang benar. Tapi Rismon, jalan yang kita pilih ternyata bukan jalan lurus. Ia berkelok. Ia gelap. Ia penuh jebakan. Dan yang paling menyakitkan, kadang bukan musuh di depan yang melukai, tapi perubahan arah dari mereka yang dulu berjalan di samping kita.
Ada satu bagian dari perjalanan ini yang sampai hari ini masih mengganjal, dan jujur saja, itu yang paling membuat hati ini terasa berat. Tentang ijazah Yamaguchi itu. Tentang surat keterangan kematian yang dikabarkan lawan kita.
Hal-hal yang, aku tahu, membuatmu berada dalam posisi yang tidak mudah. Mungkin kamu merasa terancam. Mungkin kamu merasa sendirian. Mungkin kamu takut. Tapi justru di situlah, seharusnya kamu kembali ke kami. Mengapa kamu tidak bicara. Mengapa kamu memilih diam, lalu berbalik arah? Padahal sejak awal, kita berjalan bukan sebagai orang asing.
Kita berjalan sebagai tiga sahabat. Aku dan Mas Roy sudah menganggapmu sebagai adik, yang seharusnya bisa datang kapan saja, membawa beban seberat apa pun, tanpa takut dihakimi. Kalau memang di masa lalu ada yang pernah keliru, kalau pernah ada kebohongan, kalau pernah ada langkah yang salah, itu bukan akhir dari segalanya, Rismon.
Tidak ada manusia yang bersih tanpa cela. Dan tidak ada masalah yang benar-benar buntu, jika kita hadapi bersama, dengan jujur. Kita bisa cari jalan keluar. Kita bisa berdiri bersama. Kita bisa memperbaiki, apa pun itu. Tapi yang terjadi, justru sebaliknya.
Kamu memilih jalan sendiri. Kamu menjauh. Dan pada titik tertentu… kamu berdiri di sisi yang berseberangan. Bahkan kamu sekarang memusuhi kami. Dan di sinilah pertanyaan itu tak bisa lagi aku tahan: Mengapa kamu berkhianat? Bukan hanya kepada kami. Bukan hanya kepada persahabatan yang kita bangun dengan tulus… Tapi juga kepada begitu banyak orang yang menggantungkan harapan pada perjuangan ini.
Pada rakyat. Pada kebenaran yang seharusnya kita jaga bersama. Apakah semua ini sepadan, Rismon? Apakah rasa takut itu lebih besar daripada nilai kebenaran yang dulu kamu perjuangkan dengan penuh keyakinan?
Aku tidak menulis ini dengan amarah. Aku menulis ini dengan luka. Karena kehilangan seorang lawan itu biasa. Tapi kehilangan seorang adik dalam perjuangan, itu jauh lebih dalam rasanya. Namun satu hal yang harus kamu tahu, kebenaran tidak pernah berubah, meski manusia bisa. Dan pintu untuk kembali pada kebenaran, tidak pernah tertutup.
Seberat apa pun langkah yang sudah kamu ambil, selama masih ada keberanian untuk jujur, selalu ada jalan pulang. Jika suatu hari nanti kamu kembali melihat ke belakang, ingatlah satu hal: Kita pernah menjadi tiga sahabat.
Kita pernah berdiri di titik yang sama, dengan hati yang bersih, dan niat yang lurus. Tak akan bisa dihapus oleh apa pun. Aku, dr Tifa, menulis ini untukmu, Rismon, dengan pilu yang tak terucap.*
Sumber: akun X Dokter Tifa @DokterTifa